Jangkar 4: Kianthi

Image

Anthi nggak suka dengan yang namanya Senin. Sebenarnya Anthi bukannya nggak suka, tapi Anthi takut menghadapi hari ini. Hari pertama yang harus Anthi hadapi setelah Maya, Musa, dan Sai menjadi anggota BEM. Anthi harus gimana nanti? Anthi sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan mereka bertiga.

Anthi coba mikir, kalo mereka langsung sibuk dengan kerjaannya di BEM, lantas selesai kelas Anthi pulang ke rumah? Jadi Anthi anak kupu-kupu banget nih, sementara mereka bertiga jadi kura-kura? Padahal sebelumnya kan kita berempat anak kunang-kunang banget. Cuma karena Anthi doang yang nggak masuk BEM, Anthi jadi begini. Anthi nggak rela mereka masuk BEM, tapi bukan berarti Anthi egois mikir kayak gitu. Tapi… tapi rasa nyaman itu kenapa begitu candu buat Anthi? Jadi jangan salahin Anthi… Anthi cuma mau main sama mereka.

Mungkin Anthi berlebihan, tapi ini pertama kalinya Anthi ngerasa dekat dengan seseorang. Anthi ngerasa perhatian yang mereka kasih ke Anthi itu tulus. Dan Anthi sudah menganggap mereka jadi sahabat Anthi. Dengan Maya yang selalu saja menjadi sandaran Anthi kalo Anthi lagi gundah gulana. Musa yang selalu bawel bercerita dengan cerita-cerita galaunya tapi selalu nganggep Anthi kayak saudara kandung sendiri. Bahkan perhatian Sai yang malu-malu kucing karena selalu ada kalo dibutuhin sama kita-kita. Anthi gak mau itu hilang!

Dengan langkah yang teramat gontai, Anthi pun memasuki fakultas. Masih sepi banget. Ada beberapa anak jurusan lain yang belajar, mungkin lagi ada kuis. Dan untuk jurusan sendiri, Anthi bisa ngeliat Rachma yang sudah duduk anteng dan membuka laptop. Tapi Anthi gak terlalu akrab dengan Rachma kalo pun mau ngobrol. Lagian sebenarnya Anthi datang pagi karena mau baca bahan untuk kuis juga. Di rumah sama sekali nggak kondusif karena kerjaan Anthi cuma bisa mewek. Mama juga nanya kenapa Anthi nangis, padahal Anthi kan umurnya mau dua puluh tahun… Ini sebenarnya juga keajaiban sih, Anthi kan selalu datang telat ke kampus karena Anthi suka mager banget…

“Wah, tumben lo datang pagi. Semangat banget?” Musa menyapa Anthi dengan ceria. Ah, dia sih emang selalu ceria. Kayak nggak punya beban hidup. Dia dengan santai duduk di selasar kampus. Tampilannya santai banget, cuma pake kaos warna hijau tua sama celana jins belel dan sepatu keds warna coklat.

“Anthi kan mau belajar,” ucap Anthi. “Lagian Musa kok datang pagi?” Anthi balik tanya, lalu ikut duduk di samping Musa.

“Ye, lo aja yang gak pernah datang pagi kayak Sai. Gue sih emang kalo ngampus jam segini,” kilahnya. Setelah itu Musa membuka tas dan mengeluarkan roti untuk dimakan. Yang buat Anthi bete, dia sama sekali nggak nawarin Anthi.

Anthi pun jadi ikut lapar, padahal tadi udah sarapan nasi uduk yang dibeli sama Ibu. Ngeliat Anthi misuh-misuh, tangannya masuk ke dalam tas lagi dan mengeluarkan roti, lalu memberinya sama Anthi.

“Mau lagu apa?” tanya Musa.

“Eh?”

“Iya, mau lagu apa? Suara gue available seharian buat lo deh.” Musa melanjutkan. “Lo bisa request lagu apa aja.”

Anthi tergagap. Apa Musa tahu ya, kalo Anthi masih sedih? Pertanyaan itu menggelitik perasaan Anthi, menimbulkan riak-riak kesedihan di hati Anthi… Raut wajah Anthi pun berubah muram. Ah, kenapa sih Anthi gampang banget sedih? Kenapa sih Anthi nggak kayak Maya yang kuat?

“Ayo, lagu apa?” desak Musa. Mulutnya masih penuh dengan roti cokelat. Musa terlihat kekanakkan. Kadang-kadang Anthi suka dengan gayanya yang kekanakkan karena akhirnya Anthi punya temen yang childlike juga kayak Musa. Meski emang nggak se-childlike Anthi sih.

Anthi bingung… lagu apa?

Musa berdecak, mungkin karena Anthi nggak ngejawab pertanyaan Musa. Tiba-tiba saja mulutnya terkunci. Kayaknya sih emang baru kelar deh nelen rotinya. Setelah itu Musa menghela napas, matanya terpejam. Entah apa yang Musa pikirkan.

Kulihat mendung, menghalangi pancaran wajahmu

Tak terbiasa kudapati terdiam mendura…

Suara rendah Musa langsung meremukkan ulu hati Anthi. Sesak… sesak… rasanya Anthi nggak bisa napas! Musa tetap saja melantunkan lagu itu. Terdengar begitu indah, tapi juga menyayat. Pertahanan Anthi jebol. Anthi menangis sejadi-jadinya. Anthi nggak peduli dengan mahasiswa lain yang sudah mulai berdatangan, memandang aneh pada Anthi dan Musa.

Musa masih terus saja bernyanyi… masuk ke reffrain, rasanya tambah sesak. Musa menggerakkan tangannya, menggapai bahu Anthi. Tubuh Musa yang skinny begitu kentara saat Anthi menyenderkan kepala Anthi di bahunya.

Selesai menyanyikan lagu Katon Bagaskara itu, Musa terkekeh.

“Nggak harus penyakitan dulu ternyata nyanyiin lagu ini ya? Atau emang jangan-jangan lo sakit, ya An?”

Anthi yang tadinya udah sesak dan muka bleweran airmata memandang Musa sebal. Dasar. “Emangnya Anthi penyakitan!” Anthi pun meninju pelan bahu Musa.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s