Toleransi

tolerance

Suasana salah satu hari raya agama di dunia ini selalu menghadirkan aroma melankoli tersendiri bagi saya pribadi. Beberapa pusat perbelanjaan didesain sedemikian rupa hingga kelap-kelip lampu menambah sukacita itu. Suasana pohon cemara (mulai dari pohon aslinya sampai yang replika) dan kaos kaki menggantung, permen-permen, kado-kado. Saya suka sekali. Saya suka suasananya. Kadang juga karena sale yang melimpah ruah. Dari sebelum tanggal dua puluh lima, sampai di penghujung tahun. Duh, memang siapa yang tidak suka dengan sale sih?

Sehingga saya mengingat lagi momen-momen hari raya agama saya sendiri. Saya juga suka ketika semua bernuansa hijau dengan makanan banyak di rumah-rumah, memberikan masakan seadanya yang dibuat ke tetangga yang juga beda agama.

Memang, menyenangkan ketika memaknai perbedaan dengan hal demikian. Tapi, kadang juga hati ini sembiluan ketika mendengar kata-kata yang terucap seperti, “Ih, lo nggak toleransi banget sih nggak ngucapin hari raya ke agama gue. Padahal gue ngucapin kan!” atau… “Sebegitunya ya agama lo nggak ngebolehin buat ngucapin kata selamat?”

Saya bukan orang taat agama. Masih banyak maksiat saya jalani, masih suka ghibah membicarakan orang, masih suka kasar, dan saya tidak sempurna. Tapi, mendengar hal itu rasanya aneh. Kata ‘toleransi’ selalu saja dibeberkan, seakan salah. Saya juga tidak menafikkan bahwa memang, di dalam agama yang saya anut ada beberapa aliran. Ada beberapa ajaran yang dianggap sesat, yang terlalu provokatif, dan sebagainya.

Tapi untuk mengartikan toleransi, saya kira orang-orang yang berkata demikian terlalu sempit memaknainya. Tidak ada yang saya bela di sini. Saya pun masih mengucapkan selamat hari raya, memberikan emote pohon cemara dengan lampu-lampunya, juga lambang badut merah nan ramah di WhatsApp.

Tapi, ketika orang-orang berseru (entah dari agama saya maupun agama lainnya) bahwa orang yang tidak mengucapkan hari raya sama sekali tidak toleran… lantas, sebenarnya siapa yang tidak toleran di momen ini?

Misalnya, ketua BEM fakultas saya dulu. Agamanya termasuk taat. Mungkin juga tidak ada kata-kata ucapan selamat di prinsip yang diyakininya. Salah satu teman saya rewel (dia beragama sama dengan saya) dan berkata bahwa ketua BEM saya itu amat tidak toleran. Bahwa ketua BEM saya tidak dapat memaknai perbedaan. Loh, kenapa saya jadi bingung.

Siapa di sini yang tidak toleran? Siapa yang memaknai toleransi sesempit itu pada kasus ini?

Saya pun hanya menyunggingkan senyum kecil ketika mendengarnya. Rasanya aneh. Saya tidak suka berdebat. Tapi, di dalam hati saya, saya meneriaki teman saya itu karena justru ia lah orang yang tidak memiliki toleransi. Bagaimana bisa orang dikatakan toleransi ketika tidak mau menerima prinsip yang diyakini oleh orang lain?

Saya amat setuju dengan apa yang diucapkan teman saya, Emha Eff, bahwa toleransi dewasanya tentang memahami dan mempersilakan, bukannya mengikuti dan menyetujui. Bagaimana terlalu sempit kebanyakan orang memaknai toleransi.

Jika orang-orang bertanya mengapa sebagian agama saya menganut akan tidak bolehnya mengucapkan hari raya pada yang lainnya, ia pun menganalogikan sebuah contoh sederhana. Anggaplah kita bertemu dengan seorang bernama William. Beberapa orang yakin jika William itu pangeran, dan selalu menyebutnya sebagai Pangeran William atau Tuan Muda William. Sementara kita begitu yakin bahwa William itu orang biasa, dan sebagai orang yang yakin kalau William itu orang biasa, mustahil menyebutnya Pangeran William. Bisa jadi kita akan memanggilnya Nak, Cung, Bro, Sob, atau Saudara William. Sederhana?

Lantas, ketika orang-orang yang meneriakkan orang lain sudah tidak bersikap toleran, dalam konteks yang sebenarnya, siapa yang sudah mulai menyulut api? Orang-orang yang diteriakkan itukah? Atau orang-orang yang meneriakinya? Ah, mungkin tiap orang punya jawaban berbeda. Sudahi saja, mari kita tersenyum. Yang tidak mengucapkan selamat hari raya pada agama berbeda tidak melakukan tindakan anarki dengan membakar gereja, kan. Justru menyilahkan halaman rumahnya dipakai untuk parkir mobil dan sebagainya untuk misa.

Saya sendiri tidak pernah membatasi pertemanan saya. Saya suka bercerita. Saya orangnya bawel. Ayolah, perbedaan itu memang menyenangkan. Makin beragam, makin berwarna. Dan, mari mengenyahkan pikiran bahwa makna toleransi sesempit itu. Selamat hari raya, Kawan! Saya tunggu makanan-makanan enaknya, hihihihi.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

5 thoughts on “Toleransi”

  1. Setuju banget, toleransi itu bukan mengikuti dan menyetujui. Mungkin ada yg berpendapat “apa susahnya sih cuman ngucapin, mereka juga ngucapin”. Padahal ini bukan sekedar ucapan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s