Jangkar 3: Musa

Image

Saya heran kenapa Sai belingsatan selama perjalan ke rumah Anthi. Sebenarnya saya tahu, lagu yang diputar stasiun radio itu rasanya bagai mencemooh kisahnya. Tetapi agak berlebihan bersifat seperti demikian. Saya sendiri pun merasa ditertawakan lagu-lagu itu, tapi ya mau bagaimana lagi?

Dan setelah memakan waktu sekitar dua puluh menit, saya dan Sai sampai di rumah Anthi. Rumah Anthi selalu menjadi tempat favorit kami untuk berkumpul. Sebenarnya karena alasan letak rumah Anthi yang paling memungkinkan. Tapi sebenarnya di antara kami berempat, hanya saya yang memiliki jarak rumah terjauh. Mereka bertiga memiliki rumah yang tidak terlalu dekat tetapi masih dalam teritori Jakarta Selatan, sedangkan saya berada di Jakarta Barat. Tapi, yang aksesnya paling mudah adalah rumah Anthi.

Begitu pun hari ini, setelah saya dan Sai menyelesaikan tugas dari dosen bengis itu, kami sepakat untuk ke rumah Anthi. Kami sama-sama tahu bahwa Anthi memang rapuh. Apalagi dengan fakta bahwa hanya dia yang tidak masuk BEM di antara kami berempat.

Bahkan ketika saya dan Sai sampai di rumah Anthi, Anthi sudah terlihat keruh. Nuansa ruang tamu rumah Anthi yang biasanya riang, kali ini terlihat sendu. Di sisinya terdapat Maya yang sedang memain-mainkan rambut Anthi yang lurus itu.

“Kalian hebat, Anthi turut bangga.” Dengan suara gemetar Anthi bersuara. Ada nada kesedihan yang dapat saya tangkap.

“Lo juga hebat,” sela Maya. Maya yang pernah satu SMP dengan Anthi nampaknya lebih tahu sifat Anthi yang rapuh. “Lagian kenapa sedih gitu sih?”

Saya dan Sai mencoba untuk duduk di sofa hijau yang masih kosong, berhadapan dengan tempat duduk Anthi dan Maya.

“Santai aja, Thi. Kan kita sejurusan. Lagian lo juga sekelas sama Maya. Bisa banget kok kita masih main.” Saya ikut-ikutan mencoba menenangkan.

Masih saja Anthi menutup wajahnya dengan satu kedua tangannya, tak ingin airmata yang sudah merembes di pipinya itu terlihat oleh kami.

Anthi. Kianthi Baskoro. Sosok perempuan kekanakkan yang rapuh bagi saya. Anthi pernah bercerita bahwa masa SMA-nya tidaklah begitu menyenangkan. Masa SMA-nya bagai sembilu yang menyobek-nyobek hatinya. Karena kisahnya itu saya cukup dekat dengannya. Kisah yang sama-sama saya alami. Jika orang-orang mengatakan masa SMA adalah masa menyenangkan, tidak untuk saya dan juga Anthi. Kami harus memakai topeng agar bisa diterima. Tidak ada kesepakatan untuk menjadi sahabat. Apa yang kaubawa adalah mahar untuk menjadi seorang yang menarik. Sedangkan mahar yang saya bawa hanya diri saya ketika di SMA. Maka dari itu lama-lama saya sendiri luruh, pudar, dan tak berbekas ketika itu.

Di kuliah, saya sendiri bersyukur dapat bertemu dengan tiga orang ini. Entahlah, meski saya sendiri sebenarnya masih menyangsikan akan kedekatan kami berempat. Tapi ada atmosfer nyaman yang dihadirkan jika bersama mereka.

Waktu pun bergulir begitu cepat. Sudah lebih dari enam bulan saya mengenal mereka. Dan, entah mengapa tanpa mendeklarasikan apa pun kami selalu bersama. Mulai dari pekerjaan untuk mahasiswa baru seperti tugas fakultas maupun departemen kami yang konon seperti mengerjai kami, tugas-tugas mata kuliah pengantar di mana sebenarnya kami beda kelas, dan berbagai kegiatan harian seperti makan di beberapa kantin fakultas.

“Udah ah, Anthi kan nggak kenapa-napa. Anthi cuma takut aja kalian nggak mau main lagi sama Anthi,” gumam Anthi, diseka airmata yang sudah terjatuh di pipinya itu. “Dan itu merupakan ketakutan Anthi yang nggak beralasan.”

Saya tercenung. Bukan, bukan pada alasan mengapa Anthi beralasan seperti demikian. Tetapi, saya merasa ada rasa asing yang sebenarnya menyergap.

Ada pertanyaan besar di benak saya: apa yang saya lakukan di sini? Apakah kami benar-benar bersahabat? Atau hanya sekedar kawan dalam satu jurusan? Apakah keberadaan saya di sini dapat menenangkan Anthi? Memangnya saya punya arti apa di mata Anthi, juga di mata Maya dan Sai?

Aneh… meski demikian, saya rasa semuanya adiktif. Tingkah mereka candu.

“Yang harus lo yakinkan sama diri lo, Anthi, adalah gue yakin kalo kita berada dalam satu pijakan. Artinya, kita berada di dalam satu rumah. Tiap anggota rumah memiliki tujuan masing-masing, tapi tentunya tahu di mana mereka akan kembali.” Maya mulai mengeluarkan jurus-jurus sentimentilnya, yang entah mengapa selalu jadi favorit saya.

Bukannya tenang, Anthi justru menangis lagi. Dengan erat ia peluk Maya, suaranya masih dapat kami dengar terisak-isak. Saya coba melirik Sai, ia malah sok tak peduli, meski saya sebenarnya tahu ada gumaman yang membuktikan bahwa sebenarnya ia terenyuh, entah oleh kata-kata Maya atau oleh sikap Anthi.

Maya pun memberi kode kepada saya dan Sai, bahwa Anthi memang hanya butuh menumpahkan segala kekhawatirannya.

Ya, saya tahu. Tiap manusia memang memiliki ketakutan tersendiri. Jika rasa takut itu tidak ada, justru menjadi tanda tanya besar apakah orang itu masih memiliki hati atau tidak. Beberapa menit pun berlalu dalam keheningan. Di ruang tamu rumah Anthi yang biasanya gempita.

“Yuk ah, udahan waktu galau-galaunya. Kita delivery order yuk. Mau Pizza Hut atau Hoka Hoka Bento?” Sai memecah kesunyian.

* * *

Saya merapalkan lagu yang pernah saya bawa bersama teman-teman SMA saya dulu di paduan suara. Lirik yang diadopsi oleh puisi karya Samuel Daniel. Dan lirik itu begitu pilu…

Love is a sickness, full of woes, all remedies refusing

Angin tiba-tiba saja datang menderu-deru, usil memainkan rambut yang baru saja saya sisir dengan tangan ala kadarnya lewat jendela kamar yang memang saya biarkan terbuka. Saya tersenyum simpul, geli. Angin adalah teman paling setia yang saya miliki. Selalu saja ia menyapa begini. Oh, tunggu. Jangan pikir saya gila karena merasa angin adalah teman saya.

Saya pandang langit yang terlihat begitu pekat. Masih ada beberapa pendar bintang yang dapat saya tangkap.

Bintang.

Dada saya tiba-tiba sesak melihat gemintang di langit yang mengingatkan saya pada Janita Bintang. Angin pun mengubah suasana hati saya jadi melankolis dan sentimentil. Jani… sedang apa dia? Apakah yang sekarang ia lakukan? Apakah ia mengingat saya seperti mengingat dirinya?

Move away is not move on, Sailendra.” Itu yang saya katakan pada Sai, ketika ia bercerita tentang mantan pacarnya.

Sok sekali saya mengajarinya demikian, memangnya saya sudah melakukan hal itu? Saya terus saja berlari, menjauh. Padahal hati ini tetap saja tertambat padanya.

Jani… bagaimana caranya mengenyahkan bayanganmu di hati ini?

Tiba-tiba saja suara musik funk menyentak, ponsel saya bersiul-siul. Saya yang sedang berdiri di depan jendela kamar yang langsung berbatasan dengan luar rumah langsung meringsut dan menggapai ponsel tersebut.

Ternyata SMS dari kepala departemen. Besok akan ada rapat perdana untuk kami yang baru saja menjadi ‘keluarga’. Hmmm… berarti kemungkinan Maya dan Sai juga mendapat SMS serupa untuk departemennya. Artinya, Senin besok setelah kelas Anthi sendirian. Apakah ia akan baik-baik saja, ya? Apakah ia dapat menjaga emosinya di kampus? Atau akhirnya ia memilih untuk langsung pulang di rumahnya? Bukannya childish, tetapi Anthi itu child-like. Tindak tanduknya seperti anak kecil. Semoga dia baik-baik saja besok.

Tiba-tiba angin kembali menyergap tubuh saya, melewati jendela kamar. Betapa dapat saya dengar angin berbisik lirih melagukan kegundahan saya pada Jani.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s