Tanpa Saya

Image

“Tanpa kamu, entah bagaimana hidup saya.”

Kerapkali, mungkin pernyataan yang senada dengan kalimat itu terdengar. Tapi, saya kembali termenung dan berpikir. Bagi saya, bagaimana jadinya hidup tanpa saya?

Dunia mungkin lebih ceria jika tanpa kehadiran saya. Orang-orang yang disakiti hatinya oleh saya bisa lebih bahagia, dapat menjalani hari-harinya dengan riang. Tanpa saya.

Konteks “tanpa saya” sendiri saya bagi menjadi dua. Tanpa saya karena memang saya tak ada dari awal, atau tanpa saya setelah saya hadir di hidup ini.

Tanpa saya karena memang saya tak ada dari awal. Pasti dunia ini lebih ceria dan gempita. Tanpa harus ada orang yang memiliki watak aneh seperti saya. Rasa-rasanya saya ini memang hanya benalu di hidup ini. Ah, Tuhan. Betapa entitas kecil seperti saya ini gemar sekali mengeluh. Entah apa manfaat Kau ciptakan saya ini. Torehan takdir eksistensi saya ini sebenarnya untuk apa… saya sama sekali bukan sosok kuat yang mampu mengenakan topeng dengan lama.

Tanpa saya setelah saya hadir di hidup ini. Mungkin mudah sekali jika kita menyebutnya kematian. Dulu, sewaktu saya SMP saya berpikir bahwa cara mengukur betapa berartinya seseorang dalam hidup ini dapat dilihat dari kematian orang itu. Tapi rasanya ketika saya mati pun, rasanya sangsi jika disambut airmata. Entah. Pesimistis yang ada di dalam hati saya pun mengatakan, bahwa eksistensi saya tak memiliki pengaruh apa-apa terhadap orang lain. Bahwa tak ada arti apa-apa keberadaan saya.

Jadi, bukankah lebih baik hidup ini berjalan adanya tanpa saya?

Saya sendiri mengisi ruang-ruang di hati saya ini dengan berbagai macam orang. Saya kotak-kotakkan dan susun sesuai dengan arti mereka di hidup saya. Jika tanpa mereka, betapa hati ini seperti diiris sembilu. Sembiluan. Pedih. Perih. Tetapi, saya juga sangsi ada yang mengisi hati mereka dengan eksistensi saya. Toh memang lebih baik lenyap saja, mundur jauh-jauh dari hidup mereka.

Bahkan ketika sekarang pun, saya dapat menangkap getar-getar kata tidak suka yang tersirat dari mereka. Tapi, saya tetap berlagak bahwa itu hanya saya saja yang terlalu sentimentil. Tapi saya tahu, kebenaran yang ada mengatakan saya ini adalah rumput liar yang ingin sekali mereka enyahkan.

Mati saja. Mati.

Untung saja saya masih memiliki mimpi. Jika mimpi ini tidak ada dan mati, mungkin saya juga ikut mati. Melebur dan menyatu dengan tanah.

Apakah kamu tahu rasanya menjadi sandbag? Itu yang saya rasakan dulu. Dihajar pukulan-pukulan keras tanpa dapat menghindarinya. Sembiluan. Bersender pada siapa saya pun tidak tahu. Sekarang? Entah. Mungkin masih sama.

Kata-kata manis itu. Saya hanya dapat tertawa datar dengan kata-kata itu. Mungkin kata-kata itu hanya terucap ketika mereka memiliki visi tertentu. Barulah manis di telinga kata-kata itu. Toh setelahnya saya tetap menjadi rumput liar yang tak elok. Ah, sudahlah.

Kadang dunia memang lebih baik tanpa saya. Dalam kedua konteks itu pun sama saja. Sama-sama tak berguna.

Saya ini orang yang suka bengis jika orang-orang yang bagi saya berharga disakiti. Tapi saya tidak yakin ada yang berani bengis demi saya. Ah, sudahlah. Lebih baik tidur, dan hidup di dunia mimpi saja. Memiliki kehidupan selain kenyataan kadang memang lebih baik. Bagi saya yang pengecut ini, dunia memang lebih baik berputar tanpa ada saya.

Saya yang terlupakan, saya yang dilupakan. Rasanya genang di pelupuk mata ini takkan pernah menjadi kenang di hati mereka.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s