Halved Azure

­­­

Jadi, ini cerpen tahun 2009 yang gue sertakan dalam lomba salah satu majalah cerpen yang bekerjasama dengan restoran cepat saji. Dan, beruntung sih dapet juaranya sampai akhirnya menggondol benda yang nemenin gue kuliah sampe sekarang. Pernah dimuat di majalah Story edisi sekian (lupa). Masih amatir, tapi ya senyum-senyum ketika diapresiasi!🙂

Image

Ini ilustrasi yang ada di Majalah Story waktu itu.

DITEMANI orange squash float dan beberapa amused people  yang sedang menikmati santapan di restoran fast food terkenal ini, Gayatri mencoba menghapus rasa gusar yang mengusik kalbunya. Rasa gusar yang diakibatkan oleh celotehan teman masa kecilnya yang selalu jadi spoiled boy di kehidupannya.

C’mon Gayatri, don’t be trap by his talking! You’d better think about these draft and proposal! batinnya, meyakinkan dirinya sendiri.

Gayatri sedang menyusun acara Bandung Fashion Week, di mana ia menjadi penggagasnya. Acara yang didukung oleh fashion people Indonesia seperti Oscar Lawalatta, Arzetti, Ichwan Thoha, dan sebagainya.

Tahu bahwa tugas ini berat, Gayatri meminta tolong pada Dayana, model cantik keturunan Rusia-Jawa-Spanyol yang berbadan kapstok yang juga sering jadi bahan perbincangan saat ini. Mereka belum pernah bertemu, tapi kenal-satu-sama-lain karena sama-sama menjadi anggota komunitas pemerhati fashion Indonesia. Dari wadah inilah Gayatri menggagas idenya tentang BFW, dan disambut setuju oleh para anggotanya.

Dan di store fast food inilah yang dipilih Gayatri dan Dayana sebagai tempat bertemu mereka. Selain tempatnya yang cozy, juga sangat bersih.

”Lo sama aja kayak yang lain, Mrs Fashion. Kepedulian lo selalu tertuju di satu titik; diri lo sendiri. Lo sama sekali nggak pernah respek dengan sekeliling.”

Ugh, kenapa komentar Barra—si spoiled boy itu—yang selalu ada di benaknya? Kalau begini terus, ia bisa nggak fokus untuk proyek BFW. Padahal deadline penyerahan proposalnya kan tinggal seminggu lagi. Lagipula apa hak Barra sih, ngomong begitu? Gayatri merasa dirinya respek sama sekeliling. Ia selalu berusaha proper dengan sesama, memberi seulas senyum pada siapa saja yang ia kenal…, dan jika dibilang peduli sama diri sendiri, apa itu salah? Nggak ada salahnya kan, peduli sama diri sendiri?

”Lo pasti Gayatri.” Wanita cantik nan modis menyapa Gayatri. Gayatri sempat terpana dan pikirannya teralihkan melihat benda apa saja yang melekat di tubuh cewek ini. Gee… everything is branded!

”Mbak Dayana?” Gayatri tersenyum ramah, lalu mengulurkan tangannya.

Dayana acuh akan sikap proper Gayatri. Ia langsung mengunyah mini salad yang sudah Gayatri pesan sebelumnya untuk Dayana. Model kawakan ini pun langsung to the point berbicara A to Z about fashion show. Mulai dari tema, perancang mana yang akan dipakai koleksinya, sampai siapa yang mendapat undangan first row BFW.

Secepat itulah mereka mendapat keputusan walau belum final.

Indonesian Highlight. Tonjolkan bahan tekstil terbaik Indonesia, terus undang teman wartawan. It has proved quite well, and… enough,” ujar Dayana.

Gayatri mengangguk mengerti, mencoba menyerap ’ilmu’ dari Dayana.

”Kalo gitu bye ya’. Gue masih ada agenda.” Dayana pun beranjak dari tempat duduknya, lalu melenggang keluar.

Dalam hati, Gayatri bertanya-tanya, apa begitu sikap model terkenal? Walau terlihat berkilau, Dayana seperti orang yang nggak punya manners. Mulai dari mengacuhkan uluran tangannya, sampai pamit tanpa basa-basi. Jeez.

Sendirian, Gayatri langsung melahap paket Super Panas Jumbo-nya, dan ketika itu pula ia tak sengaja menangkap suatu benda milik Dayana yang sepertinya ketinggalan. Ada niat ingin mengejar Dayana dan mengembalikan benda itu, tapi mengingat sikap Dayana tadi, Gayatri jadi emoh. Ia memilih untuk diam saja, menunggu Dayana. Toh pasti ia kembali lagi.

Gayatri langsung larut dalam imajinasi liarnya, di mana BFW dipenuhi olegh baju-baju rancangan Prada, Marc Jacobs, Diane von Furstenberg, dan Betty Jackson. Not in million years deh, ucapnya. Ia geli sendiri dengan angan muluknya.

Oh Gosh! My Anya!” teriak seseorang.

Dayana. Ia berlar menuju tempat Gayatri, sadar jika tas ’mahal’-nya itu ketinggalan. Ia mengambil tas dari meja Gayatri dan langsung bergegas keluar lagi. Tanpa menoleh Gayatri sedikit pun. Dayana hanya memikirkan ”Anya”, tas rancangan Anya Hindmarch yang terkenal di kalangan fashionista dan tentunya amat mahal.

Tergesa, Dayana berlari kecil dan tak memperhatikan ada seorang ibu dan anak yang sedang membawa paket Kids Meal. Tak ayal, Milo menumpahi baju dan tas milik Dayana.

Gayatri sendiri yang menjadi saksi adegan itu hanya bisa menelan ludah. Holy cowl, tas itu kan mahal banget, serunya dalam hati.

You nuts!” seru Dayana kasar.

”Saya minta maaf!” Si ibu langsung dengan sigap berkata demikian.

”Apa gunanya polisi kalo semua bisa minta maaf! Ini tas mahal! Rancangan Anya Hindmarch, ya know! Dan ini baju unlimited-nya Donna Koran! Mungkin tujuh turunan lo nggak bisa ngebayar semua ini!” serunya arogan.

Gayatri tahu benar bahwa bukan si ibu yang salah, melainkan Dayana.

Dia ingin menolong si ibu. Apalagi tatapan ketakutan anaknya. Ditodong begitu oleh Dayana, sinar kekanakan mata anak itu redup. Namun di sini hati lainnya berkata bahwa ia punya relasi spesial dengan Dayana, dan ini menyangkut eksistensinya sebagai mahasiswi FSRD yang andal. Jika ia berani ikut campur, bisa gawat proyek BFW! Dayana pasti akan marah besar.

”Mungkin sebaliknya, Anda yang nggak aka bisa membeli manners meski Anda punya uang? Dimana harga diri Anda? Menyalahkan orang lain padahal Anda sewot branded stuff Anda tumpah karena kecerobohan Anda sendiri?”

Astaga, ia kenal suara aksi orang yang beraksi heroik ini. Suara yang dengan lantang melawan Dayana. Suara Barra!

Dadyana memandang Barra risih dan penuh penghinaan. ”Lo nggak tahu intinya, jadi jangan main nuduh!”

Terjadi perdebatan. Gayatri cuma bisa menonton saja. Di mana seharusnya Gayatri membela sang ibu sebagai “saksi kunci” kejadian itu.

Barra dengan tegas menyalahkan perbuatan Dayana. Mahasiswa teknik ini dijadikan satu-satunya andalan bagi si ibu yang tidak bersalah itu. Dan ternyata Dayana tetap pada pendiriannya yang angkuh.

Cekcok hebat terjadi, dan Gayatri masih diam saja.

Namun ketika Dayana ingin menampar Barra, sesuatu di dalam hatinya memaksa dirinya bertindak. Otaknya berpikir cepat, mencoba memadupadankan tindakan ini dengan celotehan Barra yang kontras dengan pujian teman-temannya itu. Tentang rasa respeknya.

”Maaf Dayana, kamu memang salah.” Gayatri berusaha dengan tenang berkata. Tamparan Dayana pun ter-cancel! Dayana melirik Gayatri bingung, baginya sangat aneh bila Gayatri tidak membelanya.

Merasa tak mungkin lagi melawan, Dayana mencibir dan meninggalkan tempat itu. Seiring berjalan, Dayana menatap Gayatri penuh dengki. Gayatri tahu tindakannya akan berdampak serius. Bagi awal keberhasilan Bandung Fashion Week…

Si ibu mengucapkan terima kasih pada Barra dan Gayatri. Ketika si ibu itu mengucapkan terima kasih, ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Yang bukan saja membuat hatinya sejuk, lebih dari itu… ia sendiri tak dapat memverbalkannya.

Dan tinggalah mereka berdua; Barra dan Gayatri.

Mereka sama-sama diam, canggung. Namun pada akhirnya Gayatri yang memulai tindakan.

”Trims, Barr,” ucap Gayatri.

Barra bingung, ”Jangan aneh, trims untuk apa?”

Gayatri tersenyum, ”Udah deh, aku mau Small Feast untuk dibawa pulang, cukup kan kalo buat aku, kamu, sama adik kamu Ninthya?”

Barra mengernyit, namun akhirnya tersenyum. Ia mengerti mengapa Gayatri berbuat demikian.

* * *

Dua hari lagi Bandung Fashion Week akan diselenggarakan. Gayatri sudah bulat dengan keputusannya. Kepitusan yang diambil karena pertemuannya dengan Dayana dan Barra.

”Kamu selalu jadi sosok kontras di seluruh tindakan aku.” Gayatri menerawang. Ketika itu, ia, Barra, dan Ninthya berada di halaman rumah Barra yang asri dan sejuk sambil menikmati Small Feast yang dibelinya.

”Perasaan mau melindungi, Kak. Soalnya abang udah lama naksir Kak Aya. Bodohnya, abang gak bisa nunjukkin sikapnya, right?” Ninthya dengan ceplas-ceplos langsung to the point, membuat Barra dan Gayatri sama-sama tersipu.

Barra melotot pada Ninthya, isyarat untuk lekas tutup mulut.

Alright, alright. Aku bakalan tutup mulut, Bang.” Ninthya mencibir. Ia gerah dengan sikap abangnya yang slow motion banget untuk ngerebut hati Gayatri.

”Soalnya gue selalu liat elo cuma mentingin diri lo sendiri dalam kondisi apa pun,” Barra meralat ucapan adiknya.

”Bukannya juga nggak baik kalo mentingin orang lain?” protes Gayatri. ”Peduli sama diri sendiri itu lumrah kok, kamu aja yang berlebihan…”

”Nggak ada yang salah sama kepedulian. Cuma sesuatu yang berlebihan itu nggak pernah baik. Trust me,” ucap Barra.

Gayatri dan Ninthya mengernyit bingung, agak jengah dengan Barra yang berfilsafat. Apalagi Gayatri, ia tidak suka berteka-teki. Seolah mengerti Barra langsung bertanya, ”Apa sih arti kepedulian menurut kalian berdua?”

Gayatri dan Ninthya saling memandang, lalu nyengir bareng. Mereka memang tidak bisa mendefinisikan apa arti kepedulian yang sebenarnya.

”Gue sendiri nggak tahu apa arti kepedulian yang sebenarnya. Tapi kebanyakan kepedulian diartikan terlalu sempit,” papar Barra.

”Maksudnya?” tanya Ninthya.

Well, kebanyakan orang, cuma tahu kalo peduli itu orang yang rela ngasih sesuatu pada fakir miskin. Tanpa embel-embel apa pun. Kalo beramal artinya kita peduli. Padahal kepedulian itu sendiri punya arti luas.” Barra tersenyum.

Barra pun melanjutkan, bahwa kepadulian itu bisa terhadap lingkungan, teman, serta diri sendiri. Dan sepertinya ungkapan Barra direspons baik oleh Gayatri dan Ninthya.

”Sesuatu kalo berlebihan itu nggak baik. Termasuk kepedulian… Contohnya ketika Dayana terlalu peduli sama dirinya, di mana otak nggak kooperatif banget kan sama nuraninya? Kalo terlalu peduli sama sekitar, mungkin lo cuma mikirin hidup orang terus. Dan hidup lo? Apa rapi tatanannya? Nggak, kan?”

Gayatri dan Ninthya termenung, setuju dengan perkataan Barra.

”Sesuatu itu paling baik kalo takarannya pas. Kalo bisa balance antara satu dengan yang lain, right?” Barra tersenyum.

Kini Gayatri tahu apa yang mesti ia lakukan. Apa yang paling cocok ia lakukan. Dia nggak mau seperti Dayana, walaupun diakui keberadaannya, dengan sifat yang minus begitu, siapa yang respek dan mau berteman dengannya?

Ia pun tahu, Bandung Fashion Week seperti apa yang cocok baginya, bagi Bandung, bagi Indonesia, bagi bangsanya. Di mana bukan cuma eksistensinya saja yang diketahui keberadaannya, juga orang-orang yang berhak diketahui keberadaannya!

* * *

Fakultas Seni Rupa dan Desain kampus Gayatri sudah disulap sedemikian rupa menjadi pagelaran busana. Berkat team work yang baik, BFW berjalan lancar. Pengisi acara begitu ramai. Banyak yang meliput datang di acara ini. Fashion people yang diduga Gayatri tidak akan suka akan konsepnya ternyata memberikan dua jempol untuk Gayatri. Bahwa Gayatri penggagas yang amat andal.

Dayana sempat mengeluarkan fool statement-nya tentang Gayatri yang stupid, dan nggak tahu terima kasih. Namun ia hanya menganggap itu sebagai angin lalu. Betapa senangnya Gayatri bahwa ternyata ia dipercaya, dan kepercayaan itu tentunyatidak akan ia sia-siakan.

Tema pekan fashion show adalah kepedulian pada Indonesia, kepedulian terhadap sesama. Pekan fashion ini menggambarkan dengan jelas keberadaan Indonesia. Gayatri ingin membuktikan bahwa ia peduli dengan sesama.

Model yang tadinya akan diambil dari agency, Gayatri ambil dari teman-teman kampusnya yang badannya nggak kalah kapstok, lalu pengiringnya pun anak-anak muski kampusnya. Selain menggandeng perancang kawakan, BFW juga mewadahi baju-baju keren yang nggak kalah bersaing yakni rancangan teman-teman fakultasnya. Dekorasi dibuat dengan kerjasama pihak kampus. Dia ingin memberikan sumbangsihnya pada kampus dengan cara memakai kampusnya semabagi tempat BFW.

Well, lo udah berhasil, Mrs Fashion. Kali ini gue nggak akan berkomentar apa-apa,” Barra nyengir.

Gayatri tertawa. ”Semua berkat kamu. Trims Barr, udah nyadarin aku. Kamu boleh minta apa aka dari aku. Mmm… asal masih terpaut dengan akal sehat lho ya!”

Barra tersenyum, penuh konspirasi, membuat Gayatri bergidik agak ngeri.

How about a leisurely undisturbed dinner? You and I!” kata Barra yakin.

Gayatri langsung speechless. ”Hey, ini masih dalam acara, Barr. Acara baru selesai jam sebelas.”

”Tenang aja, Kak. Segalanya aku yang atur!” Entah dari mana Ninthya muncul, lalu memberi isyarat agar Barra lekas ‘menculik’ Gayatri untuk dinner. Dan ternyata sudah ada Oscar Lawalata yang mengacungkan jempol, di mana ia sudah bekerja sama dengan Barra dan Ninthya!

”Serahin ke aku, dan semuanya akan lancar.” Oscar tersenyum.

Barra pun berlari menggandeng Gayatri. Ia berjanji akan mengajarkan lagi Gayatri arti kepedulian yang lain, dan akan selalu menjadi the contrary one apabila ada sesuatu yang dianggapnya aneh dalam diri Gayatri.

Dalam hati, Gayatri pun berbisik dan yakin apa yang dianutnya kini. Bahwa sesuatu tidak baik jika disimpan sendirian. Berbagilah dengan cara apa pun—sekecil apa pun. Layaknya langit ini yang terbagi, bukan hanya untuk dirinya, juga untuk yang lain. Dan langit biru di hati Gayatri kini terbagi dua—antara dirinya, dan juga Barra.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

2 thoughts on “Halved Azure”

  1. Wuih, Tha. Gue berasa banget suasana kampusnya. *karena ceritanya gue anak kampus yang baru semester tiga*
    Istilah fashion lo, karena lo memang suka dan ngerti fashion atau riset sebelumnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s