Di Dalam Kereta

Image

ALIT merasa dirinya kalah—telak.

Keyakinan dan kepercayaan dirinya, yang selalu ia jaga utuh di dalam hatinya luruh begitu saja dengan hasil yang ia dapatkan. Sekarang Alit benar-benar mengerti kenapa orang dapat bunuh diri hanya karena tidak lulus sekolah. Alit benar-benar mengerti rasa itu ketika kegagalan menohok dirinya begitu keras.

Dengan keegoisan dirinya, ia menolak tawaran PMDK[1] dari Pak Rasyid untuk dapat menjadi mahasiswi di universitas negeri yang bisa dikatakan bonafid. Dengan kesombongannya, ia memilih untuk mengikuti tes akhir, yakni SNMPTN[2]. Dengan riya, ia yakin akan berada di posisi teratas. Sebagai manusia, tentunya Alit nggak pernah tahu apa yang akan terjadi—takdir apa yang akan ditemuinya. Dan, takdir berbicara bahwa ia takkan menjadi mahasiswi tahun ini.

Alit tahu ini adalah teguran dari-Nya, yang sangat tahu betapa angkuh dirinya. Tapi teguran ini terlalu keras bagi Alit.

”Melamun lagi? Oh, come on. Cheer up!” Majha memerhatikan tatapan Alit yang begitu kosong. Majha pun tahu apa yang ada di benak Alit.

Alit terenyak. Ia kembali ke realita di mana Majha sedang meminjam buku Pendidikan Kewarganegaraan miliknya untuk makalah kuliah. Ia menghela napas tanpa asa. Melihat Majha—sahabatnya sejak kecil—disibukkan oleh kegiatan kampusnya, membuat perasaan Alit makin kacau. Mungkin ia iri pada sahabatnya ini, yang bisa menjadi mahasiswa Universitas Indonesia.

”Belakangan lo uring-uringan terus,” ujar Majha seraya mengambil buku yang ingin ia fotokopi dari tangan Alit.

”Kamu beruntung, Jha.” Alit menorehkan senyum minimalis, menghiraukan komentar Majha sebelumnya. ”Enak ya, udah sibuk sama kegiatan kampus? Padahal aku yakin bakalan jadi teman satu fakultas—juga satu jurusan kamu.”

Majha diam sejenak, menilik dengan hati-hati maksud curhat colongan dari Alit.

”Jangan lupa salam ya, buat Ajeng, Fadli, dan Erwan. Mereka juga di FISIP[3], kan?” Alit tersenyum, berusaha terlihat seceria mungkin oleh Majha.

Majha yang sudah bertahun-tahun bersama Alit, tahu benar bahwa senyum di bibir Alit palsu. Tiba-tiba terbersit sebuah ide untuk membuat Alit kembali seperti sedia kala.

”Gue mau berterima kasih sama lo dengan traktiran. Dan lo mesti ikut gue besok—jam tujuh pagi. Lo besok nggak ada kerjaan kan?”

Alit mengernyit bingung, namun akhirnya mengiyakan.

”Bagus kalo lo bisa.”

* * *

Sesuai janjinya dengan Majha, ia sudah rapi menunggu sobatnya itu di halte biasa menunggu bus. Di antara penantiannya itu, Alit berkali-kali berpikir apa maksud dan tujuan Majha mengajaknya pergi. Apakah Majha akan mentraktirnya makanan? Namun bukankah hari ini hari kerja di mana Majha juga seharusnya ngampus? Nggak mungkin banget kalo Majha mengajaknya nge-date dan rela bolos kuliah.

”Lit!” Majha terlihat tergopoh-gopoh, apalagi dengan ranselnya yang kelihatan berat. ”Maaf gue telat.”

Alit tersenyum simpul. ”Nggak apa-apa. Mana nih imbalannya?”

”Cih, dasar. Udah deh lo ikut gue dulu.”

”Ke mana? Lo gak ada jadwal kuliah hari ini?” tanya Alit heran.

”Jangan terlalu rewel deh. Ikut aja. Nah, itu busnya. Ayo, Lit!” Majha menarik tangan Alit untuk masuk ke dalam bus yang entah akan membawanya ke mana.

* * *

Alit terlihat shocked ketika Majha mengajaknya turun dari bus. Ternyata Majha mengajaknya ke Stasiun Cawang! Ini kan stasiun yang ujungnya di Bogor. Namun yang jadi pertanyaan, untuk apa Majha mengajaknya ke stasiun? Memangnya Majha ingin membawa Alit ke mana?

”Naik kereta ekonomi aja, ya? Biar ekonomis, sesuai namanya.” Majha nyengir, lalu membeli dua helai karcis kereta ekonomi di loket.

Setelah itu mereka naik ke peron dua.

”Jha, lo mau nyulik gue?” tanya Alit.

Majha terbahak. ”Maaf lagi nih, Lit. Nggak ada maksud lho untuk ngetawain elo. Dan sebagai jawaban atas pertanyaan elo, sebenarnya gue mau ngajak lo ke kampus.” Tawa Majha mereda, berganti mimik kalem.

Alit tersedak—tertohok lebih tepatnya. Untuk apa Majha mengajaknya ke UI? Majha memang sering usil padanya, dan ini sudah kelewat batas. Alit sakit hati atas perlakuan Majha yang seperti mengoloknya.

”Jangan punya pikiran negatif dulu. Gue punya maksud dan tujuan ngajak lo. Yang pasti lo ikut, ya? Kebetulan kalo jam segini kereta ekonomi lagi sepi. Mungkin kita bisa duduk.” Majha seakan dapat membaca pikiran Alit.

Nggak lama, kereta jurusan ke Bogor tersebut datang. Majha pun mengamit tangan Alit untuk masuk ke dalamnya.

Seperti kata Majha, kereta ekonomi nggak ramai. Hanya aja nggak bisa dibilang sedikit yang memakai jasa ini untuk ke kampus, entah itu mahasiswa Universitas Pancasila atau Universitas Indonesia. Satu hal yang pasti, ini membuat Alit gundah; ia merasa dia bukan bagian dari kesibukan tersebut. Bukan seorang mahasiswa. Maka dari itu Alit hanya memberi aksi diam.

Melihat sahabatnya diam saja, Majha juga ikut diam. Ia membiarkan Alit hanyut dalam angannya. Tapi tentunya, Majha memiliki sketsa tersendiri untuk Alit.

Tiba-tiba Alit terenyak, mendapati seorang pengamen dengan cacat tangan permanen bermain harmonika dengan fasih demi sesuap nasi. Rasa iba pun menyusup kalbunya. Untung ia punya banyak uang receh, dan ia berikan pada pengamen itu—yang manggut-manggut berterima kasih karena kedermawanan Alit.

Majha yang diam-diam mengamati Alit, tersenyum melihat tingkah sobatnya ini.

”Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” Alit merasa malu dilihat demikian oleh Majha.

Sebagai respons, Majha tersenyum lebar. ”Yeah, karena gue ngerasa lo akan jadi lo seperti sedia kala.”

Alit tergagap. Sebenarnya ia malu banget dikomentari demikian oleh Majha. Ia jadi bingung sendiri. Kenapa hari ini perasaannya begitu campur-aduk? Bukan campur-aduk dalam artian orang sedang jatuh cinta, melainkan seperti orang yang dipermainkan perasaannya!

Kembali, seorang pengemis berjalan tertatih demi sekeping-dua keping uang receh. Pengemis itu adalah seorang wanita tua dengan daster lusuh, juga kerudung apa adanya. Keriput-keriput di wajahnya menandakan bahwa wanita ini sebenarnya lebih cocok menikmati hidup di akhir sisa hidupnya.

Untunglah Alit masih memiliki receh yang banyak sehingga bisa meringankan beban pengemis itu—walau sedikit.

”Apakah selalu begini di kereta?” tanya Alit ketika pengemis itu sudah berjalan menuju gerbong berikutnya.

”Begitulah.” Majha mengiyakan. ”Nggak lama lagi lo pun akan ngeliat pengemis atau pengamen lagi, Lit. Pemandangan seperti itu emang udah biasa.”

Alit tersenyum miris.

Namun seperti perkataan Majha, datang lagi seorang pengemis. Kali ini kondisinya lebih memilukan. Ia menyeret-nyeret tubuhnya karena kakinya mengalami kecacatan akibat sesuatu. Dan ketika pengemis itu melewati Alit dan Majha, bau busuk menggelitik hidung mereka. Bau itu seperti bau bangkai—mungkin karena memang luka di kaki pengemis itu sudah membusuk.

Baru kali ini Alit melihat secara langsung. Bukankah orang itu lebih baik berobat di Puskesmas saja? Bukannya pemerintah sudah menggalakkan kampanye berobat gratis untuk mereka yang kurang mampu?

Nggak kurang beberapa detik, datang anak kecil kurus berkulit legam menjajakan kerupuk kulit. Suaranya benar-benar cempreng. Namun kali ini pertanyaan kembali berkecamuk di kalbu Alit: bukankah seharusnya anak seusia itu bersekolah? Pemerintah kan sudah ada pencanangan dana BOS[4] sejak lama! Atau setidaknya anak itu masuk ke GN-OTA[5] agar bisa hidup lebih layak.

”Rasa iba atau empati yang ada di elo kali ini, Lit?” tanya Majha halus.

”Eh?”

Majha malah tersenyum, lalu kembali diam. Membuat Alit tidak mengerti apa maksudnya Majha bertanya, namun pada akhirnya acuh dan diam.

Kereta pun terhenti, baru sampai di Stasiun Tanjung Barat. Hanya beberapa orang saja yang masuk ke dalam kereta.

”Hei, Jha!” Seseorang menyapa Majha.

Majha menoleh, lalu tersenyum. Mereka berbincang sejenak. Lalu orang yang ternyata teman kampus Majha ini melirik ke arah Alit dan tersenyum.

”Oh… jadi ini yang namanya Alit? Quite good,” seloroh teman Majha ini.

Alit mendelik, aksi protes yang entah karena dijadikan kambing congek, atau seakan Majha pernah menceritakan dirinya pada orang ini.

”Gue ke gerbong depan ya, Jha. Katanya anak sastra pada di depan.” Teman Majha itu pamit, lalu berpamitan pada Alit juga.

Setelah teman Majha berlalu, Alit langsung bertanya, pertanyaan yang terpendam sedari tadi.

”Sebenernya apa maksud lo ngajak gue ke sini sih?”

Majha sedikit terkejut karena Alit bertanya sedini itu. Padahal masih ada yang ingin Majha tunjukkan pada Alit. Namun akhirnya, Majha menjawab pertanyaan itu dengan senyumnya.

”Inti gue ngajak lo itu sebenarnya agar elo kembali semangat, Lit,” ujarnya.

”Semangat?”

”Iya. Belakangan ini gue ngeliat lo uring-uringan. Seperti kata gue sebelumnya, aura positif lo kian hari memudar,” ujar Majha serius. ”Dan tentunya sebagai sahabat elo, sepertinya udah kewaji-ban gue ngebalikin Alit yang dulu. Alit yang ceria dan pede.”

Alit menatap Majha dalam. Perasaannya makin campur-aduk. Seperhatian itukah Majha dengan dirinya? Tapi mendengar kalimat tadi, di mana Majha mendeklarasikan bahwa ia sahabat Alit, kenapa Alit jadi kecewa?

”Lo sendiri udah liat kan, banyak banget pengemis atau pengamen yang ada di sini? Dan asal lo tau, mereka selalu ada di sini. Setiap hari pengamen yang gue liat itu-itu aja—gak pernah berubah. Mungkin kereta ini adalah lahan penghasilan mereka.” Majha kembali bersuara. ”Sulit mendobrak batas hidup, mungkin. Apalagi… yeah, ya know lah Lit. Mereka ini minta-minta juga udah ada yang mengorganisir.”

Alit menyimak. Ia teringat pada film Slumdog Millionaire. 

”Itu poin yang mesti lo ambil, Thalita,” kata Majha. Namun setelah Alit mengernyit, Majha langsung menjabarkan lagi. ”Begini, Lit. Gue sebenarnya nggak punya maksud untuk menceramahi lo atau apa. Tapi sebaiknya lo gak terpuruk cuma karena lo gak kuliah tahun ini.”

Alit langsung protes. ”Gue nggak terpuruk kok—”

Majha langsung memotong. Ia merongrong Alit. ”Udah deh, Lit. Jangan bohong. Gue tau lo kecewa dan lo terlalu terlarut dalam kesedihan lo. Mungkin karena lo merasa banyak banget orang yang ’di atas’ lo, kan? Dalam hati, lo pasti malu kalo ketemu temen yang udah kuliah, nanya di mana lo kuliah. Lo juga enggan menjawab kalo elo nganggur. Bener kan?”

”Jha, elo jangan mojokin gue!” Sungguh, Alit ingin menangis dibilang begitu oleh Majha. Mungkin karena perkataan Majha benar sepenuhnya.

Majha mencoba menahan emosinya, melihat tingkah Alit yang begitu rapuh di hadapannya. Mata Majha yang tadinya merongrong pun kini melembut, penuh kasih.

”Maaf kalo perkataan gue nyakitin lo. Tapi gue begini karena elo sahabat gue. Gue udah kenal lo berapa lama, Lit? Sebelum kita masuk TK juga kita udah kenal karena rumah kita sebelahan. Dan tentunya gue pengin ngeliat sahabat gue balik ke semula, kan?” Majha memelankan suaranya.

”Dengan ngajak gue ke kampus? Di mana selama perjalanan gue ngeliat pemandangan aneh yang banyak pengemisnya, juga ngeliatin anak-anak kampus yang pada dasarnya buat gue iri setengah mati? Bukannya itu tindakan yang mojokin gue?” Alit menjerit tertahan. Rasa sakit hati nggak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi begitu menohoknya, dan aksi Majha membawanya makin menoreh luka itu semakin besar.

Majha terdiam sejenak. Tak pernah ia lihat Alit sekalut ini. Di mana sosok Alit yang dulu? Yang manis, periang, percaya diri, dan selalu senyum dan tawanya menular?

Di hadapannya kini adalah Alit versi terburuk menurutnya. Alit yang lemah, rapuh, dan begitu pemurung.

Akhirnya, setelah merasa Alit tenang, Majha memberanikan diri untuk berkata.

”Gue ngajak lo ke sini agar lo bisa bersyukur, Lit.”

Alit menyeka air matanya yang tidak terasa sudah tumpah, kembali menyimak penuturan Majha.

”Lo lihat sendiri gimana banyak orang kurang mampu. Dan dengan sedikit uang kita, mungkin bisa meringankan beban mereka—walau emang sedikit. Gue emang kedengeran klise banget ngomong gini, tapi emang itu kenyataannya.

”Dan selama ini lo terjebak dalam perasaan bersalah lo sama diri lo sendiri yang gak bisa menuhin target masuk PTN. Perasaan bersalah lo itu menutup hati elo, Lit. Lo cuma bisa ngeliat orang yang jauh di atas lo. Sedangkan lo gak pernah nyoba ngeliat apa yang di bawah—seperti pengamen dan pengemis itu.”

Alit ingin protes dengan penuturan Majha, namun entah mengapa lidahnya kelu seakan membe-narkan pernyataan Majha.

”Setahun kan waktu yang gak bisa dibilang singkat, Lit. Lo bisa ngisi waktu itu untuk persiapan ujian masuk tahun depan. Rasanya sayang menyia-nyiakan otak seencer lo. Gue yakin banget lo bisa. Lagipula lo gak lolos SNMPTN karena lo sakit waktu ujian. Jika kondisi lo fit, gue yakin lo masuk. ”Coba lo renungin deh perkataan gue, Lit. A diamond is valued as diamond, no matter where existed.” tutur Majha.

Ia menatap mata Alit dalam-dalam. Tetapi Alit memalingkan wajah, malu.

Majha pun akhirnya membiarkan Alit diam. Ia tahu Alit butuh waktu untuk mengerti.

Dan Alit, ia menyesapi kata demi kata yang tadi dikeluarkan oleh Majha yang sepenuhnya memang benar. Buat apa ia menyalahkan dirinya sendiri? Buat apa ia harus merasa malu? Buat apa ia merasa rendah diri pada yang lain? Yang lain belum tentu punya jam terbang seperti Alit yang diam-diam menjalankan usaha homemade bareng kakaknya via online yang keuntungannya lumayan. Yang lain belum tentu memiliki apa yang Alit miliki. Ia hanya mempersulit dirinya sendiri, padahal ditolak tahun ini cuma kerikil yang dengan mudah ia libas dengan kepandaiannya. Masa depan yang cerah tetap menunggu dan bersabar menantinya.

Seharusnya Alit juga bersyukur, karena memiliki kondisi ekonomi yang memungkinkan sehingga punya keyakinan teguh untuk bisa mendapat pendidikan yang tinggi. Dan, yang patut disyukuri adalah ia punya sahabat seperhatian Majha yang mau menegurnya di kala ia ’berjalan melenceng’ jauh dari target.

Ia resapi kembali petuah Majha, lalu ia menorehkan senyum.

”Lo bener, Jha.”

Majha menoleh ke arah Alit yang bersuara, agak takjub dengan pengertian Alit yang begitu cepat.

”Gue juga mau bilang makasih karena udah nyadarin gue. Mungkin gue egois, ya?” Alit terlihat masih kaku, namun Majha senang melihat sahabatnya itu mulai kembali memancarkan aura positif-nya.

”Sama-sama, Lit.” Majha tersenyum.

Tiba-tiba kereta terhenti. Majha memerhatikan di mana mereka. Ternyata mereka sudah berada di Stasiun Universitas Pancasila.

”Siap-siap, Lit. Kita mo nyampe. Abis ini UI,” jelas Majha.

Alit kembali bengong. ”Jha… elo beneran ngajak gue ke UI? Lo gila, ya?!”

”Tenang, gue waras kok. Gue ngajak lo ke UI soalnya ada pameran buku murah. Lo suka baca novel, kan? Selain novel dalam negeri, dijual juga novel luar negeri yang masih berbahasa Inggris.” Majha tersenyum.

”Bener?” tanya Alit ragu.

”Serius, dong!”

”Tapi kan gue gak bawa uang banyak.”

”Gue kan mo nraktir lo, sesuai janji gue kemarin. Masa lupa?” Majha nyengir.

Alit ingin berucap, namun terhenti. Ia tersenyum menatap Majha.

”Lho, kok lo senyam-senyum? Ada apa nih?”

”Mau tahu aja,” kilah Alit.

”Dasar pelit!”

Alit tetap mengacuhkannya. Di dalam hati, ia bertekad. Ia akan menghadiahi Majha dengan sejuta ucapan terimakasih. Ia juga berjanji nggak akan egois lagi, juga nggak bakal malu dengan statusnya yang bukan mahasiswi seperti yang lain. Ia akan belajar untuk tes selanjutnya. Biarkan ini menjadi pelajaran. Lagipula ini masih pertama kalinya ia gagal tembus masuk PTN. Masih ada tes kedua, ketiga, bahkan seterusnya. Masih ada kesempatan ikut ADS[6] yang dari dulu ia impikan, juga proram beasiswa lain setelah ia lulus. Nggak pantas rasanya jika ia terlalu larut.

Dan Majha, ia bertekad nanti jika sampai di pameran buku, ia akan nembak Alit! Ia sudah nggak tahan dengan status yang cuma ’sahabat’. Ia ingin lebih dari sekedar sahabat bagi Alit.

Nggak lama, kereta pun terhenti, sudah sampai di Stasiun Universitas Indonesia.

Yang pasti, mereka keluar dari kereta dengan penuh tekad dan keyakinan, setelah memupuk kembali rasa percaya diri mereka.

Catatan Kecil:

Cerpen ini emang nggak pernah dimuat di mana pun. Biar aja deh dimuat di blog pribadi kesayangan. Dan, cerpen ini selesai gue buat tanggal 3 Januari 2010 silam. Udah nyaris empat tahun yang lalu. Cerpen yang sebenernya merupakan proyek untuk kesenangan pribadi. Yeah, yeah. Karena gue nggak lolos PTN waktu itu. Cerpen yang menguatkan gue sendiri, sih. Tapi ya hamdalah bisa ngampus di universitasnya Majha. Selain itu, setting-nya emang ketika kereta ekonomi masih ada, dan sebutan Commuter Line dulu adalah Ekonomi AC, plus kereta Pakuan yang mahal (tahun 2009-2010). Ketika gue bersusah payah untuk jualan roti dan harus ke Bogor-Jakarta naik kereta ekonomi sementara temen-temen gue udah kuliah. Dan, cerita ini terinspirasi dari temen dari SD yang sampe sekarang ngampus di tempat yang sama, Uppe. Idenya ada pas dia cerita di lapak roti gue abis nge-BEM.


Foot notes:

[1] Penelusuran Minat dan Bakat; dengan lolos program ini, seorang siswa tidak perlu mengikuti tes saringan masuk universitas yang dituju

[2] Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri

[3] Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

[4] Biaya Operasional Sekolah

[5] Gerakan Nasional Orang Tua Asuh

[6] Australian Development Scholarship, beasiswa yang diberikan pemerintah Australia kepada penduduk Indonesia untuk melanjutkan pendidikan pasca-sarjana di universitas-universitas Australia.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

2 thoughts on “Di Dalam Kereta”

  1. tha, lo pernah gak lulus ptn dan jualan roti? gue ga nyangka.. kapan2 lo harus cerita detailnya, bro.. tapi ini selebay di bayangan gue atau enggak sih? karena kesan pertama ngeliat lo, gak kebayang ada kisah ini nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s