Jangkar (Prolog)

Jadi, ketika gue memutuskan untuk berlama-lama ngalor ngidul dan makan di WSG Pondok Cina bareng Imas, Ipho, dan Awid… Imas berceloteh tentang hal yang memicu otak gue untuk menulis fiksi… dan begitu saja sampai akhirnya gue punya ide soal ini. Semoga aja beneran bisa nulis panjang-panjang, semoga saja ini bisa jadi novel… dan sudah selesai 2 bab juga sih setelah prolog ini. Gue memakai sudut pandang orang pertama, dengan empat lakon. Ah, di sela-sela buat skripsi kenapa ngebet ngelarin ini ya huaaaa.

Image

Ismaya, Sailendra, Musa, dan Kianthi.

Mereka berempat saling bersisian, duduk di meja untuk empat orang di salah satu restoran Kemang. Mereka sama-sama berpakaian smart casual, karena mereka baru saja pulang dari kantor mereka bekerja.

Satu kota tapi tak pernah bertemu selama tiga tahun. Kebisuan pun masih saja mengudara. Bibir mereka sama-sama kelu untuk berucap. Sudah tiga tahun sejak lulusnya mereka menjadi sarjana. Balairung universitasnya menjadi saksi bisu bahwa perayaan wisuda mereka sama sekali tidak berjalan mulus seperti awal pertemuan mereka di kampus.

“Gue kangen kalian.” Musa mencoba berinisiatif. “Gue gak ngerti kenapa kita bisa kayak gini. Saling canggung dan terlihat awkward macam begini. Gue mau kita kayak dulu lagi.”

Mata Sai lurus menatap Musa. Sai merasakan hal yang sama. Ia ingin semuanya seperti dulu. Ia ingin persahabatan di antara mereka berempat seperti sedia kala. Seperti ketika akhirnya mereka paham bahwa mereka dipertemukan di kampus ini untuk bersahabat.

Anthi menghela napas. “Anthi juga kangen Musa. Anthi kangen Maya. Anthi kangen Sai juga.” Suara kekanakan Anthi masih sama. Jika mendengar lebih seksama, tersirat getaran emosi di ucapan Anthi.

“Kalian adalah tempat pulang. Gue yakin kalian adalah rumah buat gue. Sejauh apa pun gue pergi, kalian adalah tempat gue kembali.” Dengan penuh emosi Sai berucap, matanya berair.

Ternyata air mata Sai yang jatuh membuka lembaran-lembaran lama yang sudah lama dibiarkan tertutup oleh mereka berempat.

Maya dan Anthi pun ikut-ikutan menangis. Sedangkan Musa yang sulit menangis hanya tersenyum getir. Pikiran mereka pun melayang pada kisah yang mereka alami. Masa-masa yang membuat mereka rindu. Masa-masa yang membuat mereka candu. Tapi juga beringas menggesek hati hingga luka yang nyaris tertutup justru terbuka kembali.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s