Gemintang 3

Sebenarnya Nami tidak suka dengan orang-orang jetset yang selalu membuat tebing sosial dengan orang-orang menengah ke bawah. Baginya mereka mayoritas tipikal orang-orang hedonisme yang menganggap sebelah mata “rakyat jelata”. Di sisi lain, Nami juga merasa iba, karena sukar sekali dianggap tulus jika menjadi bagian dari mereka. Mereka kan dikenal dengan doktrin sosial demikian, lantas jika melakukan sebuah kebaikan, pasti diduga “ada maunya” atau “palsu”. Seperti dugaan Nami atas Ve terhadap dirinya. Nami sendiri tidak suka sifatnya yang melakukan judging dini tersebut.

Menikmati kebab yang masih panas di salah satu kafe mungil bernuansa Turki, Nami mengirim pesan pada Ren agar lekas datang. Ia tidak mau menunggu terlalu lama. Banyak agenda yang harus dikerjakan hari ini meski libur.

Kafe dengan nuansa Turki ini baru saja launching dua minggu terakhir ini dan pemiliknya adalah teman Nami sendiri. Disapu sekeliling oleh kedua matanya. Meski ramai, suasana kafe ini tetap tenang. Dan ketika itulah sepasang matanya menangkap sosok familier yang sedang duduk tenang membaca tab dan menikmati teh ala Turki yang disajikan berbeda.

Di Turki, cara penyajian untuk minum teh memang berbeda dengan Indonesia yang langsung dicampur dengan air dan gula. Ala Turki adalah dengan menggunakan teko dengan dua bagian. Yang pertama di bagian bawah teko terdapat larutan teh langsung yang masih kental dan pekat, sedangkan di bagian atas teko, merupakan air panas. Jadi, mereka dapat mengukur kekentalan dari teh yang ingin mereka nikmati.

Wajahnya yang tegas, sorot matanya yang tajam namun tenang dan dibingkai oleh kacamata hitam, dan rambutnya yang disisir klimis membuat Nami tidak kuasa memberikan atensinya sejenak. Sosok itu terkesan nerd tapi aura maskulinnya tetap memancar.

“Maaf telat! Tadi gue harus antar sepupu gue.” Dengan wajah ngos-ngosan, Ren menghampiri Nami.

Nami melirik ke arah Ren. “Alasan apa pun nggak akan gue terima karena telat.”

Ren memaki dirinya sendiri. Sebenarnya, dia bukan tipe yang nggak on-time. Ia sangat menghargai waktu, tetapi tadi Abel benar-benar menyebalkan sehingga ia telat.

“Sebenarnya ada apa nelpon gue kemarin dan minta ketemu?” selidik Nami.

I need your help,” jawab Ren seraya duduk di kursi, berhadapan langsung dengan Nami. Nami memang duduk di meja untuk dua orang.

Alis Nami bertaut, jelas-jelas ia tidak mengerti mengapa sosok yang baru hadir ini meminta sebuah pertolongan ia yang baru dikenalnya. Melihat raut muka Nami yang terkejut, buru-buru Ren mengeluarkan sebuah kartu berwarna krem yang didesain begitu kreatif.

“Kamajaya Charity Night,” eja Nami, dengan alis yang bertaut. Ia sempat melirik tanggal malam amal itu yang dua hari dari sekarang. “Ini untuk siapa?”

“Elo,” jawab Ren simpel.

“Kenapa gue?” Masih bingung, Nami membolak-balik invitation card berwarna krem tersebut.

“Karena gue yang pilih lo sebagai pasangan gue di sana nanti,” jawab Ren lurus.

Nami ingin sekali menolaknya. Maupun kedoknya charity nigt, bersosialisasi dengan sosialita selalu membuatnya “alergi”. Tampilan yang selalu glamor, classy, dan branded. Terlebih, ia dan Ren kan baru kenal beberapa hari! Ia merasa dirinya gampangan sekali, dibawa ke suatu tempat dan diminta jadi pasangan pada suatu event socialite. Atau bahkan ia bisa dicap mata duitan, sekali diajak seorang Kamajaya, langsung mau tanpa berpikir apa pun padahal baru kenal. Tetapi… ia langsung teringat Fazha. Klan Kamajaya. Siapa tahu ia bisa menelisik lebih dalam mengenai Fazha dan menemukan petunjuknya akan masa lalu.

“Gue sendiri bingung kenapa lo bisa tahu nomor hape gue, Ren.” Justru kalimat itu yang terlontar dari mulut Nami.

“Apa sih yang nggak bisa dilakuin sama seorang Kamajaya?” tanya Ren retoris. Baru sadar akan ucapan spontannya yang angkuh, ia menyalahkan mulutnya yang mudah sekali berkata sinis.

“Oh, itu alasan kenapa lo nggak bangga akan Indonesia. Lo hanya bangga sebagai Kamajaya. Menyedihkan sekali ya,” sindir Nami.

Ren mengutuki mulutnya yang memang sukar sekali difilter—terlalu frontal jika berbicara. Namun, ia juga makin tertarik dengan gadis di hadapannya ini yang straight to the point gemar menyindir dirinya. Tidak seperti cewek-cewek kebanyakan yang ia kenal: berusaha mendekatinya, suka pamer apa yang selalu dimiliki, dan takut sekali menyindir atau menyakiti dirinya seakan apa yang keluar dari mulutnya adalah suatu regulasi menyangkut hidup orang tersebut.

“Oke, gue minta maaf. Tapi gue harus menentukan siapa pasangan untuk acara ini. Ibu selalu menuntut,” gumam Ren.

“Makanya gue langsung nyari tahu nomor hape lo.”

“Tapi kenapa harus gue?”

“Karena menurut gue, lo bisa menjadi pasangan yang baik untuk gue,” ucap Ren yakin, lalu dengan cepat menambahkan, “di charity night. Lo tahu, bahwa gue kadang muak dengan hidup gaya sosialita yang apa-apa selalu dilihat. And so far, you’re the fittest.”

Nami mencoba meneliti gestur dan intonasi suara Ren. Memang, sejauh ini Ren terlihat tidak berbohong dan jujur mengatakannya. Lagipula, apa salahnya mengiyakan ajakannya ini? Mungkin saja Ren adalah Fazha. Sekalinya bukan, gue bisa kenal Gerald atau Alen yang di antara mereka salah satunya bisa dipastikan adalah Fazha.

“Oke, tapi ada syarat.” Nami memutuskan. Dan ketika itulah sosok yang menjadi pusat atensinya tadi—cowok geeky tapi ganteng itu—tergagap karena mata Nami menangkapnya sedang memperhatikan dirinya.

* * *

“Namira, sarapan sudah siap. Kamu jadwal kuliahnya pagi, kan?” Mamanya tahu-tahu sudah ada di samping Nami yang masih setengah sadar dari tidurnya.

Nami mengangguk. Ia tertidur di ruang tengah dengan laptop yang masih menyala karena semalam suntuk ia mengerjakan paper yang deadline-nya pagi ini. Matanya langsung tertuju pada ruang makan, terlihat abangnya yang anteng duduk sambil mengutak-atik ponselnya. Mamanya sendiri sudah berada di sana sambil menata piring untuk mereka makan bertiga. Mamanya sendiri suka sekali membuat sarapan untuk kedua anaknya ini meski sarapan yang dilalui mereka bertiga selalu saja datar.

Menu sarapan kali ini adalah favorit Nami; tumis kangkung dan telur mata sapi. Mama memang suka dengan menu sarapan favorit Nami atau Lando karena merasa ketika sarapan, perut harus “dipancing” lapar. Biasanya kan paling sukar untuk makan banyak ketika sarapan. Padahal, sarapan itu harus mengandung 10-15% gizi dalam keseharian di mana segelas susu atau sehelai roti tidaklah cukup untuk itu.

Nami pun ikut duduk di samping Lando yang masih berkutik dengan ponselnya.

“Kapan sidang outline?” tanya Nami pada Lando.

“Minggu depan, departemen ngasih jadwalnya mendadak banget,” jawab Lando, lalu berkutik lagi pada ponselnya.

Diliriknya mama yang juga ikutan sibuk dengan gadget-nya. Duh, memang benar deh teknologi itu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Ia sendiri tak ambil pusing, malah dengan lekas sarapan dan mandi sebelum menumpang abangnya untuk ke kampus.

Di kampus, Nami langsung diberondong banyak pertanyaan oleh Yarra mengenai ajakan Ren. Selesai kelas, Yarra langsung mengajak Nami ke kantin fakultasnya karena Yarra memang jarang sekali sarapan di rumahnya karena tabiatnya yang sukar bangun pagi.

“Nanti gaun dan sebagainya gimana tuh? Ya knew what I mean…,” todong Yarra.

“Ren sudah menyiapkan semuanya. Gue nggak perlu untuk beli atau meminjam branded thingy untuk itu sebagai syarat. Lagian kan dia yang ngajak. Bukannya matre atau bagaimana, tapi tahu sendiri gue nggak suka yang kayak begitu,” papar Nami.

Yarra terkikik. Dulu, waktu SD, Nami lebih dikenal tomboy dan pemberani. Begitu pula ketika SMP. Lambat laun, perangai Nami yang seperti lelaki itu menghilang sampai sekarang. Meski sudah tidak terlalu tomboy, Nami tetap saja tidak terlalu hal-hal yang “cewek banget” seperti dandan dan mengikuti mode fashion.

“Hal teknis begitu sih gue gak ambil pusing,” desahnya. “Tapi… yang bersangkutan sama mental yang gue bingung.”

“Mental?”

Nami mengangguk. “Di sana, istilahnya, gue sendirian. Nggak ada lo atau Arya yang bisa diajak ngobrol. Lingkup mereka adalah klan Kamajaya yang masih memungkinkan mengundang sosialita yang lain. Obrolan mereka juga nantinya nggak akan nyambung sama gue. Belum lagi tatapan heran mereka mengapa seorang Namira Ruswandi bisa hadir di sana yang beda kasta dengan mereka. What a freakin’ situation.”

Yarra pun terkekeh. “Tapi setidaknya, itu nggak ngebuat lo surut untuk menemukan petunjuk akan Fazha, kan?”

“Tentu. Makanya gue butuh persiapan agar di sana nggak cuma jadi pajangannya Ren doang,” tukas Nami. “Butuh persiapan matang. Setidaknya, mungkin aja ini hanya sekali seumur hidup gue bisa nembus informasi dari Ren atau kalangan Kamajaya.”

“Atau… justru itu adalah gerbang untuk lo tahu siapa Fazha… bahkan mengenal seorang laki-laki yang bisa membuat lo tidak terjebak dengan masa lalu,” tambah Yarra.

Saat itu pula chicken katsu pesanan Yarra datang.

* * *

Di tempat lain yaitu di ruang tengah kediaman Indraja Kamajaya, pada waktu yang bersamaan, nampak Ren yang sedang santai tidur-tiduran ditemani dua sepupunya yang seumur—Niwa dan Alen. Sudah lama mereka bertiga tidak berkumpul seperti ini. Ngelantur, nge-game, ngobrol nggak jelas ala boys’ thingy.

“Akhirnya menemukan tambatan hati nih?” Alen terkekeh, di kalangan Kamajaya, sudah santer sekali Ren naksir perempuan yang baru saja ditemuinya. “Pengin sok-sokan jadi si aneh Niwa atau aliran Kamajaya garis keras?”

Niwa menimpuk Alen dengan bantal. “Emangnya gue kenapa? Cewek kan bukan barang, stupid.” Ia merasa dirinya menjadi stranger jika mengobrol bareng sepupunya yang cenderung player dan memanfaatkan garis wajah yang berakibat mudahnya mereka mendapat pasangan yang rupanya tak kalah elok.

“Huh, lo mah terlalu lurus! Nggak ada salahnya kan menikmati apa yang Tuhan kasih? Mumpung masih muda!” Alen tertawa.
Niwa diam saja, agak sebal jika diolok Alen—Farrel Bintang Kamajaya—player kelas kakap. Sifat player pada diri Alen sepertinya dituruni oleh dua abangnya yang juga dikenal sebagai Don Juan-nya klan Kamajaya. Sedangkan Niwa sendiri adalah anak tunggal. Ibunya orang Jepang dan ia melihat figur ayahnya sebagai potret panutan yang sangat setia.

“Omong-omong, lo sudah ajak dia untuk charity night nanti? Maksud gue, gebetan lo itu.” Niwa mencoba mengalihkan topik, malas sekali diolok oleh Alen.

Ren mengangguk. “Iya. Bahkan kemarin gue udah minta tolong sama Abel untuk nyari dress yang pas untuk dia. Meski sering disuruh mantengin Milan Fashion Week dari dulu sama Abel pas di Italia, tetap aja gue nggak terlalu mahfum soal fashion.”

“Gue sangat penasaran dengan gebetan lo itu,” potong Alen.“Seperti apa sih dia? Tipe cewek-cewek agency ya?”

Ren tertawa keras. “Kalo lo ngomong sama dia, lo bisa dimakan dengan komen-komen nggak penting lo deh.”

“Kok ngeri sih,” jawab Alen. “Omong-omong, Gerald mau datang gak nanti? Abang lo itu kan es banget buat cewek. Lebih gila dari lo.”

Too busy. Emangnya dia sudah pulang dari San Fransisco? Dengar-dengar kolega bisnisnya menyebalkan di sana. Lagipula orang macam Gerald kan nggak terlalu suka dengan acara seperti itu meski tajuknya charity,” papar Ren.

Gerraldo Kamajaya. Cowok nine to six. GPA-nya gemilang ketika ambil manajemen bisnis di UCLA. Penampilannya yang kontradiktif di mana ia suka banget dengan buku sampai-sampai punya perpustakaan mini di kamarnya tapi gila nge-rugby itu selalu membuat perempuan memberikan sebuah perhatian lebih. Bukan hanya yang lokal, bule juga suka banget dengan gaya Gerald. Ren sendiri mengakui Gerald adalah sosok paling tampan di klan Kamajaya. Apalagi ditambah dengan pembawaannya yang kharismatik. Sayangnya, ia tidak pernah membuka hatinya untuk perempuan.

Gerald dan Ren punya kesamaan: mereka tidak terlalu banyak jam terbang dengan perempuan. No experience for love! Berbeda dengan klan Kamajaya lainnya. Yang berbeda dari mereka berdua, Gerald dengan berani bilang ia punya jalan hidup sendiri tanpa bayang-bayang Kamajaya. Ren sendiri sering melihat Ibu mengusap dada ketika berbicara dengan Gerald dulu. Tetapi gaya pembawaan Gerald yang santun membuatnya tetap menjadi anak kesayangan.

“Jadi, hanya Gerald yang belum ketahuan ngegandeng siapa nih? Ren dengan cewek-baru-ketemunya, Niwa dengan you-know-who, serta gue yang pastinya gak mungkin gak ngegandeng pasangan.” Alen mengambil kesimpulan.

“Emang lo mau sama siapa?” tanya Niwa. “Baru?”

You‟ll see.” Alen tersenyum.

“Kakek sudah mewanti-wanti tuh, nyari calon yang agak beneran sedikit. Ingat waktu ultahnya Abel? Lo gila, macarin Utami yang waktu itu reputasinya jelek banget di kalangan seleb dengan videonya.” Niwa ingat kejadian dulu.

“Ah, kayak kakek gak pernah muda aja. Gue juga yakin sebelum nemuin almarhum-ah nenek, he was a player. Gue rasa emang secara kodrati anak-anak Kamajaya tuh player karena darah kakek,” tukas Alen santai.

“Sinting,” desis Niwa.

Ren mengamati perbincangan mereka berdua. Selalu memang dynamic duo ini berdebat. Sewaktu SMA, Ren juga ingat, dua sepupunya ini yang selalu ramai dengan tindakan yang akan Ren lakukan. Mereka bukan hanya sekedar sepupu baginya, tetapi juga sahabat. Sulit baginya untuk percaya pada orang lain di luar sana—sepupu-sepupunya suka menyebut orang di luar lingkup sosialita adalah commoner—hanya mengincar posisi dan keuntungan jika berteman dengannya. Untungnya, Ren kuliah di Italia. Setidaknya mereka tidak terlalu tahu siapa Ren di tanah kelahiran.

Ren sendiri yang biasanya memiliki ambisi dengan pekerjaan barunya—yakni bisnis yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan gelarnya setelah lulus dari jurusan bio-medicine di salah satu universitas di Italia, sama sekali bingung mengapa mudah sekali dipermainkan hatinya oleh perempuan yang baru dikenalnya itu.

Nami.

Atau Namira.

Perempuan yang mengingatkannya pada seseorang dulu. Ia pun mencoba mengingat awal pertemuannya dengan Nami.

Perempuan itu dengan tergesa beranjak, membuatnya yang sedang menikmati hidangan di ulang tahun Ve tersedak karena ditabrak oleh perempuan itu. Untunglah tubuhnya selalu dijaga keseimbangannya dengan ngefutsal dan juga nge-gym sejak SMA.

Perempuan itu nampak kaget ketika Ren mencoba menahan keseimbangannya dengan tangan kanan yang memeluk pinggang perempuan itu. Awalnya, ia mengira pasti perempuan ini kaget karena akhirnya kesampaian dipeluk dengan makhluk Adam dengan rupa seperti Ren. Bukannya narsis, tapi kebanyakan perempuan yang ia kenal seperti itu.

“Fazha?” tanya perempuan itu memastikan.

Ren mencoba menilik keterkejutan perempuan ini. Nampaknya faktor outer bukanlah alasan dari keterkejutan perempuan ini.

I’m not. Nama gue Ren,” jawab Ren seraya mengembalikan perempuan itu agar berdiri lagi.

“Oh, maaf. Tapi lo mirip sekali dengan orang yang gue kenal,” ucap perempuan itu buru-buru. Nampaknya perempuan ini terlihat tergesa.

Namun, sebelum perempuan ini menghilang, Ren berujar, “Rasanya nggak proper deh, kalo lo udah tahu nama gue Ren sedangkan gue nggak tahu nama lo?”

“Oh, well, gue Nami. Teman kampusnya Ve.” Nami menjawab singkat.

Diperhatikannya figur Nami. Entah mengapa Nami mengingatkannya pada seseorang. Wajahnya, postur tubuhnya, cara perempuan ini berbicara, mengingatkannya pada seseorang.

“Jangan terburu begitu. Kita bisa mengobrol santai.” Ren mencoba sesopan mungkin mengajak Nami berbicara. Nampaknya Nami sama sekali tidak tahu siapa gerangan dirinya yang cukup digilai oleh perempuan seusianya.

Nami tersenyum. Tiba-tiba saja kegugupan dari perempuan ini hilang. Nampaknya ia sudah terbiasa untuk socializing dengan siapa saja dan di mana saja. Mudah sekali beradaptasi.

Dan, terciptalah percakapan hangat yang menyenangkan. Setidaknya, bagi Ren sendiri yang status sosialnya tidak menjadi masalah. Sampai teman Nami menepuk pundaknya, mengingatkan ada sesuatu yang harus dibicarakan.

Nami pun berpamitan dengan sopan. Ren hanya dapat tersenyum, padahal baginya Nami adalah cewek yang tepat untuk diajak ngobrol di charity night yang sebentar lagi akan diadakan oleh keluarga besarnya.

Dari jauh, Ren memperhatikan Nami yang berbicara serius dengan temannya. Hanya selang lima menit, perempuan itu tiba-tiba saja mengeluarkan airmata. Temannya pun terlihat mencoba menenangkan. Ren jadi ingin tahu sendiri apa alasan perempuan itu menangis. Rasanya ingin sekali ia menyediakan pundaknya dan memeluk perempuan itu agar tangisnya reda. Ia pun mencoba menerka, mungkinkah pria bernama Fazha yang mengakibatkan dirinya menangis?

Nami. Teman Ve. Ia harus mencari tahu tentang sosok itu. Mungkin Ve mau membantunya.

Ren selalu percaya dengan insting. Dan ia memiliki insting bahwa perempuan bernama Nami itu adalah perempuan yang dapat menempati hatinya.

Sampai pada akhirnya, ia mendapatkan alamat dan nomor telepon Nami. Bahkan ia tahu di mana Nami kuliah dengan jadwal-jadwalnya. Ia pun membuat skenario seolah ia tidak sengaja bertemu dengan Nami di halte, padahal ia ingin sekali mengobrol dengan perempuan yang terlihat kuat ini. Yang sedikit lebih benar-benar mengingatkannya pada seseorang.

“Cukup woy ngelamunnya.” Niwa menepuk bahu Ren. Ren tentu saja terkejut.

“Ngelamunin mau ngelakuin apa saja dengan gebetan lo itu ya?” selidik Alen sambil terkekeh.

You bastard,” umpat Ren. “Terserah gue ngelamunin apaan. Sebenarnya ya, dari tadi gue tuh penasaran apa tujuan kalian ke sini. Nggak mungkin cuma petantang-petenteng mau grecokin kamar gue kan?”

Niwa, si kutubuku dengan label cowok setia, kali ini menimpuk Ren dengan bantal. “Lo tuh ya, sepupu lo dateng ke sini kan sebenarnya mau welcoming party ke elo. Tapi karena hal itu sama sekali gak mungkin mengingat akan ada malam amal, ya kita ke sini.”

Ren tersenyum. Gila. Kali ini ia harus mengakui kalau ia kangen banget kumpul bareng dengan Niwa dan Alen untuk gila-gilaan.

“Tapi agenda di sini cuma bisa nge-PES doang. Siapa yang mau lawan gue duluan?” tanya Ren.

“GUE!!!” seru Niwa dan Alen berbarengan.

bersambung…

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s