Gemintang 1

ANGIN menyapa lembut ketika Nami membuka jendela kamarnya. Ia mencari-cari bintang yang paling berpendar lalu mengajaknya bicara. Ritual aneh yang selalu dilakukan Nami untuk mengusir rasa gamangnya. Tahun kedua kuliah memang membuatnya harus mati-matian membagi waktunya antara akademis dan organisasi—bahkan waktu sosialisasi. Rasanya ingin sekali Nami relaks sejenak akan aktivitasnya sebagai mahasiswi.

Bukannya Nami asosial, lantas nggak bisa seperti ember bocor curhat dengan makhluk bernama manusia lainnya, tapi hal itu membuatnya dapat berujar lebih lepas. Nggak ada alasan untuk jadi ansos bagi Nami, tentunya. Ia cukup pede dengan wajah manisnya yang tergolong ‘ayu’ khas Indonesia—Jawa, lebih tepatnya. Mamanya masih ada keturunan dari Yogyakarta sedangkan almarhum papanya berdarah Bugis—atau biasa disebut Culé.

Baginya, berbicara dengan bintang seperti berbicara dengan perantara Tuhan—nyaris sama dengan doa-doanya setelah ia beribadah. Nami sendiri nggak dapat memverbalkan mengapa ada kesenangan yang lain ketika “berbicara” dengan bintang.

Mengingat ia nggak punya banyak waktu, Nami langsung nyinyir berbicara mengenai jengkelnya ia dengan dosen tadi pagi, beratnya tanggung jawab dengan ditunjuknya ia menjadi steering committee suatu acara, sahabat yang mendekatinya, dan hal umum untuk seorang mahasiswi.

Tiba-tiba ia tersentak dengan suara yang menyerupai siulan, reminder bahwa ada seseorang meneleponnya. Yarra, sahabatnya dari kecil.

“Nam, lo di mana?!” Yarra terdengar nggak sabaran.

“Hoi! Kalem aja! Ada apa? Nggak usah memburu begitu deh.” Nami tahu sekali tabiat sahabatnya yang suka barbar.

“Lo di mana?”

Nami mendesah, berusaha sabar. “Gue di rumah. Kenapa sih?”

“Lupa sekarang hari apa tanggal berapa dan ada agenda apa, heh?”

Nami mengernyit diberondong pertanyaan demikian. Tanggal? Nampaknya nggak ada yang khusus pada tanggal ini. Bahkan, ia sendiri nggak tahu apa alasan Yarra menanyakan hal tersebut.

Oh, come on!” Yarra memekik tak sabar. “Sekarang kan ultahnya Ve. You have to go now. Acaranya mau mulai lima menit lagi. Jangan lupa dress code-nya. Setahu gue lo udah beli kado buat dia deh.”

Mata Nami membulat. Ulang tahun Ve! Mengapa ia bisa sampai lupa?!

Veryana Mevia. Atau biasa dipanggil Ve. Nggak ada yang nggak tahu siapa Ve di kampusnya. Ve yang cantik. Ve alumni sekolah elit. Ve dari kalangan jetset dengan sesuatu yang branded dan classy yang melekat di tubuhnya. Ve putri tunggal Mevia yang dielu-elukan banyak orang dan konon memiliki korporat kelas internasional.

Yang anehnya, sejak awal ia menjadi mahasiswa baru—atau biasa disebut maba, ia sudah memperlihatkan bahwa ia nggak menyukai Nami. Nami sendiri nggak tahu alasan Ve membencinya. Meski memang nggak ada bukti otentik bahwa ia membenci Nami. Sebenarnya sikap Ve pada Nami dapat dikategorikan wajar. Namun, sorot matanya… sorot mata Ve yang memperhatikan Nami dengan sangat nggak wajar. Nami sendiri mengartikannya sebagai tatapan yang menusuk, dalam, dan terdapat percikan-percikan api. Yang mungkin saja, jika ada trigger pasti akan membuncah sebagai kobaran api yang besar.

Omong-omong, ia ingin hadir ke acara ultah Ve bukan tanpa alasan. Ada urgensi yang menuntunnya untuk datang.

“Mau ke mana sih? You looked dead-hurry.” Lando, satu-satunya kakak kandung Nami, merasa terganggu dengan sikap Nami yang kadang suka messed up sendiri dengan dirinya.

Nami hanya melengos, malas menanggapi celotehan abangnya itu. Kondisinya sama sekali nggak tepat.

“Duileh, jutek banget.”

“Tau sepatu kets gue, nggak?” Nami tak mengindahkan celotehan abangnya.

Lando yang sudah kenal Nami sejak lahir, akhirnya mengerti, adiknya ini memang sedang terburu-buru. Ia pun menunjuk tempat sepatu yang berada di tangga.

Aw, thanks, Lan!” seru Nami ketika mendapati sepatu kets merahnya. “Mobil lagi lo pake nggak? Gue pinjem boleh?”

Lando yang tadinya merasa terganggu malah akhirnya terkesan membantu Nami—mungkin secara naluriah ada sifat seorang abang di diri Lando yang nggak pernah Nami indahkan.

“Nggak kok, lagi nyusun buat sidang outline besok.” Lando menjawab sekenanya. Memang, Lando sekarang sedang menyusun skripsi—sosok yang paling ditakuti oleh mahasiswa tingkat akhir.

Thanks, Lan. Gue pergi ya!” seru Nami lalu mengambil kunci mobil.

Ketika Nami menghilang dari rumah disusul dengan suara dengungan halus mobil miliknya, Lando bergumam, “Selain keliatan buru-buru, tu anak keliatan oldies banget pake baju jaman baheula begitu.”

* * *

Konsep minimalis ulangtahun Ve memang dapat diacungi jempol. Halaman rumahnya disulap menjadi perkampungan retro yang memanjakan mata karena memang berkonsep retro atau eighties. Musik yang dialunkan pun merupakan musik retro.

Nami mendapati beberapa orang yang ia kenali di sini. Nampaknya Ve mengundang beberapa teman-teman satu fakultasnya selain kerabat terdekatnya. Ia sendiri mendapati Yarra sedang asyik menikmati konsep ulangtahun Ve.

“Nami, glad to see you here!” Tiba-tiba saja perempuan molek dengan make-up yang pas, menegur Nami. “Gue kira lo nggak bakalan hadir.”

Nami tersenyum disapa orang itu. Ve. Ia begitu cantik dengan gaya retronya. Wajahnya yang tegas mengukuhkan bahwa Ve sangat berkarakter. Tipikal tokoh antagonis yang suka menindas namun cantik.

“Pasti dateng dong. Happy birthday, ya Ve,” ucap Nami basa-basi. Dalam hati, ia menggumam, kalo aja Yarra nggak ngingetin, gue pasti lupa. “Oh iya, ini.” Nami pun menyerahkan sebuah bungkusan kecil untuk Ve, sebuah kado.

Aye, thanks, Nami.” Ve terlihat senang diberikan kado. Nami sendiri bingung membaca apa arti ekspresi Ve, entah senang atau melecehkan. “Selamat menikmati pesta kecil-kecilan ini ya, Nam. Gue mau nyusul teman yang baru datang.”

Nami mengangguk pelan.

“Ve itu cantiknya artifisial, ya.” Laki-laki dengan postur tegap dan mengenakan kaos berwarna kuning ngejreng, ikat di kepala, dan celana berwarna jingga, mencoba memulai percakapan.

“Eh, Arya.” Jujur, Nami cukup kaget. “Well, artifisial atau nggak, tetep aja Ve itu cantik. No doubt.”

Arya tersenyum dengan jawaban jujur dari Nami. “Nggak ngerasa kesaing, Nam?”

“Selalu deh komentar itu, nggak ada yang lain, Ar?” gerutu Nami.

Arya merupakan salah satu teman terdekat Nami. Mereka kenal sejak kegiatan Ospek fakultasnya. Sama-sama suka berorganisasi membuat mereka dekat—namun dekat dalam arti sahabat. Tambah klop ketika mereka satu organisasi di mana Arya dan Nami menjadi sama-sama menjadi kepala departemen di BEM fakultasnya, hanya berbeda divisi. Arya pada divisi olah raga, sedangkan Nami pada divisi kewirausahaan.

“Tadi Yarra nyariin lo terus tuh.”

“Iya, tadi dia juga yang ngingetin sekarang Ve ultah. Tapi dari tadi kok nggak nongol ya?” tanya Nami bingung.

“Gimana nggak ngeliat doi, orangnya lagi asyik ngobrol sama Dion tuh.” Arya tertawa geli sambil menunjuk dengan dagunya.

Nami meringis mendapati hal tersebut. Yarra memang lagi didekati oleh Dion. Yang membuatnya sebal, tadi Yarra sendiri yang menggebu-gebu menyuruhnya lekas datang ke sini tetapi justru Yarra yang lupa.

“Nyebelin,” gerutu Nami.

“Kayaknya lo kebanyakan pikiran,” tebak Arya. “Mendingan nikmatin aja pesta ultah Ve ini. Meski minimalis, termasuk keren lho konsepnya.”

Tak dapat dipungkiri, pesta yang bagi Ve “kecil-kecilan” ini memang menyenangkan dan bisa membuatnya relaks. Halaman rumah Ve juga tergolong luas sehingga beberapa stan masih dapat ditampung, apalagi dekorasinya yang nggak tanggung-tanggung. Musik yang mengalun terkenal di era eighties di mana Madonna menjadi salah satu ratu pop.

Sebenarnya, Nami sendiri penasaran dengan ulangtahun Ve ini. Ia tahu bahwa Ve pasti akan mengundang saudara-saudara jetsetnya. Bukan hanya itu, yang pasti Ve mengundang kalangan jetset yang lain. Hal ini juga terbukti dengan dilihat banyaknya pria maupun wanita yang terlihat classy dengan gaya retro—meski itu hanya pikiran Nami saja.

Alasan Yarra mengingatkannya dengan tergesa sebenarnya alasan yang satu itu: Ve pasti mengundang klan sosialita yang lain. Bukan untuk ajang cari jodoh dadakan, melainkan ada sesuatu yang dari dulu Nami cari. Hanya Nami dan Yarra yang tahu alasannya.

Dan tiba-tiba saja Nami terbelakak menangkap sosok bermata indah itu. Laki-laki dengan dress code kontradiktif yakni memakai kemeja dan jins biasa yang sedang menikmati cordon blue dengan santai dan relaks. Auranya begitu memikat.

Nami pun tergugu di tengah hiruk-pikuk ulang tahun Ve, membuat Arya bingung.

“Nami?”

Nami masih diam tak bersuara. Ia tiba-tiba saja menggigil.

“Nami, come on, ada apa?” Arya masih bingung.

Nami tersadar, “Uhm, well, nggak apa-apa. Cuma sangsi aja, melihat orang-orang yang diundang Ve. Jauh sekali dengan dunia kita, ya.”

Arya mengernyit bingung dengan alasan Nami, tapi nggak terlalu dipikirkan olehnya. Baginya, membuat Nami nyaman dengan dirinya adalah sesuatu yang nggak bisa terbayar karena memang sulit membobol Nami. Perempuan ini selalu memproteksi dirinya dari roman. Entah ia yang memang suka akan kesendiriannya, Arya sama sekali nggak tahu.

Diliriknya Nami yang masih terlihat kalut. Sebenarnya Arya penasaran apa penyebabnya. Dicobanya memandang ke arah yang Nami, namun nihil. Pandangan Nami justru menjadi kosong.

“Ng… Arya. Gue ke tempat Yarra dulu.” Nami mengintrupsi “penyelidikan” kecil Arya. Arya sendiri hanya dapat menghela napas dan membiarkan Nami pergi.

Nami pun beranjak. Ia ingin sekali agar Yarra lekas tersadar bahwa ada misi kecil yang dibawanya untuk datang ke ulang tahun Ve ini. Sayang, ia terlalu terburu hingga nggak fokus berjalan dan menabrak seseorang.

Kaget, apalagi dengan sosok yang ia tabrak, Nami hanya dapat mendesis, “Fazha?”

* * *

Lelah. Mungkin hanya itu yang menggambarkan apa yang Nami rasakan. Pencarian yang sudah ia lakukan itu nampaknya akan sia-sia. Nggak akan pernah ditemukannya ujung pencariannya tersebut. Hanya untuk menemukan seseorang bernama Fazha mengapa harus sesulit itu? Rangkaian memorinya selalu berputar mengenai sosok bernama Fazha. Mungkin nggak selalu, mengingat Nami memiliki banyak aktivitas di kampus. Segudang aktivitasnya dapat dikatakan adalah pelarian.

“Sudahlah, Nam… jika memang belum saatnya. Mungkin, suatu saat nanti akan ketemu. Lagian, mungkin juga Fazha sudah lupa semuanya. Atau bahkan menganggap kejadian itu nggak ada.” Yarra mencoba menenangkan. Suasana kamar Nami yang nyaman nggak mampu menghadirkan nuansa itu pada pemiliknya.

Nami tersenyum tipis.

Menganggap kejadian itu nggak ada? Nggak mungkin. Kematian bukanlah hal yang mudah dilupakan, Yarra… gumam Nami dalam hati.

“Jadi, lebih baik gue nyerah ya? Lagian untuk apa mencari sosok yang gue sendiri sudah lupa wajahnya. Hanya dari satu foto—bahkan dengan kondisi nggak sempurna—gue mengenali sosok itu,” ujarnya. Sebenarnya Nami tahu, kalimat-kalimatnya itu adalah bentuk pelampiasannya karena nggak pernah mencapai titik temu dalam pencarian.

Jika Nami sudah kalut begini, seringkali terbersit rasa iba di hati Yarra. Sebenarnya sudah lama Nami melupakan kejadian ini, namun invitation card dari Ve minggu lalu membuat Nami kembali berpikir untuk menemukan petunjuk masa lalunya.

Nami dikenal sebagai sosok yang menyenangkan di kampusnya. Dengan wajah manisnya ia supel bergaul dengan siapa saja. Aktivitasnya dalam berorganisasi tingkat fakultas maupun luar kampus tidak membuat IPK-nya anjlok—bahkan tetap cumlaude. Bisa nimbrung di kalangan geeky maupun socialite karena ia cerdas dan suka sekali socializing. Namun jika berbicara mengenai masa-masa SMA-nya, ia bisa langsung jatuh terjembab dan seperti beling yang mudah pecah.

Yarra sendiri bukan saksi akan kegamangan dan kelamnya masa itu, di mana Nami banyak mengalami kehilangan… alasan mengapa Nami terobsesi dengan bintang. Tetapi tentu Yarra tahu semua. Yarra tahu bahwa Nami ingin sekali menemui sosok bernama Fazha itu. Sayangnya, Yarra sedang sekolah di Belgia, ikut ayahnya yang dinas di sana sehingga ia nggak tahu paras Fazha seperti apa.

“Tapi, gue ngerasa orang itu adalah Fazha.” Nami berkata getir.

“Bukan, Nami. Mungkin memang mata dan alisnya saja yang mirip. Karena lo terobsesi untuk menemui dia, maka lo menganggap ia adalah Fazha dengan kemiripan yang sedikit itu,” bantah Yarra halus.

“Obsesi! Memang sebegitunya ya?” tanya Nami skeptis, sedikit tersinggung.

Yarra menghela napas, malas beradu pendapat dengan Nami.

“Atau sebaiknya memang melupakan Fazha, ya? Tapi rasa sakit itu ada di sini, Yarra…,” bisik Nami lirih sambil menunjuk dadanya. Sikap mamanya yang terkesan dingin, abangnya yang juga memilih bungkam, serta dirinya yang hanya dapat mengingat ayahnya dari pigura membuatnya sakit.

Yarra pun mendekat lalu memeluk tubuh Nami yang terlihat ringkuh. Ia mengerti sekali kenapa Nami bisa begitu rapuh jika membicarakan orang yang bernama Fazha ini. Mengapa dada Nami sesak, penuh gemuruh, dan mudah sekali mengucurkan air mata.

Yang menjadi pertanyaan Yarra dari dulu, ia nggak tahu sebesar mana rasa benci atau sedalam apa rasa cinta Nami untuk Fazha… mengingat Fazha adalah laki-laki pertama yang dapat membobol perisai hati Nami. Sekaligus menjadi “pembunuh” papa Nami. Bahkan hal tersebut pun masih berupa asumsi saja.

Diam-diam, Lando dari balik kamar Nami terlihat muram melihat Nami yang masih terjebak dalam masa lalu.

* * *

“Jangan pernah main api lagi.” Seseorang mengingatkan.

I don’t play. Aku justru mencoba memadamkannya!” serunya sengit.

But that risks—

I just want to try—”

Bunch of shits! Kamu akan remuk. Akan sangat remuk.”

“Nggak masalah kalo aku yang remuk. Asal bukan Namira,” jawabnya. Ia mencoba kembali merespons dengan tenang.

“Aku nggak yakin bukan cuma kamu yang remuk. Tapi juga Nami. Dan juga keluarganya.”

Ia menggeleng, nggak mau mendengarkan.

Ini utangku, dan tak akan ada yang bisa membayarnya kecuali aku!

….bersambung~

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s