Cincin Nibelung 1

DIAWALI dari sifat Regina yang suka gratak barang keluarganya, ia menemukan sebuah cincin  berkilau yang—menurut asumsi Regina sendiri—terbuat dari emas di kamar orangtuanya. Regina memang dikenal dengan gayanya yang up to date, fashionably, serta bertitel kolektor barang-barang brand oke, akhirnya memilih untuk ’mengambil sementara’ cincin itu. Rasanya ada magnet yang dari benda tersebut. Rasanya benda itu yang memanggil Regina dan memintanya untuk ditemukan.

Regina tahu itu bukan cincin platina yang dulu sangat diidamkannya. Juga bukan cincin yang sudah didesain oleh desainer perhiasan Italia seperti yang dimiliki abangnya, Fafnir. Namun cincin ini berbeda. Spesial. Dan Regina hanya menyadari instingnya ini sebagai insting naluriah dari sifatnya yang suka tampil molek di hadapan semua orang. Fashionable feeling—begitu pikirnya.

Keesokannya, Regina langsung mengenakan cincin itu ketika sedang hang out bareng teman-teman sosialita yang kebanyakan bersifat homogen dengannya; shopaholic dan bisa kalap kapan aja ketika ada ’menarik’ di butik.

”Eh, Gin. Cincin lo oke banget. Beli di mana? Mesen sama abang lo Fafnir pas di Prancis?” tanya Vari sambil mengaduk-aduk macchiato di gelas styrofoam-nya.

Regina tersenyum. ”As you know, I love all about blink stuff. Bukan cuma karena elegan dan oke banget, gue rasa cincin ini punya sesuatu yang bisa dibilang magis—not just glamorous.”

Teman-teman Regina pun langsung melirik ke arah cincin yang dibilang Regina punya aura mistis tersebut. Entah benar-benar setuju atau tidak; ketiga temannya—Vari, Zulia, dan Inka—manggut-manggut.

”Tapi cincin itu beneran beli di Prancis, Gin?” tanya Zulia penasaran. ”Tepatnya beli di mana? Boleh tuh beli kalo lagi mampir di sana.”

Regina menggeleng. ”Gue nggak tahu, dan kayaknya sih bukan made in France.”

Pengakuan Regina disambut bingung ketiga temannya.

Nonsense deh, Miss Regina. Kalo cincin itu belinya di mana aja lo nggak tahu, apa berartinya? Nothing and useless—meskipun dengan segala kelebihan. Yeah, istilahnya kayak hasil perancang pinggiran deh, meski baju yang dikenakan wah, dibanding sama celana dalam keluaran Dior, pasti lebih oke CD itu lah—meskipun ternoda darah haid sekali pun.” Inka yang selalu pedas berkomentar, ikut meramaikan, disambut riuh tawa cekikikan yang lain.

”Inka benar,” kata Zulia setuju, ditimpali anggukan Vari.

”Bodo lah, seenggaknya gue nggak pernah beli tas Chanel cap Mangga Dua kayak lo. Setiap barang yang gue pake pastinya selalu original—never wear fake things, termasuk cincin ini,” balas Regina nggak kalah pedas.

Entah mengapa, Regina yang biasanya suka memilih aksi diam daripada membalas malah lebih percaya diri. Mungkin karena cincin ini? batin Regina ragu.

* * *

Di kelas desain, Regina makin tambah percaya diri. Rasanya ide yang ada di otaknya meletup-letup. Imajinasinya bermain liar ketika Monsieur Pierre—guru desainnya—memberi tugas merancang pakaian winter yang kira-kira bisa di-mix dengan budaya Indonesia. Sambutannya pun sangat bagus sampai-sampai Monsieur Pierre memuji karyanya.

Tak hanya di kelas desain, di kelas fisika pun Regina serasa jadi murid privat Newton. Soal yang dari dulu baginya sulit, entah kenapa sangat lancar ia kerjakan. Regina yang kadang jalan pikirnya pendek, hanya merasa ini adalah hasil otaknya yang sebenarnya di atas rata-rata, dan karena malas saja selama ini Regina dianggap stupid.

Selesai dua pelajaran yang—sekarang ini—menyenangkan, Regina istirihat dengan nyaman, lalu membeli segelas espresso di kedai kopi kantin sekolahnya.

”Lo hebat bener, Gin! Kok tahu-tahu lo jadi encer gitu sih?” tanya Vari yang merangkap sebagai chairmate-nya, tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

”Umm… don’t know deh. Mungkin kebetulan yang menyenangkan?” Regina tersenyum sambil memerhatikan cincin emasnya.

Vari memutar kedua bola matanya, lalu berkata, ”Wah, sayangnya gue nggak pernah percaya tuh sama yang namanya kebetulan. Jangan-jangan lo make jampi, ya?!”

Come on, gal. Zaman begini masa pake ritual tradisional dan unreal begitu sih?”

”Hmmm… mana ada deh pelaku yang ngaku. Berhubung dengan omongan lo dengan cincin itu—,” Vari melihat sejenak cincin yang melingkar di jari manis Regina ”,—apa itu ada kaitannya? Lo bilang lo melihat semacam aura mistis di cincin itu, kan?”

Regina tersedak, untung saja espresso-nya nggak jadi tumpah. Dan… mimik Vari terlihat serius. Akhirnya, ia mengabaikan omongan Vari yang menurutnya non logis. ”Mumpung mood gue bagus, lo gue traktir espresso deh.”

* * *

”Gina, cepat lepas cincin itu!” seru Fafnir mengancam.

Regina yang baru pulang dari sekolah langsung sewot ditodong demikian oleh abangnya. Ia pun mengacuhkan, lalu ngibrit ke kamarnya di lantai dua.

”Lo nggak tuli kan, Regina?”

”Ih, suka-suka gue.” Regina masih mengabaikan ancaman Fafnir.

You’re nuts or what?!” geram Fafnir.

”Apaan sih?! Gue baru dateng tau-tau lo nodong gue begitu. Lagian cincin ini kan punya mami—atau papi. Nggak ada hubungannya sama lo. Lagian lo urus aja deh Brian, pacar gay lo itu,” balas Regina.

Fafnir mendesah, nggak menanggapi ocehan sinis Regina. ”Oke, ini peringatan buat lo, Gin. Entah lo pernah dengar dari papi atau mami. Tapi itu cincin Nibelung!”

Regina mengernyit heran. Cincin Nibelung, gumamnya dalam hati, nama yang sungguh aneh namun familiar.

Fafnir menatap Regina penuh kesabaran, lalu akhirnya mengajak Regina untuk segera relaks membicarakan cincin Nibelung ini di kamar Fafnir sendiri.

Di kamar Fafnir, Regina nggak habis pikir mengapa sifat Fafnir tiba-tiba melunak. Biasanya kan Fafnir ibarat macan yang akan siap menerkam siapa saja yang nggak sejalan dengannya—pun termasuk orangtuanya. Tetapi kenapa menyangkut hal—yang bagi Regina—remeh begini ia kelihatan begitu cool down meski di awal Fafnir kelihatan panik?

”Ini menyangkut eksistensi kita, Gin. Cincin itu lo temuin di kamar bonyok, kan?” Suara berat Fafnir mengusir imajinasi Gina yang terbang tinggi entah ke mana tadi.

”Eksistensi? Come on, eksistensi keluarga kita kan tentu saja tetap terlihat asal aset perusahaan papi nggak anjlok.” Regina berkata defensif.

”Apa mami nggak pernah cerita sama lo tentang hal ini—tentang para kaum Nibelung? Tentang asal muasal siapa moyang kita, heh? Bukankah setiap hari mami selalu menceritakan itu, sebelum tidur?” Fafnir memberondong pertanyaan yang membuat Regina nggak henti-hentinya mengernyit bingung.

Regina diam sejenak. Menceritakan sesuatu sebelum tidur?

”Jangan bilang kalau fairy tale itu adalah kejadian nyata, Faf.”

God…, jadi selama ini lo pikir itu cuma dongeng?! Itu nyata!” seru Fafnir.

(bersambung)

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

2 thoughts on “Cincin Nibelung 1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s