Kamuflase dan Manipulasi

Image

Sebelumnya, mau ngasih warning karena ini adalah tulisan random gue di tengah malam karena kecapekan nggak bisa ngerjain tugas Pembangunan Regional dan kepala nyut-nyutan, badan rasanya remuk, dan mata beberapa watt. Jadi, tulisan ini nggak jelas arah tujuannya. Dan, baru sempet gue post.

“Tiap orang itu punya perannya masing-masing.”

Gue nggak pernah mendebat kalimat itu. Tentu aja, gue setuju dengan pernyataan itu. Kenapa? Ya karena emang gue setuju kalo tiap orang itu punya peran masing-masing. Bukan hanya manusia, tapi tiap entitas yang ada di dunia ini punya perannya masing-masing.

Tapi, kadang… manusia suka luput. Suka banget cuma ngeliat sesuatu dengan sekali liat. Mungkin gue juga golongan yang itu. Golongan yang suka banget melakukan judging dini. Nggak mau tau sebenarnya seseorang pasti punya “peran” yang mungkin aja nggak pernah lo tahu. Nggak pernah timbul di permukaan.

Peran.

Basi nggak sih kalo gue sebenernya menanyakan apa peran gue di dunia ini. Ah, nggak usah muluk-muluk deh. Peran gue di keluarga gue itu apa? Rasanya gue ini cuma seonggok batu yang nyusahin nyokap gue dengan terus nadahin tangan, padahal udah kepala dua. Iya, tahu. Peran gue itu anak. Tapi udah maksimal belum sih peran gue sebagai “anak” di keluarga gue? Jadi perenungan diri karena gue belum mencapai apa-apa. Yang gue punya sekarang semuanya juga dikasih sama ortu. Oke, beberapa emang gue dapet sendiri, tapi tentunya disokong oleh bantuan orangtua. Maka, dari sini gue pengin banget buat nyokap nyengir. Satu yang paling berharga adalah ketika nyokap lagi ngerumpi sama tetangga terus ditanya anaknya kuliah di mana dan dijawab kuliah di UI. Oke, bagi keluarga yang biasa masuk PTN atau luar negeri, emang ini biasa aja. Bahkan ngeremehin. Tapi, ketika nada kebanggaan nyokap ketika itu kayak pelepas dahaga di saat lo kehausan. Seenggaknya bagi gue. Maka, gue pengin banget buat kebanggaan-kebanggaan itu buat nyokap. Mungkin gue emang lack of achievements. Tapi, gue yakin ada saatnya ketika mata itu menyabit dan di bibirnya tersungging senyum. Dulu, almarhum bokap gue menitipkan dua pesan terakhir sebelum meninggal, yaitu untuk iqro dan jadi yang pertama. Meski untuk hal yang kedua gue masih belum mengerti, tapi gue ingin mewujudkannya. Seenggaknya, gue nggak mau kebaikan-kebaikan orangtua gue semasa hidupnya yang berdampak sama mulusnya kehidupan gue dan segala kebaikan yang memeluk gue selama ini nggak sia-sia. Secepatnya, gue akan memerankan anak sebagaimana mestinya. Secepatnya.

Lalu, keluar di zona persahabatan. Duh, peran gue sebagai temen itu mungkin nggak ada apa-apanya. Jika gue pikir-pikir, mungkin gue udah mulai ke tahap lelah memberi. Iya, beneran lelah. Gue lebih sering menampilkan “hey, I’m fine”. Tapi kadang gue sadar kalo kadar pertemanan atau persahabatan itu give and take. Prioritas gue yang mampu ngejebol kemarahan jika seseorang diusik diambil oleh empat orang. Satu orang sudah almarhum, satu orang udah beda kota, dan dua orang ada di tempat kuliah. Sebenarnya, gue menimbang-nimbang apakah yang lain juga bisa dijadikan prioritas. Tapi, ketika gue mengukur akan peran gue di mata mereka, ya gue kembali ke “give and take” tadi. Entahlah bener apa nggak. Tapi feeling gue emang kayak gitu.

Berhubung soal itu, gue pernah ngobrol sama oknum yang punya tinggi menjulang di kampus gue. Gue suka statement-nya. Dan gue pun selama ini cukup meyakininya. “Kebaikan itu nggak perlu publisitas.” Ya karena emang nggak perlu lah ditampilin. Istilahnya kayak lo solat ya solat aja. Nggak perlu nge-tweet “Gue solat dulu ah”. Ya semacam itu. Eh, kok jadi nggak nyambung.

Lalu, selama ini ketika ketika berperan itu… sesungguhnya kamuflase atau manipulasi?

Kadang, orang suka dengan mudahnya bilang kalo straight to tell everyone his heart itu benar adanya. Istilahnya, lo nggak pernah berpura-pura baik atau berpura-pura empati. Dan sebagainya. Tapi, gue pikir kamuflase atau manipulasi tiap orang itu ya hak dari segalanya. Gue nggak bilang kalo jadi orang manipulatif atau suka berkamuflase akan tindakan itu baik. Tapi yang jelas gue tahu adalah sesuatu itu harus punya takaran yang pas. Takaran yang nggak lebih dan nggak kurang. Takaran yang istilahnya balance. Tapi, ya sebagai manusia gue akui amat susah melakukan semua sesuai takaran. Gue pun mengakui kamuflase dan manipulasi yang gue lakuin selama ini berlebihan. Terlalu berlebihan. Tapi udah jadi agenda yang biasa gue lakuin. Efeknya? Kebanyakan ngebatinnya.

“Jadi, sebenernya make topeng itu menurut gue fine. Asal dengan takaran yang pas.” Inti dari tulisan gue ini sebenernya cuma dalam dua kalimat itu. Tentu. Jangan menakar berlebihan karena mungkin aja lo nanti capek hati kayak gue. Atau jangan lo hapus juga, karena probabilitas lo kehilangan akan seseorang bisa besar.

Tapi, semuanya tergantung pilihan lo lah.

Ah, nulis apa sih gue ini.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s