Gemintang 4

Kamajaya Charity Night diadakan di ballroom Hotel InterContinental MidPlaza, hotel yang terletak di daerah Sudirman. Rasyad Kamajaya, pemilik Kamajaya Corporation, seorang kakek yang dielu-elukan sebagai businnessman handal skala internasional itu menganggap acara amal tidak perlu terlalu bermewah-mewah. Maka, charity night yang diadakan karena berhasilnya proyek kerjasama antara Kamajaya Corporation dan Saatmoko Inc. dalam bisnis baru mereka diberi konsep simpel dengan dekorasi yang tak terlalu fantastis baginya.

Indraja Kamajaya, ayah Ren, merupakan top manager dalam proyek tersebut. Maka dari itu Gerald dan Ren wajib menghadiri acara ini. Plus dengan gandengan masing-masing. Kadang, Indraja suka jengah jika ditanyai mana calon menantunya. Mengapa kedua jagoannya betah sekali menjadi single.

Sebenarnya malam amal ini mulai pukul delapan malam. Tetapi kalangan sosialita seperti mereka yang sangat menghargai waktu, mencoba datang sebelum acara dimulai. Makanan khas Indonesia yang disajikan pun menambah semarak malam amal ini.

Alen si raja pesta sudah lebih dulu datang dan mulai tebar-pesona. Tidak sedikit socialite yang datang di acara amal ini. Keluarga Adrevi dan Mevia sudah datang, bahkan Alen dapat melihat putri tunggal keluarga Hengil—keluarga Turki yang baru saja merintis usahanya di Bandung dan tidak terlalu suka publisitas—yang terkenal cantik itu hadir.

Niwa terlihat relaks mengobrol bareng Ismaya kekasihnya. Mereka nampak serasi. Niwa mengenakan tuksedo hitam dan Ismaya mengenakan dress Prada berwarna putih. Untuk tas, ia memilih untuk mengenakan tas Anna Molinari.

Indraja melirik jam tangan. Sepuluh menit lagi acara akan mulai namun ia belum menemukan dua anaknya hadir, padahal ia dan istrinya sudah mengingatkan agar keduanya datang setengah jam sebelum acara dimulai.

Di luar sana, Ren sedang memarkirkan Jaggy kesayangannya. Tentunya, ia tidak sendirian. Ada Nami di situ dengan gaun indah yang melekat pada tubuh mungilnya.

Nami sebenarnya gugup—atau bahkan takut—dengan keputusannya ini. Ditatapnya Ren yang terlihat excited sekali membawa dirinya. Nami juga sebenarnya bingung. Mengapa Ren terlihat begitu… memujanya? Apakah sosok di sampingnya ini jatuh cinta dengan dirinya? Namun mengapa secepat itu?

“Yuk,” Ren mengintruksi dirinya. “Ayah pasti marah banget karena gue nggak datang sesuai yang diminta. Apalagi Ibu.”

Nami mengangguk, gugup. Ren membukakan pintu mobil dan Nami mengikutinya. Sampai di ballroom, ia nampak begitu asing dengan suasananya. Semuanya gemerlap. Berkilau. Ia menelan ludah, cukup frustasi. Ayolah, temen lo banyak. Kalangan sosialita seperti ini seharusnya sudah jadi zona yang buat lo gak jiper. Lo kenal Ve, Jo, Ari, Bastian… gumamnya dalam hati. Namun, akhirnya ia malah bersembunyi di balik sosok Ren yang jangkung.

Ren sendiri nampak sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.

“Ren!” Alen yang matanya jelalatan mencari mangsa, menghentikan pencariannya ketika dilihatnya Ren sedang menggandeng seorang gadis manis. Mereka berdua juga nampak serasi. Sepertinya Ren sudah memperhitungkan dress code-nya.

“Hei, Len.”

Who’s that girl?” Alen tersenyum hangat melihat sosok Nami yang meresponsnya dengan senyuman.

“Oh, iya. Ini Nami. Namira. Nami, kenalin… ini sepupu gue yang terkenal paling player.” Ren terkekeh.

Alen mengulurkan tangannya dan Nami membalasnya.

“Farrel Kamajaya. Tapi lo boleh manggil gue Alen.”

“Nami. Namira Ariesta Ruswandi.”

Dan ketika Nami menyebutkan namanya, Alen terkesiap sejenak. Nama belakang Nami mengingatkannya pada sesuatu.

Kehadiran Ren di charity night tentu saja langsung menjadi pusat perhatian. Tak ada yang mengelak apabila ada yang bilang ia memiliki paras rupawan. Namun, yang lebih menarik adalah Ren yang masih muda dan dikenal lajang, kali ini ke suatu acara dengan menggandeng perempuan. Jadi, bukan hanya Ren yang jadi sorotan kali ini. Nami pun menjadi sosok yang ingin diketahui asal-usulnya.

“Ren… gue cukup surprise dengan siapa yang lo bawa lho.” Tiba-tiba saja, Ve menghampiri mereka. “Akhirnya seorang Ren bisa jatuh juga ke pelukan perempuan. Thought that you were gay before.

Ren tentu saja agak keki diolok begitu oleh Ve, namun ia mencoba mengacuhkan. Nami sendiri terlihat agak shocked dengan kemunculan Ve yang nampak begitu anggun. Ia merasa dirinya berada di dunia-antah-berantah yang “bukan-Nami-banget” melihat figur yang ada di tempat ini.

Ren sendiri mencoba untuk memisahkan dirinya dan Nami dari orang-orang—termasuk sepupunya sendiri. Ia melihat gestur Nami yang tidak kerasan dikelilingi oleh mereka. Alen yang “mengerti” pun langsung undur diri, dengan berkata ia ingin menemui pasangannya. Sedangkan Ve tetap statis di tempat. Bahkan keberadaannya di dekat Ren dan Nami membuat beberapa perempuan seumurnya datang menghampiri, ikut penasaran siapa perempuan yang digandeng oleh Ren.

“Santai aja,” bisik Ren yang tahu Nami gugup.

Nami balik berbisik, nyaris seperti menggerutu. “Sebenarnya ini malam amal atau malam publisitas sih? Misah dong, gue gak betah banget nih bareng mereka.”

Ren hanya bisa tertawa geli, dan akhirnya undur diri dengan “sahabat-sahabatnya” itu. “I have to leave. Ayah dan Ibu sepertinya menunggu gue, dan tentunya gue harus lekas ke sana, gak sabar kepengin ngenalin Namira pada mereka juga.” Dan pernyataan tersebut ternyata ampuh.

Ren ternyata cukup serius dengan pernyataannya. Dengan excited, digandengnya Nami ke arah orangtuanya yang sedang welcoming pada beberapa tamu undangan yang kebanyakan kolega bisnisnya. Namun, tak disangka, ia melihat abangnya yang sedang anteng membaca e-book di Kindle-nya.

“Gerald!” sapa Ren. “Gila, susah banget ketemu sama abang gue sendiri.”

Gerald merespons kalem dengan jawaban, “Lo-nya aja yang sibuk merintis bisnis, dude. Gue sering di rumah. And actually I attend ‘this’.”

Ren buru-buru menambahkan, “Dan dengan senang hati gue ingin mengenalkan seseorang. Kenalin, ini ‘pasangan’ gue di charity night ini.”

Gerald yang tadi tidak memperhatikan sosok yang digandeng adiknya, cukup jengah melihat Nami yang terlihat manis sekaligus cantik dengan balutan dress putihnya.

Mata Gerald menyipit, detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasa. Perempuan itu…! Dia… pasangan Ren?

Sedangkan Nami yang dari tadi sudah memperhatikan Gerald hanya dapat tergugu, ia familier dengan sosok ini. Semuanya familier namun ia tidak dapat mengingatnya. Sosok inilah yang ditemuinya di Gӧbek—restoran Turki—waktu itu sebelum Ren datang.

“Gerald. Gerraldo Kamajaya.” Dengan canggung Gerald mengulurkan tangannya.

“Nami. Namira Ariesta Ruswandi.”

Ren pun mengakui, kedua orang yang sedang berkenalan itu terlihat… aneh.

Seperti ada sesuatu di kepala mereka masing-masing yang enggan dikemukakan. Namun, ia mencoba mengenyahkannya. Mungkin Nami terkejut melihat Gerald. Gerald adalah ‘aset terbaik’ dari Kamajaya. Everyone knows. Dan tak elak perempuan terpikat. Gerald pun… mungkin agak bingung melihat Nami yang bisa dia bawa. Well, mungkin. Mungkin itu alasannya.

Gerraldo Kamajaya. Kenapa dia begitu familier… mungkin karena ia memiliki alis dan mata yang persis seperti Ren. Mungkinkah sosok ini adalah seorang Fazha? gumam Nami.

“Kita… sepertinya sudah pernah bertemu,” ucap Nami pada Gerald, disambut Ren yang cukup terkejut.

Gerald tersenyum minimalis. “Ya, gue juga merasa demikian.”

Iya, kita pernah bertemu di restoran Turki itu. Bahkan sempat saling pandang!  batin Nami.

“Mmm… gue sama Nami mau ke Ayah dan Ibu dulu. Mereka harus lihat bahwa seorang Ren gak perlu dipusingin untuk dicariin jodoh.” Ren menginterupsi sambil tertawa.

Gerald mengangguk, mempersilahkan.

* * *

Indraja Kamajaya. Nami sering melihat sosok itu di berita bisnis, dan sesekali di acara infotainment. Sosok yang kharismatik, dan lebih berkharisma ketika ia berhadapan langsung dengannya kemarin. Karina Kamajaya—istri Indraja—juga terlihat begitu anggun dengan kebaya hitam yang dikenakannya.

“Saya merasa tidak asing denganmu meski kau bukan kalangan sosialita di sini. Namun, jika memang kau merasa sanggup bersanding dengan Reno Kamajaya, siapkanlah mentalmu dan berlatihlah.” Karina Kamajaya tersenyum sekilas, lalu melanjutkan,

“Lusa saya undang kamu untuk hadir pada makan malam di rumah saya. Bersedia?”

Kalimat dan undangan itu juga masih segar dalam ingatan Nami. Karina Kamajaya sendiri yang mengatakannya ketika Ren memperkenalkan dirinya dengan ibunya. Kemarin memang benar-benar tak terduga bagi dirinya. Ia yang ingin mencari tahu tentang sosok Fazha Kamajaya justru tidak mendapat apa pun.

Arya yang daritadi dengan santai menikmati macchiato menatap Nami. Ia memang sudah tahu Nami seringkali melamun. Tapi tidak di coffee shop juga kan, melamunnya? Menurut kabar yang didengarnya, Nami memang sukar move on dari pasangannya dulu.

“Tugas kuliah makin lama sakit jiwa deh,” keluh Arya, membuka percakapan.

Nami terkekeh, baru sadar dia sedang bersama Arya.

“Ngerasa bosen nggak sih lo?” tanya Arya.

“Banget. BEM juga lagi ngebetein,” jawab Nami.

“Jalan, yuk?” Dengan hati-hati Arya mengajak Nami. “Mmm… kalo ada senggang.”

Nami memutar kedua bola matanya. “Ke mana?”

Arya tampak senang melihat respons Nami. “Terserah, at least ngelepas penat.”

“Mau CFD-an nggak Minggu ini?” Nami teringat bahwa ia sudah lama nggak menyentuh sepeda di rumahnya. “Bisa ajak Yarra dan Dion juga.”

Apakah memang sesukar itu menciptakan dunia khusus untuk kita berdua, ya, Namira? batinnya kecewa. Namun, akhirnya disembunyikan ekspresi kekecewaannya itu. Nami sendiri menganggap Arya hanya figur abang selain Lando. Mereka sudah saling tahu baik-buruk masing-masing.

“Lo dari tadi terlihat melamun, apa masih kepikiran soal kemarin?” tanya Arya yang tiba-tiba mengalihkan topik.

“Iya,” desah Nami. “Ren bisa dibilang gila. Mengenalkan gue ke keluarganya. Menganggap gue benar-benar pilihannya. Dan… undangan makan malam di keluarga Indraja membuat gue bingung.”

“Hmmm…” Arya bingung ingin merespons apa, meski hatinya dongkol. Ia hanya bingung kenapa new comer seperti Ren dapat dengan mudahnya masuk ke celah-celah hati Nami. Atau memang karena… Ren adalah seorang Kamajaya? Ia teringat sebuah kutipan dalam buku favoritnya. Ada banyak unsur pada manusia yang membuat mereka menarik atau tidak. Tentu saja harta adalah salah satunya… gumam Arya. Ia sama sekali tidak menghakimi Nami sebagai perempuan matre, namun ia hanya membuat sebuah justifikasi akan kondisi Nami… saat ini.

Shoot! Thanked to God Namira still here.

Nami dan Arya cukup terkejut mendengar seseorang berseru selain mereka berdua.

Ren Kamajaya tersenyum melihat Nami yang terkejut. Nyaris seluruh isi Sunrise Coffee memberikan atensi pada meja mereka. Tak perlu ditanya apa alasannya.

“Ren Kamajaya.” Tiba-tiba saja Ren mengulurkan tangannya pada Arya. Ren mendeteksi ada sesuatu yang berbeda dengan cowok yang berada di samping Nami.

“Arya Dhirgaputra.” Arya membalasnya.

“Oke, sorry ganggu kalian berdua. Tapi gue harus memboyong Nami pergi,” ucap Ren tenang.

Arya tersenyum, mempersilahkan, meski hatinya dongkol melihat dengan mudahnya Ren membawa Nami. Satu quality time bersama Nami itu sangat langka. Mengapa Ren begitu mudah menciptakan dunia milik berdua bersama Nami?

Usil, ia berpikir bahwa Dhirgaputra bukanlah sebuah klan.

“Arya, gue duluan.” Nami pamit, agak tidak enak. Sebenarnya ia tidak tahu rencana apa yang ada pada Ren yang tiba-tiba datang.

Ren sendiri meneliti gestur Arya. Yang ia tahu, terdapat perasaan berbeda dari Arya pada Nami yang lebih dari sekedar perasaan seorang sahabat. Dan hal itu semacam reminder bagi dirinya untuk membuat proteksi pada Nami—yang jelas-jelas sudah menelisik kalbunya.

* * *

Bagi Nami, bersama Ren dalam satu mobil itu sangat menyebalkan sekaligus menyenangkan di saat yang bersamaan. Ia suka sekali meneliti wajah Ren yang memang dikatakan adorable sekali. Ia sendiri tak dapat berbohong jika Ren itu tampan. Tipikal tampan yang menyebalkan karena ia sadar ia tampan.

“Sebenarnya mau ke mana sih? Masih lusa kan—”

“Gue cuma mau kenal sama elo sebelum dinner nanti,” potong Ren. “Mungkin aneh, tetapi jujur…. sepertinya gue harus mengenal lo lebih daripada ini.”

Nami melirik Ren. “Kenapa… gue?”

“Entah, gue hanya percaya insting gue. Dan insting gue mengatakan demikian,” jawab Ren, masih fokus menyetir.

Nami mendesah. Perasaannya juga merasa demikian. Mungkin, alasan mencari sosok bernama Fazha adalah alasan yang awalnya mendasari kedekatannya dengan Ren. Tetapi sejak kemarin, sejak ia tak sengaja terjerumus dalam malam gala amal… cara Ren memperlakukannya membuatnya nyaman meski cowok ini mulutnya kadang menyebalkan.

“Emmm… tapi bukan seperti pacaran,” putus Ren. “Entahlah. Penjajakan, mungkin? Gue ngerasa elo itu menyenangkan.”

Mau tidak mau Nami tersipu dipuji demikian. Menyenangkan. Tapi bukankah memang secara kodrati manusia selalu menyukai hal yang menyenangkan? Dengan cepat, ia mengubah mood dengan pemikirannya sendiri.

“Lantas, gue mau diajak kemana?” tanya Nami.

“Ke tempat yang nggak asing buat lo kok,” jawab Ren.

Nami geleng-geleng kepala, aneh dengan perbuatan Ren. Ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi jika bersama orang sepertinya.

Nami pun mengamati jalanan yang dilalui. Mengapa lewat jalan sini? Ren mau ke mana sih? batin Nami. Ia tidak terlalu suka berteka-teki. Teka-teki membuatnya sakit selama beberapa tahun terakhir ini.

“Ren… kita ngapain ke sini?” Nami cukup terkejut ketika tahu tujuan Ren.

“Tentu saja ingin mengenal keluarga lo. Gue selalu serius dengan apa yang gue bilang, Namira.” Ren berkata tenang.

Ren pun memarkirkan mobilnya di depan rumah Nami, di mana terdapat jalan yang cukup lebar. Gugup, Nami belum beranjak dari tempatnya. Hari ini, mamanya sedang berada di rumah. Begitu pula abangnya Lando yang sibuk revisi untuk sidang outline.

“Nggak turun?” tanya Ren yang tak disadari Nami sudah keluar mobil dan membuka pintu mobil agar Nami keluar.

Nami mengangguk. Untuk apa dia ke sini… seumur hidup gue belum pernah ngajak cowok ke rumah!

bersambung

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s