Gemintang 5

Ren tidak terlalu sulit untuk membuat celah percakapan dengan dua orang terdekat Nami—mamanya dan Lando. Justru Nami yang terlihat asing di rumahnya sendiri, melihat tiga orang di dekatnya itu terlihat kerasan.

Anehnya, Ren yang ia kenal amat bangga dengan status Kamajaya-nya, mengenalkan diri pada mamanya dan Lando hanya sebagai teman dekat Nami tanpa embel-embel klan itu.

“Gue cuma mau keluarga lo menilai gue dengan apa adanya gue, nggak masalah kan?” Ren menjawab santai ketika Nami bertanya.

“Sama kayak lo nilai gue di awal.”

Ada satu hal lagi yang membuat dirinya jengah ketika Ren sudah pulang dari rumahnya. Mamanya berucap, “Pemuda yang kamu bawa, sangat familier sekali.”

Tahukah mamanya bahwa Ren adalah seorang Kamajaya? Trah yang dulu juga pernah mengusik keluarganya bahkan membekas sampai sekarang, dengan dampak sebuah masa lalu yang tak ingin dibuka kembali sampai-sampai tak ingin diceritakannya dengan Nami?

Nami juga harus dengan pandai menutup rapat-rapat hal itu. Ia tentu sadar. Tetapi mengapa Ren juga seolah tahu? Seolah dirinya tahu tak ada celah bagi keluarga Kamajaya untuk masuk ke kehidupan keluarga Nami? Atau memang… Ren adalah Fazha?

Banyak pertanyaan berkecamuk di dalam hati Nami. Segalanya masih terkesan abu-abu baginya. Tak terprediksi. Tak dapat diketahui apa kebenaran yang tersembunyi.

Ada beberapa kebimbangan di diri Nami sejak pertemuannya dengan Ren. Sikap Ren yang menyenangkan seolah membobol pertahanan dirinya akan cerita roman. Sikap Ren yang protektif dalam kadar sesuai membuatnya goyah untuk tidak membuka hati sampai tahu siapa sosok Fazha di masa lalunya.

Selain itu, jika memang Ren adalah Fazha, mengapa pandai sekali Ren berakting? Semuanya nampak natural di hadapannya. Semuanya tak ada yang terkesan dibuat-buat. Lalu, apakah salah ketika ia mulai mencoba membuka gembok hatinya untuk Ren? Jika benar Ren adalah Fazha, ia tahu ia sedang bermain api.

Nami menghela napas. Toh dirinya sudah masuk ke dalam teritori yang dirinya sendiri enggan akui. Ia sudah mencoba menerobos masuk ke dalam teritori sosialita melalui Ren. Teritori yang tidak terlalu ia mengerti. Teritori yang penuh dengan kepalsuan. Tetapi, demi kepingan-kepingan petunjuk akan masa lalunya, ia pun rela. Terlebih, ada Ren di dalam lingkup itu.

“Kamu nervous? Tenang saja, Ren nanti pasti datang.” Dengan tuturnya yang lembut, sosok itu menenangkan Nami.

Nami hanya dapat mengangguk, dan berucap, “Terima kasih.”

Sosok ini hanya tersenyum kecil, “Reno memang tidak salah memilihmu, Namira.”

Mau tidak mau Nami blushing.

Gerraldo Kamajaya. Sosok itu yang mengatakan. Sosok yang paling digilai oleh tiap-tiap perempuan waras dalam lingkup sosialita. Sosok yang sukar sekali ditembus. Sosok yang membingkai dirinya dengan tebing terjal sehingga tak terjamah. Bagaimana tidak blushing?

“Ren itu menyebalkan, kenapa bisa lupa janjinya,” desah Nami.

“Bukan seperti itu.” Gerald menanggapi. “Ia hanya terlalu excited dengan hari ini. Nanti malam kan kamu mau diboyong ke rumah.”

Nami mau tak mau tersenyum. Agak lega juga ia tidak sengaja bertemu dengan Gerald. Setidaknya, ia tidak sendirian bengong di Starbucks seperti orang bloon menunggu Ren. Gerald sendiri yang menghampiri Nami.

Di mata Nami, Gerald seperti Dewa Yunani yang begitu sempurna. Nami sadar, bahwa tidak ada angka atau nilai sempurna untuk seorang manusia. Hanya saja manusia itu yang memperlihatkan sebuah kesempurnaan tak nyata di mana sebuah kekurangan sudah dipermak menjadi kelebihan.

Dan Gerald berbeda sekali dengan Ren meski status mereka berdua memiliki ikatan darah. Ren lebih terkesan spoiled boy, ketus, dan menyebalkan. Meskipun Nami sangat nyaman dengan afeksi yang diberikan oleh Ren sejauh ini. Sedangkan Gerald lebih terkesan ningrat dan mencerminkan aristokrat. Ia tahu bagaimana harus bertutur. Sikapnya manis dan lembut—bukan feminin—dengan pembawaan yang tenang.

“Kamu benar-benar sudah siap berhadapan dengan Ayah dan Ibu?” tanya Gerald hati-hati ketika Nami ngedumel saat ponselnya bersiul-siul.

“Memangnya mereka semengerikan itu?” tanya Nami heran. Kata “siap” berindikasi pada sesuatu yang harus dihadapi dengan power yang cukup baginya.

Gerald terkekeh. “Nggak juga sih. Tapi pasti kan orangtua selalu ingin calon menantu yang baik. Mereka tidak terlalu ambil pusing soal status sosial. Setidaknya, kamu harus bisa membawa diri dengan mereka.”

“Status sosial… Kalangan kalian itu sebegitunya ya?”

“Entahlah… kadang saya sendiri heran. Appereance is a must. Eksistensi teramat penting di siklus ini,” desah Gerald. “Menjadi trendsetter adalah sebuah maklumat ketika ada di sebuah acara. Ngomongin baju merek apa, bisnis dengan omset berapa, dan hal yang sebenarnya tidak perlu diumbar.”

“Bahkan cowok juga ngomongin baju bermerek?” tanya Nami geli. Ren tidak pernah cerita soal ini.

“Tidak seperti itu juga sih. At least kamu harus tahu mana yang Armani asli mana yang KW. Mana yang cap Milan, mana yang cap Bangkok. Tetapi cewek lebih parah. Obrolan mereka lebih sering ngomongin fashion show di Milan, Paris, atau London. Ngomongin fashion items dan dapat membelinya artinya menunjukkan kamu cukup memiliki—atau menghamburkan—uang. Kadang saya pikir saya ada di dunia psikopat fashion.” Gerald menjelaskan.

“Manusia… bagaimana pun juga ingin ‘dihargai’, ya.” Nami manggut-manggut seraya memperhatikan pakaian Gerald. Pasti yang melekat di badannya itu luar biasa mahal!

Ponsel Nami bersiul, tanda SMS masuk. Seketika emosinya dipermainkan.

Jelata gak cocok main sama kita!
Kalo lo mau hidup tenang, jauhi Kamajaya!
Tunjukkan dengan tidak ikut ajakan dinner dari mereka.
Deal?

“Nami? Kamu kenapa?” tanya Gerald melihat perubahan raut muka Nami.

“Nggak apa-apa,” jawab Nami.

“Benar begitu?”

Nami mengangguk. Ini hanya SMS orang iseng… tidak lebih, batinnya. Makan malam bersama keluarga Indraja bukan hanya karena ia diundang… misi utamanya tentu masih dalam mencari petunjuk akan masa lalu yang ingin sekali ia ingat kembali… yang nyatanya tak satu pun membekas di memorinya.

“Kamu mau saya antar pulang?” tawar Gerald.

“Nggak merepotkan?”

“Sama sekali tidak. Untuk calon adik ipar juga, kan,” canda Gerald.

Nami pun lekas pergi bersama Gerald. Salahkan Ren yang tiba-tiba membatalkan janjinya karena urusan bisnis. Nami sendiri tidak tahu apa bisnis yang sedang Ren tekuni. Akhirnya, ia memilih untuk melenggang pergi bersama Gerald ke rumahnya. Ren akan menjemputnya setelah maghrib.

* * *

Nami hanya bisa terkesiap ketika memasuki pelataran rumah kediaman Indraja Kamajaya. Selain besar, rumah ini memiliki arsitektur yang sangat menarik. Kombinasi dari gaya Eropa dan Timur Tengah. Pelitur-pelitur khas Timur Tengah mendominasi ruang tamu rumah ini. Namun, perabotan yang ada mendominasi dengan ornamen khas Eropa.

Meskipun matanya dimanjakan dengan tampilan luks rumah ini, rumah Indraja Kamajaya terkesan sepi. Seakan hanya benda hidup besar tak bernyawa.

Ia meneliti gestur Ren yang entah mengapa terlihat kaku, tumben sekali. Tak perlu melihat Ren yang kaku, ia sendiri nampak begitu nervous. Mengapa ulangtahun Ve begitu memberikan sesuatu yang baru baginya? Bahkan, untuk dinner… kesannya sangat formal sekali. Ia berusaha nalar. Kalangan sosialita… kalangan party goers… sama sekali jauh dari kehidupannya. Jadi, bukankah sangat lumrah jika ia grogi begini.

Sampai di suatu ruang makan, Nami mendapati Indraja dan istrinya menyambut mereka berdua. Selain itu, sudah ada Gerald yang turut tersenyum melihat mereka.

Indraja memberikan instruksi dengan gesturnya pada Ren agar mereka berdua lekas duduk. Ren pun langsung mengajak Nami duduk dan ikut makan malam bersama.

Makan malam di ruang makan kediaman Indraja berlangsung dengan hening—atau mungkin khidmat. Hanya ada bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Nami juga bingung, mengapa acara makan malam bisa sekaku ini. Apalagi dengan makanan yang disajikan.

Sudah lima belas menit berselang, akhirnya Ren mengambil inisiatif untuk berbicara.

“Ini semuanya makanan khas Turki. Ayah sempat beberapa tahun di sana, dan jatuh cinta dengan kulinernya meski sebenarnya tidak terlalu cocok dengan lidah orang Indonesia,” jelas Ren.

Indraja tersenyum. “Tetapi anehnya, anak-anakku suka semuanya. Bagaimana menurutmu, Namira?”

Nami tersenyum. “Ada beberapa yang pernah saya cicip sebelumnya, Oom Indraja. Seperti bӧrek dan teh yang khas itu. Itu pun karena kemarin sempat diajak Ren ke Gӧbek beberapa hari yang lalu. Selebihnya saya baru kali ini mencicipinya.”

“Gӧbek itu yang mengusulkan saya lho,” Indraja terkekeh.

“Oh,” Nami blushing, tidak tahu fakta itu.

“Seharusnya kamu memberitahunya, Reno,” pesan Indraja. “Bagaimana pun juga, ada kemungkinan ia akan jadi anggota keluarga kita.”

Pipi Nami makin bersemu merah mendengar pernyataan Indraja yang begitu blak-blakan. Ia dan Ren kan belum resmi jadi official item. Plus, Ren hanya berkata ia ingin mengenal Nami lebih dalam. Cepat-cepat ditepis pikiran ngaconya itu. Tadi Indraja kan bilang ada kemungkinan. Bisa ya, bisa tidak.

“Jadi?” tanya Ren, meminta kepastian ayahnya.

“Jadi apa?” Karina Kamajaya, balik bertanya pada anaknya.

“Maksud saya, keputusan final Ayah dan Ibu. Apa lagi?” Ren terlihat gemas.

“Kami tidak berkeberatan meski dia jauh dari kalangan kita. Saya pun jatuh cinta dengan Karina tanpa alasan. Saya mengerti rasanya, Reno.” Indraja tersenyum. “Sepertinya kamu juga tidak salah pilih. Dia pintar,” lanjutnya sambil melirik ke arah Nami yang entah sedang malu-malu atau bingung dipuji demikian.

“Saya hanya butuh keyakinan darimu, Namira.” Giliran Karina yang berbicara. Mau tak mau Nami menatap Karina dengan lekat. “Kamu harus siap, jika memang yakin dengan keputusanmu untuk hadir di sini. Kami tak pernah mempermasalahkan seperti yang dikatakan Indraja. Namun, kamu harus kuat. Kamu orang baru. Mengerti?”

Ingin sekali Nami menggeleng karena benar-benar tidak mengerti. Tetapi entah mengapa ia justru mengangguk.

“Akan banyak cibiran setelah ini karena sebelumnya kamu bukan dari kalangan atas, Nami.” Gerald ikut sumbang suara. “Kamu akan diuji baik secara mental maupun fisik. Kuatkan segalanya—bukan hanya hati.”

Ren yang jengah melihat Nami terkesan disudutkan, akhirnya ikut ambil suara. “Sudahlah… saya kira jangan terlalu memojokkan Namira. Ia belum tahu apa-apa. Maka dari itu saya ingin mengenalkannya perlahan.”

You’re such a social climber. Mungkin begitu pikir mereka,” lanjut Gerald tidak mengindahkan perkataan adiknya. “Saya harap kamu berhati-hati seperti yang saya katakan sebelumnya sama kamu. Dan jika ada sesuatu yang membuatmu terusik, harap jangan diam. Tell us.”

“Mulai dari sekarang, mulailah memahami seluk-beluk profil Kamajaya,” tambah Indraja. “Dan kamu, Reno, seharusnya kamu mulai memberitahu Namira.”

“Oh, tamam,” balas Ren enggan. Ia sebenarnya tidak suka Nami dijejali hal-hal socialite begini. Tapi, bukankah mau tak mau harus begitu?

Indraja mengangguk, memperhatikan atmosfer di hadapannya. Ia dengan mudah melihatnya karena berada di ujung meja. Di kanan ada istrinya, menyusul Namira dan di sisi kanan ada Gerald dan Ren. Nampaknya ia harus mencairkan suasana.

“Sepertinya sudah cukup waktu seriusnya, kita harus melakukan percakapan yang menyenangkan,” cetus Indraja. “Ӧzet olarak, onun bizim ailemizin bir ferdi olacağıniı katılıyorum. Ve bizim kültürümüza onun alışacağını senin gorevin ӧlsun.” Indraja melanjutkan, sengaja memakai bahasa Turki agar Nami tidak mengerti.”

* * *

Gerald terlihat tenang mengemudi mobil sedannya. Nami dari tadi yang ingin sekali berbicara banyak dengannya menjadi emoh, takut lontaran kalimatnya mengusik khidmatnya Gerald mengemudi.

Gerald sendiri diam-diam memperhatikan Nami. Wajah gadis itu terlihat linglung. Banyak tugas-kah? Tidak kerasan dengan lingkup keluarga mereka-kah? Atau hanya perasaan Gerald saja? Ia ingin berbicara dengan gadis di sampingnya ini. Namun, bukankah percakapannya di Starbucks tadi sudah cukup? Tetapi mengapa ia merasa adiktif dengan obrolan-obrolan tadi? Cepat-cepat ia enyahkan pikiran ngelanturnya. That’s no room for him. She is Reno’s for a straight way. Mmm… straight way? Benarkah begitu?

Memecah keheningan dan kekakuan, Gerald menyetel radio di dalam mobilnya. Lagu dari Brian McKnight mengisi sudut-sudut dalam mobilnya.

“Kebetulan sekali,” ujar Nami spontan, diikuti lirikan bingung Gerald. “Maksudnya, gue suka lagu-lagu Brian McKnight.”

“Oh…” Gerald mengangguk mengerti. “Saya ada beberapa CD-nya, coba cek di kursi belakang mobil. Mungkin nyetel lagu Brian McKnight bisa membuat kamu lebih rileks. Lagi sepi kok, lepas self-belt-nya aja.”

Nami mengangguk. Ia coba melongok ke belakang. Ternyata banyak sekali tumpuk-an CD. Mulai dari Brian McKinight, Nirvana, Muse, Rascal Flatts, Maroon 5, John Mayer, bahkan… CD Christina Aguilera yang terbaru.

“Banyak banget koleksinya,” ujar Nami ketika sudah memilih CD Brian McKnight.

“Kadang diperlukan untuk membunuh sepi.” Gerald tersenyum. “Saya lebih sering sendiri kalo nyetir. Lagipula saya suka musik meski saya sendiri gak tahu apa aliran musik saya ini.”

Nami mematikan radio lalu memasukkan kepingan CD, dan mengklik tombol play.

“Kamu penggemar Brian McKnight?” tanya Gerald.

Sure! And I’m Chris Brown lover too!” seru Nami antusias. “Suaranya itu bisa buat melting semua cewek di seluruh dunia kayaknya.”

Gerald terkekeh, ia sendiri bersyukur tindakannya benar-benar bisa membuat suasana tidak se-krik tadi. “Saya pernah nonton konser Chris Brown di Aussie. Bareng Reno dan sepupu-sepupu yang lain juga. Macamnya Abel dan Shazira suka sekali. Mungkin jika ada kesempatan saya—atau mungkin Reno—akan mengenalkan kamu dengan mereka. You gals can talk about Brown’s thingy.

“Wow!” Ia sebenarnya sangat iri dengan pernyataan tersebut, namun hatinya justru masih bertanya-tanya soal hubungannya dengan keluarga besar Kamajaya. Apakah keharusan untuk benar-benar menjadi keluarga Kamajaya? Ayolah… gue saja belum lulus S1! Nami tentu sadar bahwa tindakannya karena ingin mengungkap masa lalunya sendiri. Kepingan-kepingan yang harus ia segera temukan yang sejauh ini tidak tersingkap satu pun. Dan… Fazha. Ah, Fazha! Ia harus menanyakannya!

“Kamu tidak apa-apa kan saya antar begini, Nam?” tanya Gerald.

Nami mengangguk. “Sebenarnya sama sekali gak masalah, memang Ren saja keterlaluan. Aku memang diundang sama ortu kalian, tapi kan semuanya gara-gara dia. Malah dia yang mangkir.” Ayolah Nami, tanyakan soal Fazha… tambahnya dalam hati.

“Bagus jika kamu nggak terganggu. Orang-orang kebanyakan menganggap saya terlalu kaku dan membosankan meski sebelumnya menganggap saya ini adalah sosok Dewa Yunani—they called me like that. Saya gak tega aja ngebuat calon adik ipar saya terganggu dengan kakak iparnya.” Gerald mencoba melucu, meski ia tahu ia bukan tipikal cowok yang bisa guyon. “Soal Ren, jangan menghakiminya seperti itu. Dia sedang trying his best untuk bisnisnya. Melakukan bisnisnya adalah impiannya sejak lama.”

“Ya, dia pernah ngomong soal itu tapi nggak ngasih tahu detailnya.” Ayo tanya…

“Mungkin surprise untuk kamu?”

Nami meringis. Surprise? Bercanda ya, Nami dan Ren sendiri belum punya status yang jelas. “Oh ya, Rald. Boleh aku tanya sesuatu?”

Sure.

“Apakah kamu kenal dengan Fa—”

Sebelum menyelesaikan pertanyaannya, sedan yang dikendarai Gerald oleng sehingga kecelakaan tak terelakkan terjadi.

bersambung…

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s