Gemintang 6

Geminta

“KAMU nggak akan pernah tahu kemana takdir akan ngebawa kamu. Tetapi aku yakin, kamu itu adalah sebuah takdir. Takdir untukku.” Cowok itu, masih dengan seragam SMA swasta yang dikenal sebagai SMA borjuis, berkata dengan tenang sekaligus yakin.

“Bisa nggak sih kamu nggak sesumbar itu, Zha? Kita itu terlalu beda.” Perempuan di hadapannya menghela napas, berat. Ia mengenakan seragam SMA negeri.

“Kamu tahu sesuatu, Prenses? Hati aku ini,” ujarnya seraya menunjuk dadanya, “telah kamu segel. Begitu pula hati kamu, kan?”

Perempuan itu tak berani menatap lawan bicaranya. Baginya, ia masih terlalu dini untuk mengatakan cinta. Ia baru saja lulus SMP. Ia belum dewasa. Tetapi mengapa hatinya membenarkan perkataan cowok itu? Ataukah memang cinta itu dapat menembus segala usia? Tetapi ia tak yakin apa cinta yang ada di hatinya. Cinta monyet-kah seperti yang dikatakan orang tentang cinta masa remaja?

“Dan… segala perbedaan yang ada di diri aku, atau pun di diri kamu, bukankah akan menjadi sebuah kesatuan utuh yang sempurna? Karena perbedaan yang ada di diri kita itu komplementer, saling melengkapi.”

Perempuan itu menggeleng dengan gerakan lambat. Perkataan lawan bicaranya itu gombal, cukup cheesy, tapi hatinya ingin sekali membenarkan…

* * *

Nami akhirnya siuman setelah satu hari penuh tidak sadarkan diri. Untunglah kecelakaan tersebut tidak berdampak serius pada kesehatan Nami maupun Gerald. Keduanya hanya lecet dan memar.

Sejujurnya Nami tidak habis pikir kecelakaan tersebut terjadi. Kesannya kecelakaan itu dibuat-buat. Dalam hatinya, ia bertanya apakah hal ini berkaitan dengan SMS yang diterimanya beberapa waktu yang lalu? Juga… kertas yang ia temukan di depan rumahnya yang juga terkesan meneror dirinya?

Kenapa gak lo gubris SMS gue?!

Itu yang ia baca. Tetapi ia tak mengindahkannya. Atau memang, berhubungan dengan keluarga Kamajaya sama saja membahayakan dirinya sendiri… karena ia dianggap sebagai social climber, seperti yang dipaparkan ketika dinner?

Semuanya penuh teka-teki. Semuanya membingungkan setelah kenal dengan Reno Kamajaya. Ia sendiri sekarang berada di taman dekat rumah Ren setelah Ren menjemput Nami dari kuliahnya.

“Ada yang nggak suka dengan kehadiran lo, Namira.” Ren menatap Nami lekat. “Ayah sebenarnya sudah mewanti-wanti. Tetapi, gue yang kecolongan juga. Hal itu juga buat Gerald luka.”

“Nggak usah dipikirin. Sebenarnya yang mau gue tanya, hubungan kita itu seperti apa, Ren?” tanya Nami. Ia yang selalu menutup hati karena masa lalu, entah mengapa sangat yakin bahwa sosok di hadapannya ini adalah alasan akan tindakannya.

Kecelakaan kecil bersama Gerald memberi efek pada ingatannya. Ia bermimpi mengenai masa lalunya. Percakapan mengenai takdir.

Ren sendiri masih sukar untuk memverbalkan apa sebenarnya yang ia inginkan. Ia hanya ingin sebagai tempat di mana Nami membutuhkan sandaran setelah melihat Nami menangis di pesta Ve. Perempuan ini kuat namun ringkih. Ia ingin menjadi pelindungnya—dan tentu lebih dari itu.

“Lo nggak suka yang seperti ini?” tanya Ren. “Bukannya semuanya sudah jelas?”

Nami bingung namun justru memperhatikan Ren dengan seksama. Sosok di hadapannya ini begitu… tampan. Secara fisik, Ren mungkin memang tipe yang selalu digilai wanita. Rambutnya yang pendek, dengan garis wajah keras serta tubuh yang liat, tidak mungkin memberi efek kecil pada tiap-tiap pasang mata yang melihatnya.

Berbeda dengan Gerald yang disebut-sebut sebagai Kamajaya paling tampan, Ren sendiri lebih memiliki aura ‘seksi’. Entah dari gaya bicaranya yang frontal, gaya berpakaian yang sebenarnya lebih suka nge-grunge dan kadang suka memamerkan tubuh yang terbentuk akibat rajin olahraga, dan senyumnya yang memikat.

Nami tersenyum. “Jika lo maunya begini, ya nggak apa-apa. Kita kan sudah besar, sudah tahu apa maunya.” Sejujurnya Nami tidak mengerti apa yang telah ia katakan. Ia tidak mengerti permainan apa yang ia telah lontarkan.

“Sudahlah Namira. Gue malas berbicara tentang ini. Gue hanya ingin lo aman bersama gue. Apa pun yang terjadi dengan elo, gue harus tahu.” Ren berkata mantap, seolah ia sudah resmi menjadi suami Nami. “Dan… nggak ada yang mengancam lo kan, setelah acara charity night itu?” tanyanya penuh selidik.

Nami tergugu. Afeksi dari Ren baginya sangat berlebihan. Tetapi, prasangkanya benar. Ada yang mengancamnya untuk menjauhi Ren. Tapi, jika ia menjauhi Ren, bukankah puzzle akan sulit disusun kembali?

“Nggak ada. Tenang saja.”

“Jika ada yang meneror atau ganggu lo, lo harus lapor ke gue. Kalangan gue memang payah kalo nggak suka sama orang, kayak chicken.” Ren mengingatkan.

I’ll do.” Nami berjanji, meski ia sebenarnya berbohong.

“Oh iya.” Tiba-tiba Ren teringat sesuatu. Ia mengubek-ubek tasnya lalu mengeluar-kan sesuatu untuk Nami. “Ini, cokelat dari Gerald. Tanda maaf katanya atas kejadian waktu itu. Dia sendiri bingung kenapa ada yang berani buat remnya blong.”

Nami menerima sebuah kotak besar. Wah… pasti mahal! seru Nami. Ia sebenarnya sangat senang dengan hadiah permintaan maaf itu. Ia sangat suka cokelat.

“Tolong, Namira. Biarkan gue menjaga lo. Gue tahu, meski lo terlihat kuat, lo itu rapuh. Dan gue gak mau liat lo nangis kayak waktu itu,” ucap Ren pelan, namun menggelitik kalbu Nami.

Selama ini, memang ia tidak pernah memiliki sandaran. Selama ini, ia selalu sendiri. Menanti seseorang yang tak pasti. Mungkin Ren adalah Fazha. Ataupun jika Ren bukanlah Fazha, ada sesuatu yang membuat Nami nyaman. Afeksi yang diberikan Ren adalah anestesi luar biasa bagi hatinya yang rapuh.

Tiba-tiba saja wajah Ren mendekati wajah Nami, membuat Nami terkesiap.

* * *

Gerraldo Kamajaya. Dewa Yunani versi Indonesia. Kontradiktif yang begitu adiktif bagi kaum Hawa. Kesempurnaan fisik ia miliki, tapi toh semuanya hanya tempelan baginya.

Bagi beberapa pria, mungkin Gerald menyebalkan. Ia dengan mudah bisa memiliki ratusan gadis yang ia ingini dengan fisik yang dimilikinya. Tetapi semuanya toh baginya justru menjengkelkan. Ia yang dididik dengan baik oleh Indraja tentu tahu bagaimana ber-manners. Beberapa dosen dan kawannya, malah menganggap dirinya sebagai ‘mainan’ yang dapat ‘dipakai’ dan akan diberi imbalan apa yang Gerald mau.

Ia sendiri tidak diminta memiliki karunia yang demikian. Hanya saja, mungkin ia sangat beruntung diberikan fisik yang sempurna. Namun, jika fisik yang sempurna itu bukanlah sesuatu yang dapat menaklukkan hati pujaan hatinya, apalah arti kesempurnaan itu?

Memorinya kembali pada masa lalu. Tentang dirinya. Tentang perempuan manis itu. Tentang segalanya. Tentang sakit di hatinya.

Nyatanya menyembuhkan luka di hati itu sukar. Time heals? Tidak akan terjadi ketika ruam-ruam tersebut kembali dikoyak dengan sumber luka yang kembali hadir. Tidak akan.

Gerald datang ke Jakarta sebenarnya untuk relaksasi atas kepenatannya di San Fransisco. Bisnisnya sedang berkembang, tetapi rutinitas di Frisco membuatnya muak. Ia ingin sekali kembali ke tanah air, bertemu sepupu-sepupu Kamajaya yang gila, memeluk kedua orang tuanya, juga temu kangen dengan Ren yang sudah tiga tahun tidak bertemu karena kuliah di Umbria.

Nyatanya, kedatangannya ke sini justru menghadirkan keperihan tersendiri. Melihat perempuan itu. Yang sama sekali tidak mengenalinya sejak awal perkenalan.

“Namira…,” gumamnya. “Kehadiran saya selalu membuatmu terluka. Maaf…”

 * * *

Nami mengecek ponselnya. Sekarang ia memiliki rutinitas baru ketika pagi: menghapus SMS iseng untuk dirinya. SMS yang selalu hinggap di ponselnya yang mengatakan ia harus pergi dari kehidupan Kamajaya. Kadang, di tengah-tengah jam perkuliahan SMS itu muncul. Seringkali berganti nomor.

“Lo kenapa sih, sibuk banget dengan hape lo? Ren?” tanya Arya penuh selidik.

Nami menjawab dengan gelengan kepala.

“Lo kelihatan worried terus setelah kecelakaan kecil itu. Ada apa sih?” Yarra ikut-ikutan.

“Nggak ada apa-apa. Kalian terlalu melebih-lebihkan,” tukas Nami.

Dalam hati, sebenarnya paranoid. SMS itu begitu menyudutkannya. Apakah akan ada kejadian setelah kecelakaan kecil itu? Namun dalam SMS itu sama sekali tidak menyiratkan bahwa kecelakaan yang terjadi sebelumnya masih berhubungan.

Knock it off about me. Mendingan tentuin kapan kita mau CFD-an. Lo kan ngebet banget, Ar.” Nami mengalihkan.

“Sabtu atau hari minggu ini sebenarnya bisa sih,” respons Arya.

“Minggu aja ya. Soalnya sabtu ada janji sama Dion,” Yarra menambahkan, terlihat jelas pipinya merona merah menyebut nama Dion.

“Wow, kalian sudah jadian?” tanya Nami.

Pipi Yarra makin merona merah.

“Eh, sudah? Arya, beneran Yarra sudah jadian sama Dion?” tanya Nami penasaran, dan Arya hanya tersenyum melihat polah Yarra yang pipinya sekarang mirip kepiting rebus.

Tiba-tiba saja ponsel Nami bergetar, SMS masuk.

Lo itu batu banget ya, Nami?
Tolong jauhi Kamajaya. Kecelakaan itu kurang?
Jangan buat masa lalu itu kembali terulang!

Masa lalu? gumam Nami. Kamajaya dan masa lalu adalah… padanan yang mungkin tepat. Tetapi, kenapa ia bisa tahu?

“Hei, Nam. Lo nggak kenapa-napa?” tanya Arya yang bingung dengan perubahan ekspresi Nami.

Yarra sendiri memilih diam, memperhatikan ponsel yang berada di tangan kanan Nami.

“Yarraaaa. Ayo cerita!” Nami tak menggubris, mencoba melupakan apa yang dibacanya di SMS tersebut.

Yarra pun merespons. Ia tahu hal ini berhubungan dengan Fazha Kamajaya. Tetapi ia tutupi pertanyaan yang ada di benaknya. Malah ia balik bertanya pada Nami, “Ah, udahlah lupakan. Gue ada info short course di Italia nih. Lo tertarik, nggak?”

“Kok jadi nggak nyambung?” Alis Nami bertaut.

Yarra pura-pura kikuk. “Kan lo yang katanya pengin coba short course gitu. Tiba-tiba aja keinget.”

“Tapi lo jadian kan, sama Dion? Ngaku deh.”

“Iya.”

“Kok nggak cerita?!”

* * *

Entah mengapa bagi Nami bertemu dengan Ren selalu membuatnya tersenyum. Begitukah cinta? Yang sebenarnya pernah ia miliki sebelumnya namun terenggus oleh ingatannya tanpa bekas…

Kadang Nami sendiri lupa bahwa Ren adalah seorang Kamajaya yang namanya selalu mendengung di mana-mana karena publisitas masif yang ada.

Ren adalah sosok yang mampu membobol kekosongan hatinya. Begitu pula sebalik-nya. Kian lama, Ren yakin bahwa perasaan yang ada di hatinya tersebut adalah cinta. Meski ia mesih emoh atau bahkan malas mengakuinya dan menyatakan itu pada Nami.

Sejauh ini, intensitas keduanya juga baik. Meskipun Nami sedang sibuk les IELTS demi mengejar beasiswa short course di Italia dan Ren yang sibuk membenahi bisnisnya yang masih misterius. Ren rajin sekali bermain di rumah Nami dan disambut dengan mama dan Lando. Tetapi Nami tak pernah ke kediaman Indraja lagi sejak dinner waktu itu. Tentu saja karena mereka sangat sibuk. Rasanya percuma ke rumah Ren tapi hanya ada mereka berdua—serta beberapa satpam dan pembantu tentunya.

Tentu saja Nami masih tetap menerima SMS-SMS teror untuk menjauhi keluarga Kamajaya, dan ia tetap tidak menggubrisnya. Justru ia makin penasaran dengan sosok di balik SMS tersebut karena hal itu menyangkut masa lalunya. Artinya, orang itu kenal dengan Nami sebelumnya dan tahu histori mengenai dirinya dan Fazha.

Di sisi lain, Nami sudah tak pernah bertemu lagi dengan Gerald sejak kecelakaan kecil itu. Padahal ia sangat nyaman berada dekat dengan kakak kandung Ren itu. Rasanya ia menemukan sosok abang yang begitu bijak. Apalagi tutur dan tingkah Gerald sangatlah santun dan begitu dewasa. Menurut informasi yang didapatinya dari Ren, Gerald kembali ke Frisco untuk bisnisnya.

Relasi yang makin dekat dengan Ren sebenarnya juga berpengaruh pada kehidupan kampus Nami. Ia lebih sering terlihat excited, di luar teror-teror SMS yang ditujukan padanya.

bersambung…

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s