Jangkar 2: Sailendra

Image

Tuh kan, apa gue bilang. Musa itu ribetnya kebangetan. Kadang gue mikir sebenernya dia itu cewek atau cowok sih? Lagian gue kan cuma ngaret sepuluh menit! Dia terus-terusan nge-WhatsApp dan mengancam bakalan pulang duluan kalo gue nggak segera datang. Hah!

Dasar bawel. Akhirnya gue pun berlari-lari kecil dari parkiran mobil yang sebenarnya jaraknya nggak seberapa dengan fakultas gue. Ketika sampai di selasar fakultas, terlihat Musa yang sudah memasang muka nyebelinnya.

“Rumah lo kan deket, harusnya on time,” keluhnya.

Gak tahu apa kalo di Pasar Minggu lagi ada razia yang buat macet? Tapi, gue milih diam. Abis, kalo gue nimpalin, tentu gue dan Musa akan cekcok mulut. Like women. Dan oh, gue gak suka hal itu. Lagian, kalo emang beneran nanti kita sensi-sensian, tugas ini gak akan selesai. Apalagi deadline-nya malam ini! Mengingat dosen yang nyebelin itu cuap-cuap karena telat ngirim tugas buat gue mual.

“Mau ngerjain di mana?” tanya Musa lagi.

“Di MBRC deh,” sahut gue.

“MBRC tutup, bego. Di selasarnya aja deh, lagian masih dapet wifi, kan.” Musa menginterupsi.

Gue pun hanya bisa manggut-manggut. Terserah deh Musa mau gimana, daripada ribet. Gue pun mengikuti Musa dari belakang. Entah mengapa dia selalu suka memberi jarak pada orang-orang. Kalo gue perhatiin, dia gak suka kalo berjalan bersisian. Aneh aja gitu buat gue. Ah, tapi bodo amat deh. Ngapain gue ribet begini mikirin soal Musa yang gak suka jalan bersisian…

Akhirnya kami memilih duduk di selasar MBRC yang berhadapan dengan musola fakultas. Mungkin Musa berpikir biar akses untuk beribadah jadi lebih gampang mengingat sedikit lagi emang mau dzuhur. Gue pun mengikutinya berinisiatif dan akhirnya membuka laptop, di mana gue memang sudah dari awal mencari data-data mengenai tugas kami.

Musa terlihat begitu serius dengan layar netbook-nya. Tiba-tiba saja raut mukanya berubah tegang. Gue pun nyoba untuk mengintip apa yang sedang dilihatnya sampai rautnya berubah begitu.

“Udah ada, Sai! Udah diumumin!” serunya agak tercekat.

Gue beringsut ke arahnya. Ternyata Musa sedang membuka official website dari BEM universitas kami. Dan, jantung gue pun juga ikut ser-seran karena pengumuman staf BEM sudah ada. Lebih cepat satu hari dari yang diumumkan.

“Eh, SMS Maya sama Anthi dong, Mus,” ujar gue.

“Gak ada sinyal. Lagian menurut gue nggak perlu,” balasnya. “Karena dari kita bertiga hanya nama Anthi yang nggak gue lihat.”

Oh.

Hah?

Kesimpulannya berarti gue, Musa, dan Maya lolos?

“Tapi kita bertiga lolos?” tanya gue. “Gue dapet apa? Lo sendiri gimana?”

Musa menunjuk layar netbook-nya. Gue pun membaca dengan seksama. Oh, baiklah. Kita bertiga mendapat pilihan pertama. Kecuali Anthi. Tapi, ada sedikit perasaan lega ketika melihat nama Maya yang tepat berada di bawah gue dalam pengumuman itu. Artinya akan ada setahun bersama dengan Maya untuk menjalankan berbagai program kerja yang ada dalam departemen yang kami pilih. Tapi, harus digarisbawahi kalo perasaan lega ini ada karena gue punya kenalan yang katakanlah lumayan dekat, jadi gak perlu susah menyodorkan tangan untuk berkenalan dengan staf yang lain. Sifat Maya sendiri kan juga cenderung ramah dan suka banget bersosi
alisasi.

“Wah, congrats buat kita!” seru gue dengan riang.

“Yeah, yeah.” Musa menanggapi. “Tapi tugas dulu nih…”

Gue pun mendengus. Kenapa ada aja sih tugas di kala perasaan lagi senang begini.

* * *

Gue melirik Musa yang daritadi menurut gue sangat uring-uringan. Bahkan, pengumuman kalo dia lolos jadi staf BEM aja nggak buat raut muka ketekuknya berubah. Kalo gue pikir, tugas kuliah juga udah kelar. Bahkan setengah jam sebelum deadline sudah dikirim ke e-mail dosen bersangkutan.

“Galau, lo?” tanya gue, mata gue tetap fokus menyetir.

Musa hanya melirik gue tanpa menjawab. Pandangannya lalu beralih lagi ke sisi kiri, memperhatikan toko-toko yang berjejer sepanjang jalan Margonda. Gue yakin sih, dia lagi beneran galau. Galauin Jani yang konon sempat dekat dengan Musa waktu jaman SMA. Mau sih, ngeledekin Musa. Tapi gue harus tahu diri karena gue sendiri masih ngerasa belum bisa move on dari mantan gue. Jadi, terkuncilah mulut gue untuk nyinyir. Kadang bagi gue sendiri, sosok perempuan itu memang menyebalkan. Maksud gue, kadang gak adil aja kenapa cowok sentimentil macem gue—gue ngaku gue agak sentimentil dan melankolis…. tapi hanya ‘agak’ kok—bisa ketemu dengan dia yang punya segalanya. Yang dengan gampang aja membuat gue luruh begini. Lah, kenapa jadi galauin cewek…

“Harusnya seneng kali, Mus. Lagian kita sama-sama masuk BEM. Kebayang serunya setahun ke depan.” Gue pun mencoba agar percakapan kami rileks.

“Seneng kok,” balas Musa sekenanya.

Hah, emang lagi kesambet setan apaan sih Musa ini. Gue ajak ngobrol responsnya sama sekali gak nyenengin. Penasaran sih, tapi gue harusnya udah maklum sama sifatnya suka jaga jarak. Ya kayak truk di depan gue nih, udah mewanti-wanti nempelin stiker begitu biar gak nabrak.

Dan, betapa betenya gue di jalan kayak nyetir sendirian. Biasanya kan si Musa paling bawel kalo lagi ngumpul. Ini kenapa tergelepar diam dan sok ngunci mulutnya sih. Tapi ya sudahlah, gue pun akhirnya memutuskan untuk menyalakan radio. Biar nggak bosan…

Gue pun bertanya-tanya, kenapa harus lagunya Maliq sih? Iya, Maliq & D’Essentials! Dan lagunya kenapa harus Untitled?

Lirih, gue bisa mendengar Musa mendesis, “Hah, lagu ini!”

Lagu ini, lagu yang sama-sama membuat gue dan Musa menggelepar. Meruncingkan memori mengenai kisah kelam kami masing-masing. Gue mulai jengah ketika musik itu terputar. Make me sick! Mau matiin radionya, malu juga sama Musa. Nanti gue kelihatan rapuh banget, kali. Yang punya jiwa terlalu sentimentil sebagai cowok.

Maka akhirnya gue putuskan untuk mendengarkan lirik yang bisa menyayat hati gue, dan bahkan juga Musa. Tapi yang harus dicatat, kalo stasiun radio ini tetap memutar lagu-lagu galau dan mellow, fiks banget sih gue bakal ganti. Seenggaknya selama perjalanan rumah Anthi deh.

Adakah ku sedikit di hatimu?

Sindir aja terus, dasar lagu sialan!

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s