Peer Group or Peer Pressure?

Image

Entah mengapa, muncul keinginan untuk menulis tentang… peer group. Atau mungkin lebih suka disebut best friends forevercliques, geng, dan sebagainya. Hmmm… sebenarnya apa sih inti membuat peer group? Atau peer group memang muncul begitu saja karena ada “kesamaan” dari dalam diri mereka yang punya rasa senasib-sepenanggungan, atau punya visi-misi hidup yang sama, atau karena sama-sama punya hobi dan kebiasaan? Whatsoever it created, menurut gue, ya wajar memang selalu ada.

Nah, tapi apakah konon kumpulan orang-orang yang mengklaim diri mereka sahabat-setengah-mati ini selalu melakukan hal-hal yang oh-my-freaking-jeez unyu. Lihat saja di Path, Facebook, Twitter, dan sebagainya yang menekankan bahwa kalo ada satu anggota nggak ikut kumpul, pasti mereka bisa sedihnya gila-gilaan. Atau… mem-posting suatu foto di laman sosial media dengan hal yang super-cutie seolah manusia hanya terdiri dari mereka saja.

Oke. Mungkin gue terlalu menghakimi. Atau terkesan nyinyir karena gak punya sahabat di dunia ini. Tetapi, ehem, sebenarnya peer group itu punya peran sebagai apa sih bagi anggota di dalamnya. Gue coba nge-googling tentang peer group yang kalo diartiin ke Indonesia adalah “teman sebaya”… dan nemu pengertian seperti ini:

Peer group adalah sekumpulan remaja sebaya yang punya hubungan erat dan saling tergantung. Fenomena munculnya peer group memang tidak bisa dihindari. Ada banyak manfaat yang kita peroleh kalau kita punya peer group, misalnya untuk memperluas wawasan di luar keluarga, tempat curhat dan kesempatan mandiri tanpa diawasi orang tua atau orang dewasa lain.

Dan entah mengapa definisi itu sudah nggak pas lagi buat gue. Kalo benar memang definisi peer group seperti demikian, mungkin peer group akan memang baik adanya, apalagi ada orang-orang yang siap menyadarkan kita kalo lagi melakukan tindakan super-bego, dan macam hal klasik yang bisa didaulat seperti sahabat.

Tetapi, makin ke sini, yang namanya peer group kok gue ngeliatnya makin… palsu. Sebentar, gue hanya beropini, bukan untuk judge dini dengan orang-orang gaul yang ngegeng. Gue sendiri pernah kok sok-sokan punya peer group waktu SMP. Tapi ya itu masa-masa ababil tingkat nestapa kali ya. Tapi gue hanya mengutarakan opini ya, bukan judge. Hahaha, baiklah, sebenarnya statement itu kayak justifikasi pemikiran gue, padahal ujung-ujungnya kayak judging someone.

Jadi, begini. Ya, gue mengenal kepalsuan peer group masa kuliah. Di kampus atau pun di dunia manapun tentu gue ngeliat banyak banget peer group. Gue sendiri tipikal orang yang gak mau ‘mengikat’ soal peer group. Karena entah mengapa gue gak suka hal-hal banyak kepala yang ujung-ujungnya jadi tusuk dari belakang. Jadi, ya sampai sekarang gue nyaman dengan ‘kesendirian’. Untuk masalah teman dan sahabat, gue punya kok. Dan kita gak ngeklaim hal itu karena kita emang sama-sama butuh dan gak perlu diverbalkan.

Kenapa gue bilang makin terkesan palsu? Karena gue ngeliatnya aneh. Apalagi yang gue amati dari dekat. Mereka bilang mereka saling kenal, and dare to declaire they’re best friends. Tapi, ketika salah satu personil (emangnya boyband?) punya kejelekan tersendiri, personil yang lain hanya diam dan membiarkan. Lah, fungsi sahabatnya di mana?

Lalu, ada yang udah sok unyu-unyuan. Ke mana-mana harus ada orang itu di sisi. Tapi ternyata, mereka sama sekali gak mengenal secara pribadi. Kisah-kisah yang biasa dibagi pada sahabat, toh mereka ga lakukan, mereka didekatkan hanya dengan hal-hal fisik. Misalnya nih, sama-sama gak suka sama kumpulan orang rajin di kampus, sama-sama punya sifat gak suka ngalah, atau bahkan suka branded tertentu? Atau bagaimana? Gue nggak ngerti.

Lalu, ada juga nih sindrom peer group cewek-cewek gaul yang hobi share ini-itu di Path atau Facebook, yang emagod, langsung di-like sama temen-temennya padahal posting-annya gak penting banget! Huahahahahaha suka lucu sendiri.

Lebih lucu sebenernya ketika lo udah deklarasi ke mana-mana kalo lo dekat dengan seseorang dan memposisikannya sebagai sahabat dan cerita hal-hal pribadi pada orang itu, tapi orang itu hanya mendengar dan gak mengutarakan kisahnya karena belum melihat lo sebagai orang dengan level sahabat. Istilahnya kayak orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Ah, entahlah ini bisa dibilang lucu atau ironis.

Makin ke sini ya makin berbeda semua lingkup. Makin banyak topeng-topeng yang gak bisa lo liat sama orang-orang di sekitar lo. Atau mungkin, karena baru bertemu ketika kuliah. Takut ditusuk dari belakang dan sebagainya atau gimana… mungkin jadi alasan ketakutan tersendiri.

Tapi, ada kok memang yang tetap mau berteman dan bersahabat dengan tulus. Atau mungkin sebenarnya ada yang ikut peer pressure berkedok peer group? Atau memang ada orang-orang yang ingin dilihat bahwa dirinya memiliki eksistensi di ranah pertemanan dan dunia kuliah dengan ikut kumpul dengan orang-orang yang biasa “dilihat”. Dan memang, jujur saja semua orang memang ingin dihargai, bukan? Jadi… yaaa… begitulah.

Intinya, sekarang harus pintar-pintar berteman. Pintar-pintar menelaah. Gue sendiri punya kok teman yang tulus, yang gak perlu diunyu-unyuin di-share ke mana-mana. Mungkin masalah ini lebih cocok dengan perkumpulan peer group cewek-cewek atau peer group cowok-cewek. Karena emang masa sohiban cowok-cowok harus posting ke Facebook, tar disangka kelainan, wajajaja.

Bagi saya, orang yang bisa dibilang sahabat itu yaaa… yang mau mengisahkan kisah hidupnya dengan kita tanpa filter, dan masing-masing mau menampar dengan keras ketika lo melakukan hal fatal. Dan yang terakhir, yang memang klise sekali, adalah orang yang ada ketika lo jatuh terpuruk, dan lo tahu bahunya ada untuk lo, karena pada dasarnya pijakan lo ada pada mereka.

Sekian. Mari bersahabat.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s