Bermain-main dengan Tenggat Waktu

Image

Bagi mahasiswa kayak gue, yang namanya deadline tuh pasti sering banget muncul bersamaan dengan tugas-tugas yang numpuk. Worse, semester ini nyebelinnya dosen-dosen jurusan gue kayaknya pengin banget kita nggak napas dengan tumpukan makalah kelompok atau individu. Bayangin aja, sebelum UTS kita cukup leha-leha dengan tugas yang memang masih bisa di-handle (yang itu pun masih kita buat dengan kepepet), semester ini ada sekitar tujuh makalah yang gak selesai-selesai dan mepet banget apalagi karena nyaris makalah ini juga dipresentasikan. Bingung banget nge-manage waktunya. Bingung banget untuk nyesuain jadwal sama kelompok yang “beda” melulu. Come on, lectures!

Tapi memang akhirnya dapat diatasi sih. Tapi ya begitu, gue selalu terpaku sama waktu suka banget jatuh ke lubang yang sama. Gak pernah belajar dari pengalaman. Selalu deh begitu. Sampai suatu akhirnya kebawa sama keinginan gue untuk ikut sebuah ajang kompetisi menulis.

Be bad, hari di mana deadline untuk pengiriman naskah kan cap pos, otomatis hari itu baru ngirim masih okay. Tapi, bodohnya gue juga nyelesaiin naskah di hari yang sama. Jadi, ya seperti yang kalian tahu kalo naskah yang di hari itu pula gue kebut buat 20 halaman dengan kertas A4, margin standar, dan satu spasi (SATU SPASI!) pun sia-sia.

Padahal gue cukup yakin dengan naskah yang gue buat itu. Argh, sucks ya knowBut life goes on. Jadi ya gue ambil sisi positifnya meski tahu gue harus ke kampus dulu biar nge-print dengan murah, lalu naik angkutan umum yang amit-amit, dan ternyata eksekusinya gue payah banget. Niatnya mau langsung kirim ke redaksi tapi itu udah lewat jam kantor. Sedih? Iya. Tapi mau gimana lagi. Jadinya, naskah itu nganggur di rumah. Rencananya mau gue make-up sebelum gue kirim dengan cara konvensional ke penerbit mayor lainnya. The first long writing ever I made. Tapi, seperti posting-an sebelumnya yang gue katakan kalo passion gue kembali, yap yap yap! Gue lagi semangat banget untuk nulis lagi. Kembali lagi ke cerpen, atau bahkan novel. Well-done enough. Haha kata-kata itu buat nyemangatin diri sendiri.

Dan sekali lagi gue memperingatkan diri gue sendiri untuk tetap fokus dan gak bermain-main dengan waktu. Kadang, gue terlalu moody. Kalo mood rusak ga bisa ngapa-ngapain. Apalagi gue sebenernya juga gampang banget ke-distract dengan Internet yang lovely-dopey cepet di rumah.

Pembelajaran, harus banget buat manajemen waktu yang baik. Gak mau kesalahan kayak gini terulang lagi.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s