Un’amica Cara Nel Cuore

Image

Sebenarnya, ini adalah posting-an lama di blog gue. Kejadiannya udah beberapa tahun yang lalu. Tapi gue rasa cerita ini masih layak menjadi reminder buat gue. Ataupun yang lain.

Jadi, waktu itu tanggal 5 September 2009. Masih inget banget waktu itu baru saja kelar salat tarawih (ya, bulan itu ketika bulan Ramadhan). Gue lagi SMS-an sama Irin, tentang planning tahun depan kayak gimana dan tes-tes yang akan kita lakuin. Maklum, tahun itu gue nggak kuliah, makanya concern untuk tes PTN di tahun 2010. Tapi tiba-tiba aja Indra SMS gue.

tha, Sukma Musa Antaprawiradiredja, meninggal tha….

Gak perlu lebih detail gimana SMS itu berlangsung dan balasan ke Indra. Tapi gue langsung shocked. Rasanya bener-bener nggak percaya, gue coba online dan di YM ada sent all dari kakaknya Sukma;

sukmamusa (9/5/2009 12:41:06 PM): Rest in Peacefully in our home at Plainsboro, Princeton New Jersey on Thursday 3rd, 2009. Sukma Musa Antaprawiradiredja in the age of 17. He will be fondly remembered by his family and friends. Sukma’s funeral service took place at Nassau Presbyterian cemetery on Friday 4th, 2009 at 11.30am. The family and partner of the late Sukma Musa Antaprawiradiredja wish to express our sincere thanks to all relatives and friends for the kind expressions of sympathy, letters, cards of condolence and beautiful floral tributes received during our sad loss. Aisha KomariahAntaprawiradiredja.

Hati gue waktu itu tentu aja sesak. Nggak ngerti lagi perasaan gue saat itu. Tahu kan, rasanya kehilangan… ya seperti itu. Gue nggak tahu apa perasaan gue selain shocked. Gue coba buka Facebook, dan ada inbox; dari Sukma (kakak Sukma lebih tepatnya);

Inalillahi wainailaihi roji’un,
Telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang, putra, adik, kakak kami tersayang Sukma Musa Antaprawiradiredja bin Achmad Maulana Antaprawiradiredja pada Kamis dini hari Eastern Standard Time.
Kami mohon maaf atas semua kesalahan yang pernah dibuat semasa hidup baik yang disengaja maupun tidak. Mohon doanya agar Sukma bisa dengan tenang menghadap sang khalik.
Kami juga mengucapkan banyak terimakasih untuk semua teman Sukma di Indonesia atas dukungan, pertemanan dan cinta yang diberikan.
Atas nama keluarga,
Aisha Komariah Antaprawiradiredja
Wassalamualaykum wr, wb

Nggak ngerti. Nggak ngerti kenapa orang macam Sukma bisa dipanggil secepat itu. Sosok ngeselin itu! Sosok yang selalu ngekritik tulisan-tulisan fiksi gue yang emang payah. Yang ngasih tahu kalo novel Pride and Prejudice itu bisa dijadiin referensi. Ngasih tahu gimana caranya buat cerita nggak shallow dan cheesy

Sedih? Tentu aja sedih. Banyak banget yang belum sempet gue bilang sama dia. Gue belum sempet bilang makasih. Gue belum sempet bilang kalo eksistensinya adalah salah satu prioritas di hati gue. Seperti itu lah.

Kayaknya baru kemarin gue chatting sama dia, sharing tentang jualan roti unyil gue yang mana harus naik kereta dari Jakarta ke Bogor dan akhirnya ke Jakarta lagi. Bahkan Sukma pengin ikutan naik kereta ekonomi bareng kalo di Jakarta (in case keadaan belum seluruhnya Commuter Line seperti saat ini). Baru aja dia cerita tentang skripsi yang buat stres di universitasnya: Princeton University… Gue nggak mau percaya itu semua. Tapi gue harus percaya.

Sukma adalah sosok yang begitu kritis, dan jujur ngomong apa adanya. Kalo memang suka, dia bilang suka, dan kalo nggak, dia akan bilang nggak! He was totally kind (and I hate… I hate I have to write ‘was’).

Salah satu kalimat favoritnya dia ke gue  adalah “We did the best, and God’ll take a rest.” Dia yang buat motivasi gue naik lagi. Dia yang buat gue firing up kalo gue down ngeliat temen-temen gue yang udah kuliah.

Dan, janji dia untuk ikutan gue ambil roti di Bogor gak bakalan tercapai. Padahal dia yakin banget. Memang, dia pernah bilang kalo dia gak bakalan bisa survive terlalu lama… Dan memang, beberapa waktu lalu Sukma pernah cerita kalo dia lagi depresi dan bilang, “I’m not a prophet.” Dan dari situ pula dia cerita ke gue tentang penyakitnya, tentang alasan kenapa ia punya penyakit demikian… betapa hidupnya cuma hitungan bulan, bahkan hari. Dan betapa leganya dia kalo bisa tetap hidup sampai umur 20 tahun!!! Dan dia minta gue untuk bersikap biasa, dan gue tetap memperlakukan dia seperti biasa.

Rasanya, baru kemarin dia godain gue, nanya tentang prom gue gimana, apakah gue udah lepas virginity gue. Bego, emangnya gue orang Barat. Pacaran aja nggak saat itu. Fool, tapi maksudnya memang untuk menggoda. Baru gue cerita tentang kenapa orang bisa ngelakuin sexual harassment, baru aja gue bilang kalo gue suka banget nulis, baru aja kita cerita tentang Harry Potter… Masih terukir jelas di ingatan bahwa lo bilang lo kena penyakit Addison yang entah apa itu gue aja nggak ngerti. Yang jelas, itu penyakit berbahaya di telinga gue.

Namun, ketika gue renungi dan gue yakini, sesuatu pasti ada yang mengatur. Entah berkenan atau nggak di hati. Dan peristiwa ini (peristiwa sedih ini), mungkin reminder buat gue, di mana gue harus tahu bahwa kehilangan seseorang adalah awal dari sebuah kenangan baru yang terukir, pengingat buat gue (bahkan elo juga) untuk lebih menghargai momen-momen bersama dengan orang yang kita sayang di sekeliling kita. Bahkan, saat gue mikir tentang dia, gue nge-SMS dua orang yang menurut gue paling dekat di kehidupan gue di kampus.

Selanjutnya, gue akan terus nulis. Bahkan gue make nama lo di tulisan gue, Kinoy.

Dan untuk Sukma, mungkin belum sempet ketemu dan baru kenal setahun lebih ini aja, tapi bagi gue, seakan-akan udah kenal seumur hidup.

Sukma, un’amica cara nel cuore. Sahabat yang lekat di hati.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s