Gemintang 2

Sebenarnya Nami benci sekali keadaan ketika bangun tidur dan sehabis menangis semalam suntuk—pasti akan ada setengah black hole di bawah matanya. Terlihat sembap dan rapuh pun sebenarnya sangat tak suka ia tunjukkan. Nami lebih suka terlihat sebagai plain girl tanpa beban.

Ketika kakinya menuruni tangga rumahnya—yang langsung terhubung dengan ruang makan—dan pergi ke meja makan, ia mendapati di meja makan sudah ada nasi goreng yang nampaknya baru dihangatkan serta es teh kesukaannya.

Ia melirik jam dinding. Sudah pukul sembilan, sedangkan kuliahnya hari ini dimulai jam sebelas. Mamanya sudah berangkat ke kantor. Abangnya, Lando, juga sudah ke kampus. Ia sendiri bingung kenapa Lando yang biasanya malas sekali ngampus ketika masuk ke tingkat empat, kerjaannya doyan banget ngampus. Katanya, ia butuh banyak buku referensi dari perpustakaan pusat kampusnya.

Setelah sarapan, Nami lekas mandi dan berangkat. Yang menyebalkan jika masuk siang adalah Nami nggak pernah dapat tebengan. Jadwal kuliah Yarra pun dari pagi. Maka ia pun harus menunggu bus di halte yang untungnya nggak jauh dari rumah Nami.

Pukul sepuluh lewat ketika Nami menunggu bus ke arah kampusnya. Bus ke arah kampusnya memang dapat dikategorikan bus langka karena beroperasi satu jam sekali. Ojek pun masih jauh pangkalannya. Tiba-tiba saja sebuah Jaguar berhenti di halte dan kaca mobil diturunkan.

“Hai, a girl with yellow shirt. Sedang menunggu jemputan atau angkutan umum?” Sosok pria bergaya kasual muncul dari balik pintu mobil.

“Oh, hai, Ren.” Nami terlihat cukup suprised dengan siapa yang menegurnya.

“Mau ke mana?”

“Kampus.”

Where?

“UI.”

“Wah, kebetulan gue juga mau ke Bogor, bisa lewat sana. Wanna join me and my Jaggy?” tawar Ren. “I’m so pleased if you will.”

Nami terkekeh. Sebetulnya ini kebetulan yang menyenangkan. Setidaknya, ia tidak nggak kelas siang ini mengingat dosennya adalah Mas Fikry yang strict dengan aturan. “Oke. Jika memang lo gak keberatan.”

Ren pun membukakan pintu mobilnya. Dia memang terbiasa proper dengan perempuan. Di sisi lain, ia tertarik dengan sosok yang berada di sampingnya kini sejak kemarin. Pertemuan anehnya dengan Nami di ulang tahun Ve.

Bagi Nami, Ren masuk ke dalam kategori cowok grunge yang… cukup seksi. Maksudnya, sudah sepatutnya Ren menjadi model kawakan atau bintang film. Wajahnya cukup ganteng dan bersih. Badannya pun cukup bagus, terlihat dari kaus hitam yang jelas-jelas membuat tubuhnya tercetak jelas.

“Masih mencari Fazha, Nami?” tanya Ren lurus.

Nami agak kaget ditodong begitu oleh Ren, namun ia hanya bisa tersenyum kecil. Nggak heran jika Ren menanyakan hal tersebut. Karena ia kemarin sempat “menuduh” Ren adalah Fazha. Ia melihat kemiripan pada alis dan mata Ren. Terlebih Ren ada di acara ultah Ve. Itu menunjukkan bahwa Ren berada dalam lingkup yang sama dengan Ve. Begitu pula Fazha yang selalu dicarinya.

“Lo kuliah di mana, Ren?” tanya Nami, entah mengapa malah canggung duduk di mobil mewah Ren.

I’m not,” jawab Ren kalem.

“Heh?”

“Gue sedang menjalankan bisnis. Baru saja lulus.” Ren mengerti keterkejutan Nami.

“Oh… lulusan mana?”

You’ll know soon. Jujur ya, gue paling males kalo ditanya lulusan mana. It disturbs me a lot.” Ren menjawab lurus.

“Oh, maaf.”

It’s okay.” Ren tertawa melihat ekspresi bersalah Nami. “Lo terlihat begitu Indonesia. Mudah sekali minta maaf. Sometimes Indonesian have to snob because they have something. Gemar sekali sih merendahkan diri sendiri.”

Nami mendelik. “Jangan jadi hakim yang nyatanya bukan pekerjaan lo, Ren. Skeptis banget sih. Tadi kan minta maaf karena hanya trying to be proper. Walau gue akui memang orang-orang Indonesia mayoritas nggak pede dengan kualitas mereka sendiri.”

Ren tersenyum lebar. Memang benar cewek ini menarik perhatiannya sejak awal. Di matanya, sebenarnya Nami terlihat rapuh, namun ia mencoba membentengi dirinya dengan tebing-tebing terjal yang kokoh sehingga terlihat kuat.

“Hei, tadi lo menyebutkan Indonesian dengan aneh. Memangnya bukan orang Indonesia, ya?” tanya Nami.

“Di KTP sih begitu tapi sama sekali nggak bangga.”

Nami mendelik tambah sebal, “Huh, siapa yang mau pengakuan seorang Ren sih? Gue rasa itu yang salah sama pemuda sekarang. Harusnya berpikir, apakah Indonesia bangga sama nggak sama diri kita. Kalo nonton bulutangkis atau sepakbola lagi menang, banyak deh yang tweeting ‘bangga dengan Indonesia’, tapi emang Indonesia bangga punya ‘kamu’?”

“Lo terdengar aktivis banget sih, Nami.” Tawa Ren meledak. “Atau mau sok-sokan jadi muridnya Kennedy?”

“Soal aktivis kampus, mungkin iya. Sedangkan murid Kennedy, rasanya tiap warga yang loyal memiliki pemikiran itu.” Nami menjawab lempeng.

“Aw, interesting.”

Setelah itu, mereka selalu beradu pendapat mengenai pola pikir masing-masing. Ren menganggap Nami sebagai perempuan cerdas dengan pijakan Indonesia yang kuat sekali. Sedangkan bagi Nami, Ren seperti seorang sahabat yang perlu diluruskan ideologi western minded-nya.

“Oke, sudah sampai di kampus lo nih. What a great conversation, Nami.” Ren tertawa, cukup jengah dengan pengetahuan Nami yang sangat luas.

Nami tersenyum. “Thanks sudah mau antar juga. Dan lo gak perlu bukain pintu segala. Emansipasi nampaknya bukan hal yang asing lagi, kan?”

Ren masih tak kuasa menahan senyumnya. “Alright.”

Bye, Ren. Bener-bener thanks lho, bisa buat gue nggak telat kelas siang ini.”

Welcome, Nami.”

Nami pun menutup pintu mobil Ren dengan halus. Ia masuk ke halaman kampusnya dengan wajah berseri. Entah mengapa ia suka obrolan tadi—meski agak jengah dengan pandangan Ren. Setidaknya, ia bisa sejenak melupakan kesedihannya semalam. Terlebih, wajah Ren cukup enak dilihat.

* * *

Selesai kelas pertama, Nami langsung beranjak menuju ruang BEM fakultasnya. Ada beberapa agenda yang harus dirapatkan dengan staff-nya berhubung salah satu acara utama dari divisinya akan berlangsung.

“Mata lo kenapa?” tanya Arya melihat Nami yang langsung mengacak-acak beberapa tumpukan proposal di sudut kiri ruang BEM.

“Kurang tidur gara-gara kemarin,” jawab Nami pendek.

“Masa? Bukan karena nangis ya?” selidik Arya.

“Ih, sok tahu. Eh ngeliat anak-anak gue nggak? Katanya mau rapat di sini.”

“Tadi sempat ngeliat Orin grasak-grusuk, panik nggak ada elo kayaknya sebagai steering. Yang lainnya gak lihat,” jawab Arya.

Nami manggut-manggut. Mungkin Orin—yang merupakan project officer untuk acara utama divisinya tersebut yaitu try out anak SMA se-Jabodetabek—sudah mengganti tempat rapat yang lebih kondusif.

Sebelum sempat Nami keluar ruangan, Arya mencegahnya, “Nam, tadi yang antar lo siapa?”

Nami menatap Arya lurus. Arya memang selalu want-to-know tentang kehidupannya. Namun, ia sadar bahwa Arya merupakan salah satu sahabat baiknya di kampus ini. Maka bukan hal aneh jika Arya menanyakan hal tersebut.

“Ren, teman Ve. Kebetulan ketemu.”

“Ren? Kamajaya?” tanya Arya penuh selidik. “Yang kemarin lo sangka orang yang salah itu?”

Nami membatin. Kamajaya? Ren juga dari Kamajaya? Apa itu sebabnya ia memiliki alis dan mata yang mirip dengan Fazha yang juga berasal dari klan Kamajaya? Berarti aku sangat harus mengenalnya. Setidaknya ia tahu Fazha. Tapi rasanya aneh jika Ren nggak kenal Fazha… seperti responsnya kemarin.

“Yang itu?” tanya Arya kembali.

“Oh, nggak tahu. Kami baru kenal kemarin. Tadi juga kebetulan ketemu.” Nami menghela napas, meski dalam hatinya masih bertanya-tanya mengenai asal-usul Ren yang mungkin saja masih berkaitan dengan Fazha. “Gue duluan, Ar. Mau nyari anak-anak…”

Arya mengangguk. Setelah sosok Nami keluar, ia menghela napas. Sejujurnya, ia nggak suka friend zone antara dirinya dan Nami. Ia ingin lebih daripada itu. Tetapi Nami selalu saja menjaga jarak dengannya, seakan menunggu seseorang untuk membuka hatinya yang sudah terkunci.

Sedangkan Nami, masih bertanya-tanya. Apakah sudah saatnya ia tahu dan bertemu dengan Fazha? Berhubungan kembali dengan orang-orang jenis seperti itu dapat berarti membunuhnya secara perlahan…

Seperti dulu.

* * *

Angin sore ini sangat dingin. Ren dengan santai masuk ke Sunrise Coffee—coffee shop yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa dua tahun terakhir. Ia suka suasana coffee shop ini, mengingatkannya pada coffee shop yang berada di Milan. Meski memang, bagi Ren, tak ada yang dapat mengalahkan rasa kopi di negara asalnya.

Ren sendiri baru di Jakarta dua minggu. Waktu yang singkat untuk beradaptasi di ibukota yang penuh hiruk pikuk. Nggak ada lagi kesan damai sewaktu ia di Umbria. Ia sedikit rindu dengan tempat itu. Tempatnya menyusun berbagai rencana ke depan. Sebenarnya ia nggak terlalu suka dengan pilihannya untuk ke Jakarta—ke tempat asalnya. Ia harus kembali ke dunianya yang penuh dengan topeng.

Ren yang sendiri dan terlihat serius di depan laptop-nya sendiri membuat efek tersendiri bagi Sunrise Coffee. Ia menjadi titik perhatian pengunjung yang lain di mana mereka hanya berani meliriknya diam-diam. Bagaimana nggak, dengan postur tinggi dan tegap serta wajah keras perpaduan Latin dan Jawa membuatnya enak dilihat. Beberapa menduga Ren adalah model pria, sedangkan yang lain tahu bahwa ia-lah salah satu Kamajaya yang dikenal arogan sebelum bertolak ke Italia.

Reno sits and becomes center of the show.” Abel, sepupu perempuan yang seumur dengannya menepuk halus pundak Ren.

Don’t call me Reno.” Ia menutup laptop-nya, merasa yang ditunggu datang.

“Okay, Ren. Gimana kerjaanmu? Already finished?” tanya Abel.

“Belum. Produknya belum fiks. Masih banyak kekurangan. Makanya gue manggil elo. Gue mau produk gue perfect sebisa mungkin,” jawab Ren.

Sebelumnya, Ren sudah meng-e-mail Abel soal proposal bisnisnya. Namun, merasa dirinya sangat baru di dunia bisnis, ia meminta bantuan Abel yang sudah membuka usahanya dan dapat dikatakan maju dalam bisnis kuliner dan butik.

“Masih kurang yakin kapan break event point dari usaha ini meski sudah ada hitung-hitungannya nih,” ujar Ren. Ia tahu Abel pasti akan membantunya.

Sepupunya ini bahkan sudah ia anggap kakak sendiri meskipun mereka berdua hanya berselisih tiga bulan. Abel yang cantik yang memiliki tangan hangat, begitulah julukan Abel. Nggak tanggung-tanggung, sebenarnya ia sudah menjabat sebagai manajer pemasaran di perusahaan multi-nasional “patungan” antara Kama-Corporation dan Mevia Corporation. Kinerja Abel yang baik dan selalu total membuat dirinya mudah untuk naik karir. Terjunnya ke dunia wirausaha memang sudah passion Abel sejak lama.

“Tapi jujur ya Ren. Aku lagi malas membicarakan bisnis. Kamu tahu sendiri kan betapa menyebalkannya dunia kita ini.” Abel malah curhat. “Plus, acara charity night nanti.”

Ren terlihat kecewa. “Jadi—”

“Aku sudah dengar kalau kamu lagi tertarik dengan seorang perempuan pada ultah Ve. Tell me who she is,” ujar Abel sambel mengerling. Ia tahu sekali meskipun memiliki outer luar biasa, Ren sama sekali bukan tipe player. “Sayang sekali aku nggak datang waktu itu.”

Ren kelabakan. Begitu mudahnya informasi bergulir cepat di lini sosialita. Dinding pun bisa mendengar, heh? batin Ren jengkel.

“Seorang Reno bisa tertarik dengan perempuan. Menarik sekali dibahas, apalagi sebelumnya kamu kan dikenal sebagai si belok,” seloroh Abel.

“Enak aja gue belok. Lagian soal itu… nggak seperti yang lo pikir,” ucap Ren, mencoba mengelak. “And can you stop me calling me Reno?

“Beritahu aku siapa perempuan itu. Dia layak diperhitungkan?”

“Sama sekali bukan dari dunia kita,” desah Ren.

* * *

Di kamar Yarra, Nami sempat melakukan investigasi dengannya mengenai Ren.

“Namanya Reno Kamajaya,” papar Yarra. “Lulusan Università Campus Bio-medico di Roma, padahal sewaktu SNMPTN dan ujian masuk PTN lainnya juga sempat diterima di UI, UGM, serta ITB. Ketiganya jurusan teknik sipil. Tapi malah kuliah di Roma jurusan bio-medicine. Ng… setahu gue jurusan bio-medicine di Indonesia untuk S1 nggak ada. Selain itu, Ren sendiri termasuk yang nggak pernah menampakkan eksistensinya di kalangan klan Kamajaya. Dia nggak suka popularitas, track record-nya juga nggak ketahuan.”

Nami manggut-manggut. “Mengenai Ren yang jarang menunjukkan keberadaannya saja mudah, tetapi kenapa mencari data mengenai Fazha sesulit itu?”

“Menurut gue, karena Fazha itu semacam nama panggilan sayang ketika kalian berpacaran. Dan masih ada kemungkinan jika Fazha itu adalah Ren. Atau Ren adalah Fazha.” Yarra menambahkan.

“Begitu?”

Yarra mengangguk, ditunjukkannya layar laptop pada Nami. “Di antara kalangan Kamajaya, hanya ada delapan orang yang umurnya masih ‘setara’ dengan kita. Empat cowok, dan empat cewek. Yang cowok sendiri ada Ren, Gerald, Niwa, dan Alen. Niwa sendiri dengan mudah kita blacklist karena dia terkenal dengan kesetiannya yang dari SMP macarin klan Mevia sampai sekarang—Luna namanya. Kemungkinannya ya tinggal Ren, Gerald, atau Alen.”

Nami menyimak dengan mimik serius. Berarti masih ada probabilitas bahwa Ren adalah Fazha! Fakta yang membuat hatinya berdesir penuh dengan kegugupan. Tetapi juga masih ada kemungkinan lain bahwa Fazha adalah… Gerald atau Alen.

Jika saja Nami tidak hilang ingatan, ia pasti masih dapat menyimpan rapat-rapat memori yang membuat mamanya selalu bungkam jika melihatnya. Alasan mengapa ada lukisan jendela dengan bulan di kamarnya.

Yarra sendiri nggak dapat membantu banyak. Lulus SMP, ia dibawa pergi papanya ke Belgia karena ada tugas di negara cokelat itu. Barulah ketika lulus SMA, ia kembali ke Jakarta dan satu kampus dengan Nami. Ketika SMA pun, mereka berdua nggak terlalu sering saling kontak. Sesekali saja lewat chatting di Yahoo. Yarra hanya sempat tahu bahwa Nami berpacaran dengan cowok beda sekolah yang charming dari kalangan ‘kapitalis’ Jakarta yang sempat membuat heboh dan tahu nama pasangan Nami adalah Fazha.

Mereka hanya kontak pada tahun pertama. Belakangan, akhirnya Yarra tahu bahwa Nami mengalami depresi hebat karena kecelakaan yang membuat papa Nami meninggal dunia. Namun, pada tahun ketiga Nami mengontaknya lagi. Ingatannya pulih tetapi ia sama sekali nggak pernah dapat mengembalikan memori tentang pertemuannya dari awal sampai akhir dengan Fazha. Begitu pula tentang papanya.

Sikap mama Nami pun berubah menurut Nami, nggak sehangat dulu. Nami hanya diberi petunjuk oleh Yarra bahwa ia sempat cerita tentang Fazha yang sama sekali tidak ia tahu. Abangnya sendiri, Lando, emoh untuk membicarakan hal itu. Hubungannya dengan Lando sendiri tidak terlalu dekat dari dulu. Selain itu, ia yakin petunjuk agar ingatannya kembali adalah dengan menemui sosok bernama Fazha—mantan pacarnya ketika SMA tersebut.

“Nami, hape lo getar tuh,” ujar Yarra memberitahu.

Nami mengambil ponselnya. Sebuah nomor asing yang meneleponnya namun tetap ia angkat. Yarra yang tadinya serius berkutat dengan laptop di kamarnya pun akhirnya tertarik dengan siapa yang menelepon Nami ketika Nami bergumam, “Ren?”

bersambung…

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s