Tulis Apa?

Beberapa hari belakangan ini, gue selalu bertanya-tanya akan satu hal. Pertanyaan itu adalah, “Tulis apa?”

Sebenernya gue lagi bingung harus menulis apa. Tatkala diharuskan menginap di rumah sakit, gue punya hasrat besar untuk menulis. Sayangnya di sana nggak ada media untuk melakukan itu semua. You know what, gue cuma kepingin menulis. Menulis kayak dulu. Nggak usah mikir, nulis aja. Menulis sebagai terapi akan penatnya kehidupan! (Halah, apa banget deh bahasa gue.)

Dan, banyak banget ide cerita di kepala gue. Tapi gue terlalu payah mengeksekusinya. Bayangan gue selalu bercokol tentang standar yang gue punya. Geez, gue nggak ngerti kenapa gue begitu membenci tiap kata yang gue tulis. Ada naskah berjudul Wooing Wu, yang sejauh ini jadi favorit saat gue posting di laman GWP dan blog. Ada naskah berjudul Last Lullaby yang plotnya sudah jadi. Ada Goldigirl yang dari dulu pengin gue tulis. Ada Sparks of Nightscape sebagai naskah utang kehidupan kampus.

Lalu, mana yang harus ditulis? Gue selalu berusaha menulis. Satu hari satu paragraf. Tapi saat gue baca ulang, kenapa rasanya sucks banget ya? Rasanya tertekan. Gue pun coba baca novel, berharap gue dapet pemicu untuk nulis. Tapi sama aja. Apa karena gue punya pakem sendiri buat nulis? Atau sebenernya gue nggak tahu hantu menulis gue itu bentuknya seperti apa? Ah. Entahlah. Gue cuma pengin menulis. Semoga ada satu naskah yang bisa selesai tahun ini. Cuma pengin itu aja.

Kenalin, “Kata Kota Kita”

Whazzup?

Rasanya udah lama nggak bercerita ngalor-ngidul di blog pribadi kesayangan ini. Tampaknya saya harus bebersih. Mungkin nanti (nanti aja terus, tapi nggak pernah diliat), hehe.

So, kali ini gue bakal ceritain soal buku kumpulan cerpen “Kata Kota Kita”, antalogi di mana gue menyumbang satu cerpen di sana. And as always, gue pake nama pena kesayangan gue yaitu Tsaki Daruchi.

Sebenernya, proyek keroyokan ini udah dikasih dari tahun lalu, setelah kami menyelesaikan novel estafet Gramedia Writing Project. Tapi, di sini semua finalis disuruh buat cerpen, termasuk gue.

Gue pun dengan semangat menulis cerpen yang harus berlatarkan kota.

Awalnya, gue memilih Mojokerto dengan gaya menulis gue seperti biasa. Genre-nya pun bisa dibilang young adult yang ngepop. Dan entah kenapa akhirnya gue tertarik untuk bereksperimen dengan mengambil setting tempat Ankara, Turki.

Kenapa Ankara? Entahlah, ide ini tercetus begitu aja, Randomly cuma karena gue abis ngobrol sama Erdem Agabey yang orang Turki, gue pinjem nama dia buat di cerpen ini. Dan gue pun mencoba bereksperimen?

Kenapa bereksperimen?

Karena gue nggak memakai gaya bahasa menulis gue di sini. Yeah, yeah. Kalau kalian baca Wattpad atau blog gue, gue emang ngepop. Dan di sini, gue nggak ngepop. Nggak bisa dibilang sastra juga karena sebenarnya gue agak baku berceritanya. Mungkin karena latar luar negeri kali ya?

Dan beberapa minggu yang lalu, Kumcer ini pun di-launching di Gramedia Central Park.

Dan sampai sekarang, gue masih suka bacain review dari pembaca cerpen ini. Alhamdulillah sih banyak yang suka sama cerpen gue. At least, eksperimen gue nggak jelek-jelek amat. Soalnya pas gue baca lagi… cerpen gue kok rasanya paling jelek di antara yang lain… *tutup muka karena malu*

Apalagi kalau disandingin sama cerpennya Idawati Zhang (my fav short story, meskipun gue nggak dapet setting yang cetar, tapi karena jalinan ceritanya begitu kuat), Emilya Kusnaidi (love her writing style!), Lily Marlyna (jeez, pilihan katanya keren banget di kumcer ini), juga yang lainnya.

Nggak apa-apalah ya. Belajar.

Omong-omong, nulis cerpen “Ankara di Bawah Purnama” itu sampai revisi tiga kali lho! Jadi, editor novel Hujan Daun-Daun kan Mbak Nina, maka dari itu gue kirim ke Mbak Nina. Dan Mbak Nina syok dengan cerita gue yang nggak ada remaja-remajanya sama sekali. Maaf ya, Mbak Nina… padahal keterima di GWP karena genre remaja… Akhirnya, Mbak Nina setor ke Ci Hetih Rusli. And then, dieditlah cerpen gue sama beliau. Bahkan untuk revisi pertama, nyaris ada dua halaman catatan dari Ci Hetih dan Mbak Nina. Emagod. Tapi nggak apa-apa. Proses. Dan gue suka belajar! Lalu direvisi lagi, dan akhirnya revisi terakhir cuma diminta nambahin satu paragraf.

Well, tapi yang harus gue ingat adalah emang nggak semua penulis yang bisa memenuhi semua keinginan pembaca. Gue baca ada yang suka cerpen gue, ada yang bilang mindblowing segala, ada yang bilang my choice of words make her stupid af, suka pengibaratan yang gue pake, dan lain sebagainya. Anyway, lo bisa liat review Kata Kota Kita di https://www.goodreads.com/book/show/25189240-kata-kota-kita!

Tapi tetap senang mengisahkan cerita ini. Karena bagaimanapun juga, gue ngasih sebuah “pesan” yang moga-moga aja bisa diterima. Yeah, meskipun adegan pertama cerpen gue diawali oleh adegan ranjang! Hehehe.

Omong-omong soal novel…

Mana novel solo gue? Mana? Kapan selesainya? Bahkan sekarang udah ada GWP batch 2!!!

Kalau kata Ci Hetih, gue ini banyak maunya. Kebanyakan ide dan akhirnya nggak nulis. Iya, sih. Bener banget. Hiks. You can check my writings here: https://gwp.co.id/author/TsakiDaruchi or https://tsakidaruchi.blogspot.com!

Lagi mau remake naskah Wooing Wu sebenarnya. Tapi ya gitu deh, gue sok sibuk. Hahaha.

Terus lucunya, Putra Zaman, my partner in writing, lagi main ke Jakarta, dan mampir ke kantor GPU. Terus tiba-tiba nongol-lah para editor cantik: Ci Hetih, Mbak Nina, Kak Asty, dan Mbak Didiet. Dan sampai pada kesimpulan… kami—gue dan Putra—harus nulis bareng biar nggak malas. Mereka mau buatin plot buat kami dan lalala, lahirlah proyek menulis agar kami menulis estafet berdua. Tapi meskipun begitu, gue bakal tetap berusaha nulis novel lagi ah! Hahaha…

Udah ah curhatnya. Bye!

Teruntuk Musa (Surat Kedua)

6134_1031075837097_1831417820_62243_6481595_n

Untuk Sukma Musa Antaprawiradiredja 

Apa kabar, Mus?

Entah kenapa gue lebih suka manggil lo Musa ketimbang Kinoy atau Sukma. Sukma sounds like a girl, and I know how jerk you are and that feminine name doesn’t suit you. And you know what, I choose your name to become a main character for my writing, ya know? With your ego, and it get a big spot for my next writing.

Yeah, yeah. Kita kenal kayak orang tolol yang kecanduan Friendster. Geez. Friendster? It sounds like a fool thing, dan gue rasa mungkin bakalan banyak yang nyengir ngebego-begoin sosial media saat itu. Lagi pula, lo sendiri kan yang add gue? Dan ternyata lo mutual friend sama Indra.

Lucu ya.

Umur lo masih muda, cuma beda dua tahun sama gue. Tapi lo udah dapet gelar bachelor dengan jurusan yang… errr… biomedicine? Jurusan yang sangat antah berantah buat gue karena waktu gue SMA—saat itu, gue masuk IPS dan anti sama yang namanya ilmu ekstakta dan rasanya biomedicine yang kata lo saat itu nggak ada jurusannya di Indonesia—bahkan sampai saat ini.

Heran, apa sih Addison disaese itu? Yeah, yeah, otak gue terlalu kerdil untuk tahu itu apa. Sempat googling dan gue tetap nggak mengerti. Yang jelas, di benak gue, penyakit itu yang buat lo pergi lebih cepat. Bergegas lebih cepat. Tenang lebih cepat.

Ah, sudahlah. That Addison thingy make me sick.

Lucunya, sebelum lo benar-benar pergi, lo satu-satunya yang nemenin gue ngobrol banyak hal. Tentang hidup, tentang nggak boleh menyerah—masih terekam jelas saat itu gue belum kuliah di mana akhirnya gue jualan roti unyil dan lo bilang gue bisa masuk UI, tentang prom nite sekolah gue yang nggak oke, tentang restoran all you can eat yang bakal kita datengin, tentang Harry Potter, tentang Jane Austen, tentang tulisan gue yang terlalu cheesy, dan banyak hal.

Lalu, tanpa sebab, lo bilang lo takut. Karena pencapaian yang lo dapat bakalan terenggus begitu saja karena… well, I still can understand about bayi tabung or Addison thing. Lo bilang untuk sementara waktu nggak bakal bisa dihubungi. Lo bilang hanya Yahoo Messager yang bisa buat lo terkoneksi. Dan bham, selama tiga minggu lo nggak ada kabar.

Lalu, ada SMS.

SMS dari Indra yang bilang kalau lo sudah pergi.

Man, lo bukan laki-laki karena lo nggak menepati janji lo.

Untuk cobain kereta ekonomi—sebelum ada Commuter Line seperti sekarang—ikut gue ambil roti unyil di Bogor.

Untuk  kasih gue action figure Harry Potter.

Untuk pinjamin gue novel-novel klasik macam Jane Austen.

Untuk ajarin gue speaking English.

Untuk… bermacam-macam hal yang sayangnya nggak bakalan pernah bisa dilakukan setelah lo pergi.

Kematian itu memang aneh, ya.

Apalagi sebelumnya ketika lo terasa begitu dekat dengan seseorang. Lalu setelahnya orang itu nggak lagi ada di bawah langit yang sama.

Yeah, yeah. Gue tahu. Lo pasti bakalan bilang kalau sepatutnya gue coba ubah sudut pandang, coba ngeliat dari sisi orang yang meninggalkan. Tapi lo juga harus tahu kalau dari sisi orang yang ditinggalkan itu lebih berat. Even with hundred excuses, it still hurts.

Gue menulis surat ini juga sebagai penghormatan buat lo, Mus. Sudah… lima tahun lebih setelah lo pergi ya. Cepat. Dan rasanya gue layak berbagi kisah setelah lima tahun gue tertempa di “akademi” kehidupan ini.

Mungkin gue nggak bisa, bahkan belum pernah, ke Melbourne untuk ke pemakaman lo. Gue hanya tahu dari Kakak lo, Kak Aisha, yang memberitahu lo kabar ini. Juga yang jadi teman chatting gue selanjutnya soal kegalauan gue soal PTN, UAS, dan sebagainya. Dan sekarang pun tampaknya sudah sukar dihubungi.

Tapi gue yakin kita bakal bisa bertemu lagi. Entah di dunia atau dimensi yang mana, gue yakin itu. Dan selanjutnya gue bakal cabut kata-kata gue karena ternyata lo bisa menepati janji lo.

Masih kata-kata yang sama untuk mengakhir surat ini, Mus.

Lo itu sahabat yang lekat di hati.

Un’amica cara nel cuore.

 

Salam hangat,

Tri Saputra Sakti

Teruntuk Lan… (Surat Pertama)

Selamat malam, Lan.

Mungkin ini bukan pertama kalinya aku menulis surat, mengkristalkan pikiranku lewat aksara, bukannya menemuimu dan berdeklarasi langsung. Tapi kau tentu tahu, aku tidak pandai memverbalkan apa yang kurasakan lewat tindakan.

Masihkah kau suka akan pendar bintang yang nyalang tatkala malam begitu cerah? Ah, bodohnya aku menanyakan hal itu kepadamu. Kebiasaan itu tidak akan berubah, bukan? Apa kau masih ingat bahwa aku kerap memergokimu bermonolog, lalu kau bilang kau sedang berbicara dengan bintang yang paling bersinar?

Dan saat-saat itulah yang kurindukan, Lan. Saat frekuensi pertemuan kita masih sering. Tatkala melihat senyummu adalah sesuatu yang tak langka. Waktu lampau yang begitu candu, bahkan sampai sekarang, di mana melihat bayangmu tak lagi ada.

Kata orang, I have to move on.

Tapi bagaimana aku bisa bergerak sementara imajinasi tentangmu lekat mengikat kedua kakiku sehingga aku tak bisa lagi melangkah?

Bahkan aku sama sekali tidak pernah sadar saat benakku mulai kausinggahi. Bahwa eksistensimu membuat semua ragaku kaku tak dapat bergerak. Jadi mana mungkin kalau aku bisa move on? Dan mungkin, kau tak pernah sadar, ya, Lan? Kau tak pernah tahu bahwa kau selalu memesona. Pesona mematikan yang selalu membuatku bisu. Membuat lidahku kelu padahal seharusnya aku adalah laki-laki cerewet yang mudah bermain dengan kata-kata.

Lucu, ya. Maksudku, perasaan itu begitu lucu. Apakah kau tak pernah merasa seperti itu, Lan?

Tidak. Jangan tergelak saat kau membaca surat pengakuan ini.

Baiklah, aku akan mengaku bahwa aku seringkali berkata-kata, memikirkan kata-kata manis, menjadikan dirimu sebagai tokoh utama. Sebagai salah satu karakter wanita paling ideal. Tapi mungkin sebenarnya aku tak pernah menjadi tokoh yang selalu kauinginkan di kehidupanmu.

Bolehlah kaukatakan aku ini menyedihkan.

Tapi, kalaupun dengan menjadi menyedihkan begini membuat secuil atensimu tertuju kepadaku, aku rela.

Ah, sudahlah. Aku terlalu melantur ke mana-mana. Kuharap kau tetap membaca surat-suratku nantinya. Mungkin surat pertama ini aku terkesan memujamu. Dan di lain kesempatan, di surat selanjutnya, aku akan mengisahkan bagaimana caranya kau mengusik kalbuku, Lan.

Semoga kau tidak gumoh saat membaca ini.

Salam hangat,

Tsaki.

Me, My Feet, My Steps, and My Goal.

Before you read, you have to notice that…

  1. Konten ini hanya asumsi pribadi penulis menurut pengalamannya sebagai pelari super  amatiran.
  2. Too much blabbering, kalau nggak kuat monggoh di-close.
  3. Tapi kalau bisa dibaca sampai habis, hehe.
  4. I wrote it randomly. Without plotting. Iya karena seadanya aja di otak.

Yang saya ingat, atensi saya tertuju pada profile picture BBM teman SD saya, Hasbi. Saya tertarik dengan gambar LibuRUN  yang diprakarsai oleh IndoRunners Jakarta Barat. Jakarta Barat? Makin interesting. Lokasi kumpulnya pun di Central Park, nggak terlalu jauh dari rumah. Saya pun langsung nge-BBM Hasbi, tanya soal itu. Ternyata, dia juga bukan member lama di sana. Sama-sama baru tahu informasinya. Akhirnya, saya dan dia memutuskan untuk ikutan SuMoRun tersebut. At least, saya ada temen ngobrolnya deh sama Hasbi. Saya langsung meluncur ke Facebook untuk join grup ini.

LIBURUN

(LIBURUN, Gambar yang buat saya tertarik!)

Dan ketika ikut, saya cukup jiper ya. Ehem. Pertama, saya cukup sulit untuk nge-blend dengan orang-orang baru. Kedua, yang lain kayaknya memang into running banget. Looked at their appearances: jersey and running shoes. Saya cuma pakai kaus biasa, shorts, dan sepatu kets. Sebelumnya sempat kenalan sama Mas Memet yang jadi adminnya. But still, I felt like an outsider. Ya soalnya mereka kayaknya sudah saling kenal sementara saya… Ngg… Stuttering as hell.

Dan bodoh juga sih, waktu pertama ngumpul, saya malah pulang duluan ninggalin Hasbi yang larinya memang lama (peace ya, Boy!). Apalagi saya nitipin dompet dan tab saya ke  tas Hasbi. Mikir nggak punya uang buat beli minum karena haus! Eh ada teman SMA di  sana, ya udah minta beliin minum dan ninggalin Hasbi. Toh dia nggak bakal ngambil tab dan dompet saya. Jadi ini adalah perdana saya ikutan acaranya JakBRunners, dan virus lari memang addicted sih, jadi secara nggak sadar pun, saya menggumam dalam hati kalau saya bakalan tetap coba untuk kontinu ikut acara ini. Ya walau sedikit kenalan, moga aja nantinya bisa kenal beneran…

Dan banyak sekali miss-nya. Terhambat kesibukan kampus, Gramedia Writing Project, dan sebagainya. Akhirnya ada juga saat di mana saya bisa ikut lagi. Dan Hasbi ngikut juga. But worse, anak ini ketiduran. Saya yang anaknya terlalu errr…  pemalu (iya, saya pemalu kalau belum kenal, tapi kalau udah kenal bisa rusuh dan bawel sendiri) akhirnya milih nungguin. Akhirnya kita jadi pedestrian dari Slipi ke Senayan untuk nyusulin JakBRunners (yeay, name it) ke sana. But, again, I forgot to take my running shoes. Jadinya pake sepatu futsal. Tapi nggak apa-apa deh ya. Terus, di sana udah selesai lari. Dibagi jadi dua kubu. Satu masih lari, yang satunya makan-makan di Pasar Festival Kuningan. Dan… kami memutuskan untuk pilihan yang kedua dong. Lolol. Seperti biasa, saya masih gagap, nggak tahu mau ngobrol apa dengan mereka. Canggung.  Dan saya ini susah banget untuk ingat nama.

Sedikit menjelaskan, sebenarnya saya memang suka lari. Tapi sendirian. Biasanya tiap hari Sabtu dan Minggu. Sesekali pakai aplikasi Nike+ Running di Android. Nggak ngerti apa itu pace lari. Yang penting lari dan itu bisa sampai satu jam. Waktu di Depok pun, saat kuliah, saya juga masih suka lari. Suka ikut-ikutan acara lari tapi ya begitu. Just for my own happiness. Beruntung ada teman juga yang suka lari saat itu, Singgih, yang suka ngasih informasi acara lari. Tapi di luar event yang dikasih tahu sama Singgih, saya larinya sendirian. Kadang kesel juga sih ya, kayak diejek sama aplikasi Nike+ Running di Home: “Why Running Solo?” Hmpfffttth.

And time flied. Tiba-tiba ada pengumuman kalau JakBRunners mau ikutan acara Nike+ Challenge. JakBRunners punya dua tim, 1 dan 2. Saya masuk tim 1, begitu pula Hasbi. Dia yang masukin saya di situ. Awalnya sih sempat bimbang untuk ikut. Karena teknis challenge ini adalah… tiap tim harus menempuh jarak ke Bulan selama 12 hari. Berapa jarak ke Bulan? + 1738 KM. Nggak sendirian, tapi akumulasi tiap tim yang beranggotakan 30 orang kok. Kalau dirata-rata, tiap orang harus, seenggaknya, berlari minimal 6K per hari. Could I? Agak nggak yakin. Biasanya 5K aja ngos-ngosan dan butuh istirahat seharian, nah ini 6K per hari. Apalagi, ada selipan 2 hari sebelum Lebaran! Iya, bulan Ramadhan. Gimana larinya, coba? Masa malam? Atau sebelum sahur? Banyak ragunya sebelum mengiyakan untuk bilang “komitmen”. Apalagi ini kan kerja tim. Mau di mana pun, yang namanya kerja tim, kan harus komitmen dan punya responsibilitas ya. Bukan cuma “mau” jadi tim tapi akhirnya cuma mengandalkan yang lain. Kalau di kuliah, saya tipe yang paling nggak suka dengan penunggang bebas alias free rider. They’re sucks. Mau dengan excuse apa pun, kalau sudah komit, ya harus komit. Helooo? Masa mau dapat nilai dengan mengandalkan jerih payah teman, apalagi dengan alasan kesibukan di BEM, kesibukan di acara beasiswa. Hell to the no for those people. Saya juga sibuk, kok. Tapi kan udah kewajiban sendiri untuk menunaikan and say commitment. Masa menuntut hak doang? (Eh, maaf kok jadi curhat soal kelompok di kuliah, haha). Dan saya nggak mau seperti itu di tim ini. Apalagi saya belum kenal banget dengan mereka. Tapi dengan iming-iming tim tercepat ke Bulan bisa dapet sepatu LunarGlide 6, akhirnya saya memutuskan untuk ikut juga. Sebenarnya, dilema ini juga dialami sama Hasbi, kok. Apalagi dia kerja. Susah bagi waktunya juga. Pas Idul Fitri juga masuk ke dalam sini. How can we run? 

Dilema ini juga sempat dilontarkan oleh Hasbi, “Karena di challenge ini nggak ada garis start dan finish, nggak ada lintasan yang dipenuhi partisipan lain yang sama-sama berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik… Jadi yang gue pikirkan adalah darimana gue bisa mendapatkan atmosfer berkompetisi kalau gue cuma berlari ditemenin gadget yang sudah dilengkapi aplikasi Nike+ Running?!”

DIlema-dilema itu toh pada akhirnya membuahkan keputusan. Saya dan Hasbi pun menyerahkan form ke Mas Memet sebagai team captain. Ketika ngumpulin itu, Mas Memet juga nanyain ke saya dan Hasbi (ada apa dengan saya dan Hasbi, ya? Kok berdua mulu soal lari ini, anggap aja kita ini bromance kalau lagi lari doang ya. Haha) soal komitmen. Alih-alih mengiyakan, saya dan Hasbi juga merencanakan untuk buat strategi biar kita nggak jadi “beban” untuk tim ini.

Awalnya, Hasbi mengajukan untuk 10K setiap hari. Hellooooo? Ini orang kadang nggak tahu kapasitas diri sendiri deh. Bisa bengek tiap hari 10K. Toh minimal kan 6K… tapi nggak mau jadi minimum distance juga sih… akhirnya deal pada… hari ganjil 15K, hari genap 5K. 15K-nya dibagi dua, pagi-malam atau pagi-sore. Semampunya. Jadi saling mengingatkan untuk setoRUN. At least kan bisa jalan kaki juga untuk 5K.

Tapi yang jadi kendala saya, kok nggak ada briefing ya untuk challenge ini? Nggak. Bukannya saya sok atau gimana. Tapi seenggaknya harus ada sumtin like tutorial. Atau strategi siapa bakal nge-cover larinya siapa. I don’t make it as a serious challenge, tapi at least harusnya ada. Atau buat forum obrolan khusus per tim (yang akhirnya dibuat juga, yeay). Mau tanya juga enggan, saya kan baru di sini. Saya akhirnya positive thinking kalau memang mereka sudah siap banget. Tapi pikiran itu jadi beban, saya ngerasa insecure nggak bisa menuhin target.

Dengan rasa insecure itu, akhirnya saya ‘latihan’ sebelum challenge. IYA. Pas malam habis tarawih (kalau lagi tarawih hehe), saya lari sekitar 5K. Dan karena diracunin Hasbi soal pace lari, di 5K saya bisa dapet pace 5’36”, dan kayaknya itu lumayan. Hehe. Buat 5K segitu, pas lebih bisa 6 atau 7 hahaha. Saya rutin latihan itu selama seminggu. Bahkan kadang larinya jam satu pagi. Kedengerannya gila? Iya sih. Tapi saya berani soalnya kan rame orang-orang kalau bulan Ramadhan. Pulang dengan badan keringat bisa makan deh…~ Oh iya, sebelum challenge dimulai, saya dan Hasbi pun punya challenge sendiri di mana saya dan Hasbi harus capai 100K dalam 12 hari!

Akhirnya challenge dimulai. Saya start pagi. Bareng si Hasbi juga. Yeah, nyumbang 5K aja dulu. Lumayan banget. Nanti sore bisa ngabubuRUN 5-10K. Saya lihat klasemennya. Ada yang 10K, pokoknya variatif. Dan ngerasa mereka ini memang keren. Tapi saya menganut pikiran untuk “nyicil” aja. Nggak mau ngoyo. Lagian mereka udah sering lari 10K. Kalau saya kan jarang-jarang. Harus jaga kesehatan juga, kan. Sadar diri!😀

Yang buat saya terperangah adalah Mbak Dila. Ya ampun. Dia kan perempuan. Tapi dia meraih destinasi lari paling tinggi. Wow. Wow banget. Sementara posisi saya mah ya biasa-biasa aja. Kadang naik, eh digeser lagi. Naik, eh digeser lagi. Tapi karena Mbak Dila itu, apalagi banyak banget di chat challenge bilang “push the limit“, saya akhirnya mau naik level. Mau ngerasain rasanya bisa lari konstan… Hem. Gimana caranya? Omong-omong saya suka kalimat push the limit. Karena, memang push sampai batas yang kamu bisa. Bukan push hal yang nggak masuk akal dengan overdo.

Tapi satu hal bodoh yang pernah saya lakukan soal lari adalah… nggak pernah warming up atau cooling down, yang ternyata punya efek besar ya. Bahkan, saya lari 10K per hari (di hari kedua, saya juga cukup surprised dengan kemajuan ini… Mungkin karena udah latihan seminggu sebelumnya) tanpa ngerasa pegal yang berarti. Apa saya naik level?Kayaknya nggak, deh. Saya cuma baru tahu caranya lari dengan benar. Baru mahfum. Terus juga sempat JakBRunners nyari tempat enak buat half marathon dari Central Park ke Kota dan rute yang saya lupa sampai 21K deh. Tapi akhirnya pindah tempat ke Pantai Indah Kapuk (PIK) yang malah banyakan fotonya dan narsisnya, hehe. Di hari yang sama, pas lebaran hari kedua kalau nggak salah, saya ke kampus aka UI untuk lari lagi. Saya kehilangan 2,8K di sana. Ke-back aplikasinya, jadi nggak kesimpan. Hiks. Tapi gapapa. Ikhlaskan.

Lalu, si Hasbi buat saya shocked. Dia ngelakuin half marathon di pagi buta. Godverdamne. Nggak ngajak-ngajak! Masa dia ngeduluin saya buat half marathon? As your information, HM itu berjarak + 21.1K dalam sekali lari. Saya juga mau naik level! Saya mau HM! Tapi kalau sendirian kan krik-krik banget. Akhirnya, JakBRunners ngadain HM dan FM (sekitar 42.2K) ceria. Saya pun ikut. Tentu aja saya ambil HM, agak impossible ya kalau langsung full marathon, hehe. Full marathon hanya bisa dilakukan manusia jelmaan dewa kayak Mas Yeski, Mas Elprian, dan Mbak Dila…

Anyway, karena dibilang santai, ya banyak istirahatnya dan jalannya hehe. Bahkan saya menempuh jarak 23,52K dalam tiga jam setengah. Bad result? Nggak, lah! Ini kan pengenalan. Ternyata buat nagih. Pulangnya, paha keras! Tapi sudah diingatkan sama Mas Dika dan Mas Memet untuk resting. Jangan tidur dulu, kompres pakai air es, selonjorin kaki ke tembok. And I did it. Setelah itu saya makan, baru deh tidur. Pas bangun, ajaibnya, kaki saya udah nggak kenapa-napa. Wah! Tapi saya kecewa, karena 23,52K yang saya hasilkan nggak ke-record di aplikasi Nike+ Challenge. Saya aduin ke pihak pusat Nike, dan di-record untuk total KMs. Betenya, tetep nggak masuk ke challenge. Mau nangis rasanya T.T

10293746_820847251267374_3253343176833975821_o

Half Marathon Ceria!

Besoknya, saya penasaran untuk HM lagi (bilang saya gila, tapi biarin). Tapi baru 6K lari, ponsel saya error. Langsung finished run sendiri. Aduh. Tapi saya ngotot pengin HM lagi. And? I did it. Saya lari dari Slipi-Pancoran-Slipi. Sebenarnya saya ingin mengestimasikan pace lari saya (yang masih jelek banget), waktu untuk 21K saya sebenarnya berapa. Dan jarak segitu ternyata masih 18K, belum 21K! Akhirnya saya keliling kompleks biar jadi 21K. Lumayan, tanpa nge-pause aplikasi Nike+ Running, saya dapet 2 jam 27 menit (yang anehnya di fastest half marathon saya ke-record 2 jam 22 menit, dasar aplikasi aneh, tapi gapapa, kelihatan keren kan ya haha meski sebenernya pace segitu nggak ada apa-apanya sama yang udah master :p Eh, pace saya masuk ke 6 sekian). Pulangnya saya tau-tau diajakin Hasbi untuk lari santai. Gilanya, saya mengiyakan. Dapat 6K kalau nggak salah. GILA. Iya, saya ngerasa gila hari itu. 6+21+6 dalam seharian? Nggak masuk akal buat tubuh saya! Eh, pas pulang… tahu-tahu di grup WhatsApp, Mas Memet ngajakin FM ceria (baca: jalan kaki). Saya tergiur. DAN MENGIYAKAN. Saya tapi buru-buru resting. Sama kayak waktu HM kemarin yang pertama kali. Saya, Hasbi, dan Mas Memet pun mulai jalan kaki. Tapi akhirnya menyerah di 24KM karena terlalu malam. Besaaaaaaoknya pun Mas Memet dan Hasbi kerja, jadi kita langsung naik taksi deah. Ini rekor terpanjang buat saya. 6+21+6+24 dalam satu hari. Astaga. Saya manusia bukan hari itu? Saya pun pulangnya langsung beli batu es empat plastik. Saya berendam di sana. Ikutin saran. Setelah mandi es batu, saya cooling down. Besoknya? SEHAT!

Saat itu juga di grup cukup ramai soal overtrain. Apalagi efeknya nggak bagus, bisa dioperasi dan nggak bisa lari lagi. Ini juga sudah diwanti-wanti oleh Mbak Desy. Wah, saya jadi takut. Apa saya ini overtrain? Saya pun langsung japri Mas Dika untuk informasi lebih lanjut. Serem juga kan ya. Tapi ternyata nggak. Karena tanda-tanda overtrain nggak ada di saya sendiri. Alhamdulillah. Jadi saya masih bisa lari. Until the finish line.

X

Saya dan Hasbi di “Finish Line“, masih berjuang di jam terakhir!😀

Ada beberapa catatan dalam mengikuti challenge ini. Saya entah mengapa merasa benar-benar push the limit (mungkin ini memang asumsi pribadi saya aja), tapi tentu aja nggak ngoyo. Selain itu “pergerakan” level di Nike+ Running juga menyenangkan. Dari yellow level (tadinya total distance cuma 20-an kilo), sekarang udah green level! Meski nanti ke blue level-nya lama banget hahaha. Dari awalnya hanya menargetkan angka di awal, saya bahkan bisa masuk top 5 di klasemen grup ini. Saya meraih sekitar 243.19K dalam 12 hari. By the way, harusnya 270K lho kalau yang nggak masuk di challenge, jadi harusnya saya peringkat 3, Mas Elprian dan Om Daniel… (ceritanya panas-panasin hehe). Hasbi sendiri ngebuktiin dia bisa. Dia dapat 152.26K. Melebihi target. Dari sini, saya juga belajar. Toh memang nggak ada yang nggak mungkin kalau memang sudah niat. I take this challenge as a fun thing. Tapi, namanya tanggung jawab, mana boleh dilepas begitu aja kan? Apalagi dari awal sudah bilang “iya” untuk komitmen. And thanks God, I really did. Meski di hasil akhir tim kami keluar sebagai top 5 (exclude Tim Chubby yang dewa semua isinya), dan tim JakBRunners 2 di top 15, bagi saya… JakBRunners juaranya. Karena di sini nggak ada yang namanya senior-senioran. Nggak ada yang namanya lari sebagai individu. Adanya lari sebagai tim.

Atau memang, saya dapat pelajaran mengenai art of being a good comrade? Karena saya ingat saat lari bareng yang lain, tentu aja kita nunggu, nggak ngoyo ninggalin temen saat lari bareng. It wasn’t a race. Jadi ya begitulah… Juga ngebantu teman yang tiba-tiba cidera dengan terus berlari dan nggak ngecewain, kan? Sumtin like that.

10253934_10203571426342873_4417287000393064637_n

Hasil Akhir Klasemen JakBrunners 1

Ada hal-hal dalam “berlari” yang bagi saya sendiri related dengan kehidupan sehari-hari. Seperti saat saya mengerjakan skripsi kemarin, saya ngerasa seperti berlari dan sesegera mungkin untuk memasuki finish line. Warming up sebagai “pemanasan” sebelum mengerjakan skripsi. Saya mengibaratkan sebagai mencari data dan membaca sebelum mengolahnya jadi sebuah “running activity“. Skripsi itu sendiri juga sebagai “running activity“. Lalu cooling down? Tentu saja, revisi. Coba saja kalau saya mengerjakan skripsi tanpa warming up dan cooling down? Saya bisa penyok dan kepayahan, kan. Dan hasil akhirnya juga bakalan mentah banget kalau nggak ada revisi. Apalagi… ini juga related dengan nulis fiksi aka nulis novel.

Sama halnya dengan dua hal yang sedang saya hadapi sekarang: mencari kerja (maklum baru lulus kuliaaah) dan menulis naskah. Well, saya punya utang naskah. Dan masih di 70-an halaman. Saya dalam tahap “running mode“. Kalau kata Diego, salah satu teman penulis saya, “Kalau lo bisa lari ratusan kilometer, lo harusnya bisa nulis ratusan halaman, Tha!”

Yeah, semoga naskah bisa kelar deh. Oh iya, kalau ada yang belum tahu, saya udah nelurin satu novel remaja judulnya Hujan Daun-Daun terbitan Gramedia Pustaka Utama, beli yaaa… *lah malah promosi*

Kay, back to intro.

Jadi, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak… pada tim JakBRunners yang secara langsung ataupun nggak, ngasih pelajaran buat saya banyaaaaak banget. Senang juga bisa kenal dan jadi satu tim dengan kalian. Meski memori dan kenangan saya dengan kalian baru sedikit, semoga ke depannya bakal banyak torehan-torehan kebahagiaan lainnya ya. Juga, berkat adanya challenge ini, saya bisa lari konstan sejauh 8K (selama ini hanya 2K). Bagi pelari amatir seperti saya, itu prestasi yang buat bangga sendiri. Buat semuanyaaa, makasih banyaaak.

Dan yang nggak bakalan saya lupa adalah, perasaan nyeleneh saya sendiri kalau lagi lari saat Ramadhan (saat latihan itu), di mana orang-orang ngeliatin penampilan saya yang ready to run, yang jelas dengan kaus jerseyshorts, dan tentunya running shoes. Mereka mungkin bingung, puasa-puasa kok lari… Atau pas tengah malam juga berpenampilan begitu. Apalagi saya mengambil track di perkompleksan. Aih! Bakalan kangen deh saat-saat itu.

10407601_10203573375951612_7771194930001654581_n

Hasil Akhir Klasemen, JakBRunners mencapai Top 5 dan Top 15😀

Dan, dari sini, pelajaran yang paling penting adalah, saya tahu bahwa saya sendiri yang bakal menentukan ke mana kaki saya melangkah, ke mana finish line yang saya tuju. Terima kasih banyak. As Nike said, “Succes isn’t given. It’s earned. On the track, on the field, in the gym. With blood, sweat, and the occasional tear.”

Ah, sekarang Nike+ Running saya nggak bakalan bisa nyindir saya soal “why run solo?” Soalnya saya punya teman-teman yang suka lari.

“This is how we make exercise as a fun thing to do… Do it with crazy friends who share the same interest!” – Mas Dika

10534169_10203569554976090_1526738726486269429_n

Warm regards,
Pelari Amatiran yang Pengin Naik Level.

Senyum Tanpa Sekat (Catatan Kuliah bagian 1)

Berbekal pengetahuan dari SMA, saya tidak berekspektasi apa pun bagaimana nantinya saya kuliah. Bagaimana orang-orang di sana. Konon, menurut pengalaman dari Kakak dan Mas saya, dunia perkuliahan lebih individualias. Katanya, masa SMP dan SMA lebih menyenangkan. Ketika maklumat mengenai penerimaan saya di FISIP UI setelah penantian satu tahun tidak melakukan apa-apa, saya pun tidak berekspektasi apa-apa. Saya hanya berniat kuliah, lulus, dan bekerja.

Tapi mungkin manusia hanya mampu menduga. Saya pun begitu. Ternyata di jurusan saya, juga organisasi yang saya ikuti, pun dengan beasiswa yang saya dapat… saya bertemu orang-orang luar biasa. Tidak. Jangan artikan luar biasa dalam arti mereka orang dengan segala macam kelebihan. Eh. Tapi rasanya memang seperti itu definisinya. Mereka adalah orang-orang hebat dengan hati bermental baja yang bahkan tidak melihatmu dari segi luar. Meski alih-alih ada juga orang yang melihatmu dari tampilan luar.

Pertama, merasa kerasan. Iya. Saya kerasan di semester pertama. Meski tidak tahu siapa teman siapa lawan siapa musuh siapa orang yang nantinya akan jadi backstabber, saya nyaman. Atmosfer perkuliahan tercipta menyenangkan. Dengan beberapa orang yang memiliki frekuensi yang lebih banyak bertatap-muka dengan saya. Orang-orang yang kalau ada tugas, dikerjakan berbarengan. Dari spot MBRC, sampai kost teman. Alih-alih, di sana muncul sekelumit harap. Bahwa ada keinginan untuk mencoba dekat dengan mereka. Tapi tentunya saya waktu itu begitu sadar diri. Siapa saya? Cuma mahasiswa dari Slipi yang pulang-pergi dengan uang saku seadanya. Hahaha.

Lalu tatkala liburan semester pertama, ada tercetus ide untuk backpacker dari seseorang. Saya cukup antusias. Karena saya mungkin tidak pernah melakukan hal macam ini dengan orang yang rasanya menerima saya—meski saya tidak tahu bagaimana persepsi mereka tentang saya. Dan liburan itu menyenangkan. Dan sekelumit harap itu membesar, saya menginginkan sebuah penerimaan dari mereka. Meski… ya… sekali lagi. Saya tahu dan harus sadar diri. Tahan. Jangan terbuai oleh suatu hal yang tidak terukur dan tidak dapat dijadikan jaminan. Jadi saya hanya mengikuti arus; tidak berusaha menyangkal kalau saya memiliki harap pada mereka, juga tidak memaksa mereka untuk menerima saya.

Dan yang jelas, dari liburan itu ada sebuah rekat tak kasat mata yang mulai terhubung. Mungkin benar kata beberapa orang. Kita akan tahu sifat seseorang ketika kita berada di satu atap dengan mereka.