Jangkar 1: Ismaya

Image

Sudah satu semester aku menjadi mahasiswi di universitas negeri ini. Bayangkan, betapa beruntungnya aku. Kenapa kukakatan aku beruntung? Bagaimana tidak, aku tidak memerlukan serangkaian tes masuk perguruan tinggi. Hanya bermodalkan nilai rapor, aku lolos dan sekarang sedang menikmati masa-masa awalku menjadi mahasiswi baru bersama tiga orang yang entah mengapa sudah kudaulat sebagai sahabatku sejak awal adanya masa ospek. Bertemu dengan mereka pun bagiku adalah kebetulan yang menyenangkan. Bahkan, liburan kemarin kami dengan teman-teman yang lain baru saja menyelesaikan mozaik petualangan kami yang sungguh mengasyikkan, yakni keliling Pulau Jawa bermodalkan uang yang tak seberapa. Yang memang tidak sefantastis menjadi backpacker. Hal itu pula yang meyakinkanku bahwa mereka bertiga akan selalu berjalan bersisian denganku. Menjadi sahabatku. Sampai lulus nanti, sampai waktu yang tak terbatas.

Menyinggung soal sahabat, aku juga memiliki orang-orang menyenangkan ketika di SMA. Jika dikatakan orang masa-masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan, aku setuju. SMA adalah masa-masa paling mendebarkan di mana aku akhirnya berani untuk mengutarakan isi hatiku pada teman yang diam-diam kukagumi, meski memang ia tidak membalas perasaanku. Tapi setidaknya, ada kelegaan tersendiri ketika aku mengeluarkan isi hatiku. Rasanya plong. Selain hal itu, SMA adalah tempatku belajar mengenai berorganisasi dengan jabatan OSIS kala itu. At least, aku pro mengenai pandangan SMA itu masa-masa menyenangkan. Apalagi dengan orang-orang yang hangat di sekelilingku dengan tatapan tulus.

“Jangan bengong dong, May… Anthi juga mau ngisi formulirnyaa… Itu kan pulpen Anthi!” Anthi memprotes karena aku terdiam cukup lama dalam mengisi formulir.

“Tau lo. Gak modal,” ledek Musa. Dasar kompor.

“Ih, biarin aja. Kayak lo ‘modal’ aja, padahal tukang mintra traktir,” balasku sengit pada Musa, lalu beranjak pada Anthi. “Bentar ya, tinggal poin terakhirnya nih.”

Anthi mengangguk, meski sebenarnya tak sabar menungguku.

Kami berempat sebenarnya sedang coba-coba mengisi formulir untuk menjadi salah satu staf BEM universitas kami. Awalnya sih memang aku dan Sai yang ingin ikut. Bagiku hal ini kan kesempatan untuk berorganisasi di tingkat universitas, apalagi aku sudah terbiasa dengan aktivitas non-akademis sejak SMA. Tetapi akhirnya aku paksa Musa dan Anthi untuk mencobanya karena kurasa betapa menyenangkan jika bisa berorganisasi dengan mereka bertiga.

Omong-omong soal Sai, kenapa dia daritadi diam saja, ya? Ia terlihat begitu serius mengisi formulirnya seakan mencurahkan segalanya.

“Serius amat sih lo. Pengin banget ya jadi anak BEM? Biar eksis?” Musa masih saja gemar meledek, kali ini tertuju pada Sai.

Sai mendelik, terlihat bete dengan Musa. “Berisik. Tulis aja deh jangan ganggu. Lagian gue eksis atau nggak bukan urusan lo.”

Aku dan Anthi berpandangan, lalu tersenyum simpul. Dua cowok ini memang gemar sekali bertengkar, mirip Tom dan Jerry. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menjadi Tom, siapa yang menjadi Jerry. Yang jelas, mereka sama sekali tidak pernah seiya sekata. Musa tidak suka dengan beberapa pendirian yang dimiliki oleh Sai. Sementara itu bagi Sai, Musa adalah orang yang terkadang suka ribet sendiri. Tapi, toh anehnya mereka berdua juga kerapkali bersama, dengan aku dan Anthi juga tentunya.

Setelah beberapa menit, akhirnya kami berempat selesai mengisi formulir. Setelah memberikan formulir di salah satu ruangan yang ada di Gedung Pusgiwa, kami berempat akhirnya menunggu dengan duduk di lantai dekat tangga. Aku mencoba menyisir pandangan di Pusgiwa, dan memang penuh sekali dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kami: ingin menjadi keluarga di BEM ini. Dalam hati, aku pun mencoba merapalkan mantra. Semoga saja kami berempat bernaung di badan mahasiswa ini. Menorehkan segala kenangan yang mungkin akan manis jika diingat.

* * *

Bulan terlihat penuh, indah sekali. Seindah malamku kini. Tentu karena aku bersama seseorang yang memiliki tempat tersendiri di hatiku.

“Bagaimana tadi, Ismaya? Apakah wawancaranya lancar?” Laki-laki tinggi itu menepuk pundakku. Kuyakin telinganya sudah siap untuk mendengar ceritaku seharian ini. Aku dan dirinya memang suka duduk membicarakan hal-hal remeh untuk menghabiskan waktu berdua saja di salah satu sisi fakultas kami yang tak terlihat oleh mahasiswa lainnya. Tempat favoritku, mungkin juga tempat favoritnya.

Sebelum menjawabnya, kuperhatikan sosoknya. Ia tampak begitu tampan di bawah sinar rembulan. Tubuhnya dibalut dengan kemeja berwarna biru tua dan jins panjang, tidak lupa sepatu olahraga yang menjadi andalan dan kegemarannya. Sebenarnya bagiku agak aneh melihat selera lelaki ini dalam berpenampilan. Untunglah wajahnya membuat selera pakaiannya menjadi tidak janggal.

Ah, ya. Nama laki-laki tinggi ini adalah Luthfi. Ia adalah pacarku. Kekasihku. Yes, we’re an official item.

Aku hanya dapat memandangnya dengan seksama. Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan sosok di hadapanku ini? Konon, teman-teman sejurusanku mengatakan dia adalah orang menyebalkan yang sangat mendewakan nilai dan IPK. Tipikal laki-laki yang akan melakukan apa saja asal nilainya bertengger aman. Bukankah dari situ aku seharusnya menyimpulkan bahwa laki-laki ini sangat manipulatif? Tetapi… mungkin itulah cinta. Kau sama sekali tak dapat memilah siapa orang yang akhirnya kaudaulat sebagai orang yang paling kaucintai.

“Kok diam saja, Ismaya?” Luthfi duduk di sampingku. Ia pun mengambil sebuah boneka beruang grizzly seukuran tangan dan dimain-mainkannya di hadapanku. “Kok Puteri Cantik diam saja? Grizzly The Bear kan penasaran…”

Melihat Luthfi yang biasanya kaku dan berakting begini membuatku geli. Betapa berbeda tampilan luarnya dengan apa yang kusaksikan sekarang. Karena tak tahan akhirnya aku bercerita tentang hari ini. Hari yang cukup menyenangkan bagiku karena ditutup dengan kelakuan random kami berempat setelah wawancara staf BEM, yaitu keliling Depok dengan menumpang mobil Sai.

“Aku rasa harimu ditutup dengan obrolan malam ini, Ismaya. Bukan dengan mereka.” Luthfi tertawa renyah. Suaranya yang rendah itu selalu terekam dengan jelas oleh indra pendengaranku. Satu hal yang kusuka dari dirinya.

Aku pun meraih Grizzly The Bear, mengangkatnya dan menciumnya. Karena kutahu, boneka itu telah disemprot parfum Kenzo milik Luthfi.

“Orangnya di dekat sini tapi kenapa bonekanya yang dicium sih?” Luthfi mendelik, pura-pura jengkel.

Aku pun meninju pelan lengan Luthfi. Setelah itu kudekatkan diriku dengan tubuhnya yang sedang duduk rileks. Kumiringkan kepalaku agar dapat bersandar di bahunya.

Nyaman. Dan dengan jelas dapat kuendus aroma yang menguar dari tubuhnya. Wanginya berbeda dari Grizzly The Bear karena sudah tercampur dengan peluh, yang entah mengapa justru lebih kusuka. Mungkin karena wanginya yang lebih manusiawi…

Mungkin aku sekarang berada di nirwana, dibuai oleh kenyamanan surgawi. Betapa mungkin seorang dengan jiwa seperti Luthfi memilihku sebagai kekasih? Lumrah jika aku menyukai jiwa yang terbungkus raga seperti Luthfi. Tetapi… dengan aku yang banyak dibilang orang suara tawanya begitu berderai-derai dan keras, di mana orang-orang hanya melihatku sebatas rupa dan begitu boyish, Luthfi datang dan menawarkan cinta.

Entah bagaimana hancur perasaanku jika suatu saat nanti ia pergi.

Luthfi merangkulku dengan tangan kirinya, diciumnya rambutku. Aku pun hanya dapat memejamkan mata, berharap bahwa hari ini akan selamanya terjadi.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

2 thoughts on “Jangkar 1: Ismaya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s