Terlanjur Basah

Image

Perasaan itu bagi saya bak sebuah kolam besar berisi air. Yeah, yeah, katakanlah perasaan itu jatuh cinta. Kamu harus berani tenggelam untuknya. Saya merasa bahwa belum se-berani itu untuk tercebur, jadi saya hanya menengok, melihat dari permukaan. Tersenyum dalam memandangnya. Tak ingin mencicip air yang ditawarkan.

Namun, mungkin pesona dirinya adalah kontradiksi di hati saya. Eksistensi dirinya adalah sebuah pelipur dahaga. Dan entah sejak kapan saya tahu, saya sudah menceburkan diri untuk tenggelam. Dan hati saya terlanjur basah. Basah dengan perasaan. Basah dengan prasangka. Basah dengan kebodohan. Berapa tahun sampai akhirnya saya baru menyadari bahwa hati ini basah? Berapa tahun sampai akhirnya saya dapat mengeringkan hati saya yang terlanjur basah?

Mungkin, pengakuan adalah cara mengeringkan paling ampuh. Tetapi, mampukah saya? Rasanya pasti kelu. Tak menerima respons darinya saja sudah membuat sesak. Membuat ngilu.

Ketika seorang laki-laki mengatakan bahwa ada perempuan yang tak punya hati, tahukah dirinya bahwa laki-laki itu sebenarnya telah dirampas hatinya oleh perempuan itu?

Sudahlah, saya tahu. Dari awal, hubungan ini tidak pernah ada. Jadi, lupakan. Akan saya keringkan hati ini. Bagaimana caranya, saya sendiri belum tahu.

Catatan:

Catatan galau ini merupakan hasil sharing dengan dua sahabat saya; Miranda Elizabeth dan Bekti Bangun, yang suka berceloteh riang di grup WhatsApp dengan nama “Mates”. Perihal sharing, dilakukan pada akhir Agustus 2013.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s