Pesonamu adalah Tebing

Saya masih ingat, ketika sua pertama. Kamu masih redup di mata saya kala itu. Masih belum menjangkau kalbu ini. Saya hanya sebatas mengenalmu dari kejauhan. Kamu adalah sosok sambil-lalu. Perempuan di sudut bus yang terlihat kekanakkan.

Namun, penentuan itu menjadi bumbu yang paling manis untuk saya. Kamu hadir sebagai teman. Mungkin asap-asap knalpot itu saksi persahabatan kita. Bangku-bangku kusam dan bau itu saksi obrolan kita dimana kita mulai mencari tahu satu sama lain dengan obrolan ringan namun sarat makna bagiku.

Setahun terlewat, kamu mulai menggelitik kalbu saya. Menghasut nurani, membenarkan perasaan meski hati berpemilik. Pesonamu mengalahkan segalanya sehingga saya memutuskan untuk mengosongkan hati bagi siapa pun. Ketika hati ini tak berpemilik, kamu tetap menjadi teman saya yang amat menyenangkan. Mungkin obrolan santai itu kamu anggap suatu yang lumrah terjadi, namun sebenarnya adalah pijaran cahaya yang kamu sisipkan secara perlahan di dada ini. Pesonamu kala itu jua membolak-balikkan perasaan saya. Kamu tahu, bahwa mungkin rongga-rongga kosong yang ada di hati saya mulai kamu penuhi kala itu?

Waktu pun berbicara, ternyata antara kita memang memiliki sesuatu. Sesuatu yang tak terbaca oleh siapa pun. Hanya kita berdua. Sayangnya, status menjadi masalah. Tidakkah kamu baca jutaan cinta yang saya pancarkan lewat sepasang mata ini? Atau saya yang terlalu naif untuk mengakui bahwa ada senyuman sarat kasih-sayang yang kamu balas? Sehingga sampai lama sekali saya menjalin hubungan tanpa ada kejelasan status antara kita?

Entah, entah kamu anggap apa saya ini. Pengecut yang tak pernah berani menyatakan cinta atau chicken yang suka mempermainkan perasaan. Anehnya, kita nyaman berlama-lama seperti ini. Menikmati ketidakpastian ini… Sampai bertahun-tahun.

Sampai suatu ketika dia datang. Sebut saya tidak memiliki perasaan. Ketika kegamangan akan hubungan kita, saya malah lari. Menghindarimu dan mencoba mencari pelipur dahaga yang tak pasti di hati ini. Namun, saya adalah pecundang. Saya gagal. Lalu lari lagi kepadamu.

Entah apa yang kamu rasakan saat itu. Tetapi, kamu terlihat menjauh. Dan entah kenapa perasaan yang tahunan saya pupuk itu juga tersapu angin. Banyak yang berbicara bahwa adalah bohong ketika sapuan angin itu tak menyisakan apa pun di hati ini. Tetapi jujur, memang tidak ada. Saya lebih nyaman sendirian kala itu.

Lagi-lagi suatu kejadian. Saya mencoba bersahabat lagi denganmu. Memisahkan cerita lalu dengan menjadi sahabat yang baik untukmu. Dan kejadian itu muncul. Ketika saya ingin jujur akan perasaan yang dahulu pernah singgah, kamu menganggap itu adalah sebuah deklarasi. Deklarasi bahwa saya ingin hati saya adalah milikmu. Perasaan bersalah menderu, tak dapat saya verbalkan bahwa keputusannya adalah kamu menyerahkan hatimu.

Saya gamang. Melanjutkan hubungan denganmu sama saja membohongi dirimu. Mungkin status yang dulu tak jelas kini jelas. Tapi kejelasan itu adalah bumerang bagi saya. Saya yang sudah mengosongkan hati. Akhirnya, hanya beberapa hitungan jari hubungan itu cepat  saya “putuskan”. Saya ingin menjadi sahabatmu. Bukan kekasih.

Bodohkah saya? Ketika saya berkata bahwa kamu lebih cocok menjadi adik saya? Mengatakan bahwa kamu adalah orang yang berarti namun mencampakkan hati yang nyatanya memang sudah terlanjur kamu beri pada saya?

Sekarang kamu pun menjauh. Saya sadar kamu kecewa. Saya sendiri heran mengapa Tuhan membolak-balikkan hati saya begitu cepat. Saya menyayangi kamu jauh lebih dari yang kamu tahu. Tetapi kadarnya bukan untuk menjadi “sepasang”. Adakah jalan yang harus dilalui untuk menjadikanmu seperti sedia kala? Seperti kala saya dan kamu bersahabat?

—Teruntuk kamu, yang kian menjauh—

Pernah ditulis di blog Tumblr pribadi pada 6 Desember 2011

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

3 thoughts on “Pesonamu adalah Tebing”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s