Entendu! Entendu!

Group Walking_cropped

Jadi, ini cerpen tahun 2009 lampau yang gue kirim ke Gagas, hadiahnya dapet tiga novel. Ya lumayan lah… Tulisannya amatir (sampe sekarang pun masih, hahaha). Ini dapet pengaruh dari cerpen-cerpen majalah Hai waktu itu. Huhu🙂

* * *

JE viens d’Indonésie.[1] Saya berkata sesopan mungkin, mencoba kefasihan saya dalam ber- bahasa Prancis yang sudah lama saya pelajari.

Entah kenapa Ramon dan Georgia terkikik heran melihat saya berbicara. Apakah ada nada yang aneh dengan bahasa Prancis yang saya ucapkan? Apakah saya salah mengucapkan sesuatu?

Of course, Sir. I know you’re an Asian-boy. And what’s wrong with that?” Wanita Eropa itu menatap saya sengit. Dengan langkah yang membuat pekak telinga—karena wanita Eropa itu mengenakan stiletto—ia pergi.

Saya berpaling ke arah Ramon dan Georgia. ”Kalian benar-benar menjengkelkan!”

Ou, vous venez de très loin! Étudiant?[2] Ramon yang asli Prancis berkata demikian, berusaha mengolok saya.

”Sudahlah, Wil. Lebih baik kita segera ke stasiun. Lebih cepat lebih baik, bukan?” Georgia mencoba menengahkan.

Saya tentu saja setuju. Tetapi perbuatan tadi tidak dapat saya terima. Bayangkan saja, dengan seenaknya tadi Ramon bilang kalau wanita Eropa yang cantik itu menyapanya dengan dalih ingin bertanya asal saya dari mana. Dan ketika saya berkata sesopan mungkin dengan bahasa Prancis saya, ternyata orang itu sama sekali tidak melakukan apa yang dibilang Ramon. Dan dynamic duo itu malah tertawa melihat respons orang itu.

Seketika saya terkagum melihat sekumpulan wanita yang rupanya sangat menakjubkan. Mereka tampak stylish dan trendi. Mungkin mereka model, atau sekedar kalangan socialite Paris saja?

Elles habitent près d’ici.”[3] Ramon mencoba memberitahu saya. Sudah saya duga, bukan? Orang-orang yang tinggal di dekat sini memang salah satu kumpulan social elite yang ada di Paris.

”Gak penting ah ngeliatin orang kayak gitu. Liat deh, rata-rata bodinya mirip papan gilesan! Yuk, ah!” Georgia yang sudah tinggal di Jakarta selama enam tahun memang fasih berbahasa Indonesia, bahkan ia sangat gemar dengan bahasa Betawi. Sedangkan Ramon, cowok Italia berpostur tinggi dan punya sifat kekanakan itu hanya tahu identitas Indonesia adalah sebagai Bali. Dia tahu Bali tapi tidak tahu Indonesia. Sungguh ironis!

”Untuk ke perbatasan Italia, kita mesti naik apa?” tanya saya.

”Lho, siapa yang mau ke Italia?” Georgia mengernyit heran.

”Biasalah, orang Indonesia ini punya penyakit akut yang aneh,” seloroh Ramon.

Saya jadi bingung sendiri. Padahal saya masih ingat sekali kalau tadi pagi mereka bilang akan mengajak saya pergi ke Italia siang ini. Jarak Italia dari Prancis tidak terlalu jauh, dan kami sekarang masih di Paris.

”Bukannya kita mau melihat fashion show?” Georgia malah balik bertanya pada saya.

”Bukan, bukan! Kita mau ke Eiffel, kan? Katanya kamu belum pernah ke sana, Wil?” Ramon memotong.

Duh, kok rasanya saya mirip jadi turis asing begini. Padahal kami bertiga sudah menjadi housemate selama dua tahun. Dan minggu ini adalah minggu terakhir saya menginjakkan kaki saya di Paris, Prancis.

”Kita sudah ke Eiffel bersama berapa kali, heh? Saya ingin ke Italia, saya ingin ke Milan.” Saya mencoba menjelaskan.

”Milan Fashion Week sudah lewat!” Georgia menyumbang suara. ”Kalaupun ada fashion show, pastinya fashion show kecil-kecilan. Aku tidak berminat melihatnya, Wil.”

Hahh… apa-apaan Georgia ini. Saya kan mau menghabiskan minggu terakhir saya dengan kesan yang tak bisa dilupakan! Kenapa malah lari ke fashion show?

Ramon malah tertawa melihat reaksi saya yang linglung. ”Lebih baik kita pergi naik sepeda keliling Paris, lebih menyenangkan. Atau kita buat pesta, bagaimana?”

Huh, pesta, pesta dan pesta. Saya sudah bosan dengan yang namanya pesta ala orang Paris. Saya juga sudah bosan kena omel induk semang saya yang mengkomplain kalau tetangga sebelah terganggu oleh kebisingan pesta itu. Sebenarnya sih yang membuat bising itu suara Ramon! Bayangkan saja dengan suara bass yang nyaris tak bernada, ia menyanyikan lagu Anggun!

”Hey! Liat tuh cewek itu! Rambutnya unik sekali!” pekik Georgia melihat seorang perempuan dengan rambut yang disasak tinggi lalu diikat. Itu sih bukannya unik, tetapi absurd!

”Tidak penting. Sekarang kita mau ke mana sih?” Ramon akhirnya berkata seperti itu. Cukuplah untuk mewakili suara saya. ”Ke Italia? Itu jelas-jelas tidak mungkin. Aku hanya punya uang sedikit sekali.”

Langkah kami terhenti. Yang tadinya ingin ke stasiun, langsung berubah pikiran untuk ke restoran saja. Pupus sudah harapan saya untuk ke negara tetangga Prancis tersebut. Saya memang sudah lama mengidamkan menginjakkan kaki di Italia, khususnya Milan. Bukan karena fashion show-nya lho! Tapi kota itu memang sudah lama memikat hati saya.

Entah kenapa, di hati saya Paris tidak begitu istimewa lagi. Apa karena saya yang homesick, membuat saya rindu akan jalan berdebu dan panas di Jakarta?

”Ngelamun saja.” Georgia menegur saya. ”Malu ya, kalau nanti ditanya sama teman-teman kamu belum pernah ke Italia?”

”Bukan. Malas kalo nanti teman-teman kampus bertanya pada kita ’Où est-ce que vous préférez passer vos vacances?[4] nantinya!” jelas saya ketus.

”Iya sih, besok kan kita masih masuk kuliah,” kata Georgia. ”Jawab aja…”

Marcher dans les rues, manger au restaurant, faire du camping, aller au théâtre, visiter des musées, et rester chez des amis.”[5] Ramon memotongnya sambil terkekeh.

”Bah, jawabannya kok kayak udah ngelakuin liburan, bukannya mau liburan,” sembur saya.

Ramon lagi-lagi terkekeh. Dasar makhluk planet!

”Udah deh, mendingan kita ke restoran. Gak sadar perut udah keroncongan begini ya?” Ramon memegang perutnya agar terlihat meyakinkan.

Entendu![6] seru Georgia yang tampaknya sama-sama lapar. Ia memandang ke arah saya yang keliatan nggak setuju dan akhirnya bertanya lagi. ”C’est entendu?

Entendu!” seru Ramon nyengir. Saya tetap diam.

”Hoala, dia nggak setuju tuh!” tunjuk Georgia. Yang dimaksudkan tentu saja saya.

Tapi Ramon tampaknya tidak ambil pusing dengan ajuan kontra dari saya. Ia mengamit Georgia layaknya pacar, lalu meninggalkan saya. Benar-benar menyebalkan. Saya pun ikut lari bersama mereka yang hendak ke restoran tersebut.

Saya berdecak kagum pada Georgia yang mau saja dibawa lari dengan Ramon. Lihat apa yang ia kenakan. Stiletto berhak supertinggi dan tetap stabil berjalan. Dia memang terobsesi untuk jadi model.

Kami akhirnya sampai ke restoran Prancis dan memesan makanan—kalau yang ini hanya mereka, karena saya cuma memesan espresso.

Ajaibnya, ketika saya duduk di kursi restoran tersebut, saya menduduki sebuah dompet yang ketika saya cek adalah milik orang Italia.

Saya lihat namanya. Saverio. Ou ou ou. Tampaknya saya harus mengembalikannya. Dan ini dapat dijadikan alasan kenapa saya harus ke Italia.

Tetapi ketika saya bilang pada Ramon dan Georgia, mereka hanya mendesah dan menyarankan untuk mengembalikan saja ke pihak berwajib.

Saya memandang dompet milik Saverio tersebut. Terbuat dari kulit berwarna hitam. Seperti dompet bapak-bapak di Indonesia.

Entendu!” seru Ramon tiba-tiba, membuat saya dan Georgia tampak terkejut.

”Setuju untuk apa?” Georgia menyikut Ramon yang sangat aktif itu.

Ramon terdiam, menunjuk-nunjuk saya. Saya jadi bingung sendiri. Berbicara sepatah kata pun tidak, tetapi Ramon tiba-tiba bilang setuju dengan saya. Ramon ngimpi apa lagi, sih? Otaknya memang kurang waras!

”Italia, Saverio. It’s so cool,” ujar Ramon dengan cengiran lebarnya.

Saya sangat amused mendengar persetujuan dari Ramon. ”You got my point, boy!

Georgia tampak kesal. ”Ke Italia naik apa? Malas ah,” ujarnya cuek.

We can go without you, lady!” seru Ramon.

Lagi-lagi saya sumringah dan amused mendengar jawaban Ramon yang pasti. Ini menye-nangkan, sangat menyenangkan. Panorama Italia pun menari-nari di benak saya.

Georgia yang satu-satunya cewek di antara kami, memang tukang ngambek. Dan dengan secepat kilat dia menyeringai. ”Lebih baik aku pulang! Kalian memang cowok-cowok menyebalkan!”

Saya sangat senang dengan tawaran Ramon ini. Saya pun tidak perduli dengan ejekan dari Georgia. Bisa diurus nanti. Biasanya kan cewek memang seperti itu.

Roma dan Valencia adalah dua kota yang saya idamkan dari dulu.

Let’s go!” Ramon menepuk pundak saya.

”Eh?” Saya heran. Apa maksud dari ajakannya itu? Apa Ramon bermaksud ke Italia sekarang juga? ”Sekarang?”

”Kapan lagi. Lekas,” tukas Ramon. ”Saverio itu kenalanku. Nanti akan aku kenalkan sama kamu. Lagipula dia bisa bahasa Indonesia juga sedikit karena istrinya orang Indonesia. Waktu aku mengunjungi mereka, mereka bilang suka dengan rendang. Sekalian ingin tahu bagaimana rasa rendang. Di Bali aku tidak pernah makan rendang.”

Whatever he talked. Yang saya perlukan memang refreshing ke Italia.

Ramon pun mengacuhkan Georgia yang pergi dan merangkul saya untuk segera main ke rumah Saverio. Nampaknya saya lebih tertarik dengan Italia daripada kota ini. Dulu sih iya, saya sangat kepengin sekali ke Paris. Ternyata hanya begini saja. Awalnya memang rasanya menyenangkan, tetapi kian lama saya bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Saya maunya berpetualang! Ke tempat yang belum pernah saya kunjungi ke negara lain dan itu adalah Italia.

”Kamu lupa dengan paspor?! Saya nggak punya paspor. Nanti di perbatasan saya harus bilang apa?!” seru saya panik, baru ingat kalau ada yang kurang.

Ramon nyengir lebar sekali. Ia menepuk pundak saya. ”Keep calm, tenang saja. Percayakan padaku! C’est entendu?

Entendu!” seru saya riang. Untunglah housemate saya adalah Ramon. Dia memang penuh dengan kejutan.

”Untuk bisa melewati perbatasan, kita harus pergi ke tempat temanku. Kita harus ke sana, Wil,” ucap Ramon.

Saya hanya manggut-manggut menurut. Mau dikata apa, saya memang tidak mengerti. Urusan begian saya serahkan pada yang ahlinya saja.

Kami pun sampai di apertemen bernuansa Italia dengan dominasi warna cokelat yang kental. Apertemen ini nampaknya mewah. Hmm… mungkin temannya Ramon ini adalah orang penting yang mengurus soal begituan. Yeah, saya percaya dengannya.

Ia menuntun saya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Saya pun mesem-mesem senang. Bukan cuma liburan ke Italia saja, ternyata saya akan menambah dua orang kenalan. Yang satu adalah teman Ramon ini, dan yang kedua adalah Saverio—si pemilik dompet.

Ramon mengetuk pintu dua kali. Dan langsung direspons dengan cepat dengan mpunya tempat. Saya terpana melihat interior dari apertemen ini. Benar-benar indah.

Come in, Ramon,” ujar yang membukakan pintu. Wow, tinggi sekali orang itu. Sepertinya orang Eropa juga. Lelaki itu tampaknya juga orang Prancis, karena saya mendengar pengucapan bahasa Inggris dengan sengau—khas Prancis sekali. ”And you’re too.”

Saya mesem-mesem masuk.

Orang itu menyuruh saya dan Ramon agar tidak sungkan duduk dan menikmati sampanye milik-nya. Rasanya sangat tidak cocok minum alkohol di musim panas begini.

Get off your clothes,” kata cowok ini.

Saya bergidik heran—sekaligus was-was. Kata-kata yang kurang masuk akal itu…

Saya mencoba melirik Ramon yang tampaknya enteng sekali membuka semua bajunya—pun itu kaus dalam dan celana dalamnya. Dengan tatapan nanar saya menatap dua orang di hadapan saya.

C’est à moi.[7] Habis itu kamu, Wil.” Ramon menatap saya penuh arti. Ia langsung memeluk pria yang namanya tidak saya tahu itu.

Saya menelan ludah, bergidik ngeri.

Pikiran-pikiran ngaco pun hadir di benak saya sejak melihat pemandangan ajaib di hadapan saya: dua orang sesama laki-laki berhubungan seks. Menjijikan…

Saya pun langsung ambil tindakan. Saya berlari ke arah luar dan mencoba membuka pintu. Tetapi ternyata sudah dikunci oleh Ramon. Saya memandang ke arah dua orang itu, dan mereka tertawa tertahan. Ramon pun maju ke hadapan saya.

”Tak perlu terkejut, Wil. Aku sudah lama menanti saat ini, menanti kau akan jatuh di pelukanku. Bukan di pelukan Georgia. Aku terus memperhatikanmu tiap kau tidur di kamar. Sungguh menggairahkan.” Ramon tersenyum.

Ia menahan tangan saya, sedangkan orang yang bernama Saverio itu melucuti baju saya satu per satu.

Saya menelan ludah—lagi.

Sinting!

Gila!

Ramon memang penuh kejutan, tetapi bukan kejutan yang seperti ini yang saya mau!

Padahal saya dan Ramon sudah berteman selama…

Ah, ternyata waktu segitu tidak membuktikan kau tahu tentang orang itu. Saya jadi ingat pepatah Indonesia. Hell, saya lebih cinta Indonesia! Saya tidak mau di sini! Saya tidak mau di Prancis! Saya tidak mau ke Italia!

Saya ingin bertolak ke Indonesia!!!

* * *

…Built a wall around my heart, I’ll never let it fall apart. But strangely I wish secretly, it would fall down while I’m asleep…

Lagu Nothing Lasts Forever milik Maroon 5 yang saya suka mengalun samar, membuat saya terjaga dari tidur saya.

Tiba-tiba saja saya ingat peristiwa itu. Peristiwa konyol itu di mana saya telah—diper-kosa?—oleh dua warga Prancis dan Italia itu…

”Kak Wil, ayo sarapan! Jangan ngayal melulu pergi ke Eropa! Belajar yang bener, baru pergi ke Italia!” seru suara khas yang sangat saya kenal itu—Keshia.

Saya pun mengucek-ucek mata saya.

Ini ternyata mimpi! Saya masih ada di rumah, masih memegang buku Lonely Planet negara Prancis dan Italia. Olalala… kadang mimpi memang terasa nyata!

Saya pun bersyukur, karena ini semua tidak terjadi. Saya pun langsung beranjak turun ke bawah rumah untuk sarapan bareng keluarga saya. Mungkin saya bermimpi karena membaca buku itu, buku untuk tour guide yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya juga baru tahu arti entendu dari buku itu—yang ternyata membuat saya bermimpi yang tidak-tidak.

Tapi sebelum itu, saya risih dengan sebuah benda yang terselip di buku Lonely Planet Italia. Saya pun mengambil benda tersebut.

Sebuah dompet yang saya kenal…

Saya pun membuka dompet itu dan melihat kartu pengenal.

Namanya Saverio, dan terdapat sebuah tulisan tangan yang berbunyi: ”C’est entendu?


[1] Saya berasal dari Indonesia.

[2] Oh, Anda berasal dari tempat yang jauh! Mahasiswa?

[3] Mereka tinggal di dekat sini.

[4] Ke mana kalian akan melewati liburan?

[5] Jalan-jalan, makan di restoran, berkemah, nonton teater, mengunjungi museum, dan istirahat di rumah teman.

[6] Setuju!

[7] Ini giliranku.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s