Kita di Satu Pijakan

14234347-two-couple-of-shoes-stand-over-a-stone-ground

Setelah bertolak dari Italia, Davin terlihat makin mempesona. Davin adalah paket lengkap bagi Shari. Perasaannya mengatakan bahwa ia ingin lebih dari sekadar sahabat bagi Davin. Hanya saja Shari tidak cukup percaya diri untuk mengungkapkan perasaannya ini.

”Sayang sekali aku gak sempat bertemu denganmu di Milan. Padahal waktu Milan Fashion Week aku sempat nonton peragaan busananya Anna Molinari!” seru Zara antusias, membuyarkan angan Shari.

Zara adalah sahabatnya. Lebih tepatnya rival. Sudah rahasia umum bahwa Shari dan Zara adalah dua sahabat yang sama-sama jatuh cinta pada Davin.

”Itu salah kamu, kenapa gak beritahu jika kamu ada di sana,” kilah Davin seraya tertawa.

Davin rindu masa-masa seperti ini, dimana ia dan dua sahabatnya dapat berleha-leha sambil menikmati momen bersama dengan ngobrol, bahkan diskusi menyusun kegiatan seru apa yang dapat mereka lakukan.

Shari menelan ludah. Ia tahu diri bahwa dirinya sudah tenggelam di percakapan dua orang ini. Tak ada ruang untuknya. Davin bercerita seru bagaimana teman-teman beda kebangsaan yang gila pesta, dan makanan Italia yang selalu pas di lidahnya. Zara juga bercerita bagaimana ia sukses dengan peragaan busana perdananya.

Apakah kedua orang itu akan tergugah ketika Shari bercerita tentang dirinya yang menjadi Putri Raden Galuh dalam pentas tari internasional di mana sanggarnya membawakan Tari Katak[1] beberapa bulan yang lalu? Atau tentang cerita seru di Hutan Selimbau di bulan perdananya kuliah bersama rekan-rekan pecinta alam di kampusnya? Dengan sadar diri, Shari menarik dirinya, membiarkan dua sahabatnya mendominasi seluruh percakapan. Karena kisahnya terlampau kecil dibanding mereka. Padahal ia ingin dua sahabatnya ini datang ke acara sosial kampusnya, dimana acara tersebut mengedepankan kultur budaya Indonesia yang begitu menyunjung lokalitas.

Setahun tidak bertemu dengan dua sahabatnya membuat dirinya makin terasing…

* * *

Zara cantik, dan siapa yang mau menyangkal? Ia sering memenangi pemilihan model. Ia ambisius, karena itulah semuanya tercapai. Sayang sekali, ia menderita penyakit jantung kronis karena ia adalah perokok aktif sejak SMP. Untuk yang terakhir, hanya Davin dan Shari yang tahu.

Zara suka mengatasnamakan penyakitnya sebagai sebuah alasan. Alasan untuk mendapatkan apa pun. Termasuk Davin. Ia menginginkan Davin berempati lebih padanya karena ia memang menyukai Davin. Ia ingin memiliki Davin selama ia hidup. Ia kan tidak tahu sampai kapan ia hidup!

Ia  menyayangi Shari sebagai sahabat karena memang Shari sosok ideal seorang sehabat. Tapi ia egois. Ia suka jahil membandingkan dirinya dan Shari. Ia dan Shari bak langit dan bumi. Espresso dan kopi tubruk. Chanel dan H&M. Pesawat VIP dan kereta ekonomi.

Makin ke sini, ia menganggap Shari sebagai benalu terhadap kisah cintanya. Apalagi kemarin ia baru bertemu Davin setelah sekian lamanya, dan Shari terlihat sebagai perusak.

Ah, tetapi Zara acuh saja. Pertemuannya kemarin memperkuat dugaan bahwa Davin memang selalu se-iya se-kata dengannya. Shari terlalu prinsipil, tak mungkin Davin tertarik. Dan tak mungkin Shari tega membiarkan Zara sakit hati.

* * *

Tidak ada yang tahu bahwa selama di Tuscany, Italia, Davin menjelma menjadi Don Juan. Apa karena di sana tidak ada yang mengenalnya, maka dari itu Davin berubah? Dan untuk yang satu ini, tidak ada yang tahu, termasuk Zara dan Shari. Davin sendiri tak mau jadi cowok brengsek yang tak suka berkomitmen. Hanya saja ia terbawa suasana Tuscany…

Jujur, ia merasa bersalah pada Zara dan Shari. Terlebih, ia jatuh cinta pada dua sahabatnya itu. Sebenarnya bisa saja ia mengundi siapa yang hendak ia pacari. Tapi dua wanita itu tak pernah memberi respons berarti—terlebih Shari yang kaku. Maka dari itu ia mencari kesenangan lain di Tuscany.

Davin pun tersenyum simpul. Sudahlah, semoga tiga tiket rekreasi di tangannya dapat menebus kesalahannya pada mereka.

* * *

Shari suka sekali dengan sambal colo-colo[2]. Apalagi ketika ia tahu resep membuatnya yang ia dapat dari seorang pedagang ikan cakalang di Pasar Arumbai di Ambon. Jika sudah disantap dengan ikan pasti mengena di lidah!

Asyik dengan ikan dan sambalnya, tiba-tiba ia mendapat kabar dari Davin yang mengajaknya dan Zara untuk rekreasi yang akomodasinya ditanggung. Menggiurkan karena waktu seperti itu jarang sekali ada. Namun hari itu adalah hari dimana ia—seharusnya—belajar membatik di Neglasari, salah satu kampung yang ada di Bogor.

Sungguh, ia benci saat-saat seperti ini.

* * *

”Entah apa yang ada di pikiran Shari, lebih mementingkan membuat batik yang useless ketimbang sahabatnya,” ucap Zara. Entah apa maksudnya berkata demikian.

”Bukankah dari dulu Shari begitu? Shari yang memegang teguh lokalitasnya.” Davin menerawang. Ia sedikit lebih kangen keberadaan Shari.

Zara tersenyum, kedua tangannya terlipat rileks di dada. ”Apakah aku sekolot Shari?”

Davin awalnya bingung dengan arah pertanyaan Zara. Namun akhirnya ia hanya merespons Zara dengan senyum masam yang Zara sendiri bingung mengartikannya.

* * *

Aroma malam[3] tercium, bercampur aura panas kompor-kompor yang dinyalakan.

Biasanya ia suka ketika ia membatik karena ia merasa sudah melakukan kontribusi—walau kecil—terhadap bangsanya. Dan ketika ia memegang canting[4], yang terlintas di kepalanya malah ”sedang apa Davin dan Zara… tanpanya?”

”Ayo, tutup dengan malam. Kan sudah diwarnai.” Liana, wanita enerjik asli Ukraina, menegurnya halus dengan logat khas. ”Anda kenapa melamun?”

Shari tergagap, lalu entah kenapa ia seperti ember bocor langsung curhat pada bule yang sudah setahun lebih dikenalnya ini.

”Saya senang membatik,” ucap Liana sambil tersenyum. ”Setelah mahir membuat batik Bogor, aku ingin mencoba belajar batik Lasem.”

Shari bingung, merasa Liana ’gak nyambung’ dengan curhatnya.

”Begitu panjang proses membatik. Dari kain polos, diberi motif, ditutup malam, diwarnai lagi, ditutup malam, diwarnai lagi. Dan belum selesai sampai di situ. Untuk menginginkan warna yang diinginkan kita harus melakukan beberapa kali pencelupan. Makin berwarna batik itu, makin sulit dan lama pekerjaannya.

”Seperti hidup ini—hidup kita. Makin berwarna, makin berliku. Masalah cinta, persahabatan, ideologi, pastinya akan membuatmu kaya akan warna. Anda menangkap maksud saya?” Liana tersenyum.

Shari mengiyakan. Mungkin ia hanya terlalu takut kehilangan dua sahabatnya, takut kehilangan cintanya. Padahal ia tahu musim liburan masih amat panjang, dan masih banyak waktu untuk menghabiskan waktunya bersama Davin dan Zara.

Lusa adalah waktunya menunjukkan ”warna asli” dirinya. Dimana sebenarnya ia sudah menyiapkan nyaris seluruh komitmennya pada acara akbar tersebut.

* * *

Davin tak dapat berhenti menyunggingkan senyum kecilnya ketika dihadiahi Shari kain batik bermotif daun talas, berbeda dengan Zara yang terbengong-bengong dihadiahi batik bermotif daun puring.

”Aku dapat tiga. Pas sekali buat kita,” kata Shari sumringah. Ia mencoba memupuk kepercayaan diri di hadapan dua sahabatnya ini.

Cool, seharusnya kamu beritahu kami bahwa hari itu kamu mau ngebatik. Kan kita bisa ikutan, Shar,” tutur Davin.

Shari mengulum senyum.

”Sore kemarin aku telpon rumah kamu. Mau pinjam jurnal kedokteran yang pernah jadi tugas kelompok kita. Tapi kata mama kamu, kamu sedang ada pertemuan BEM[5]. Masih di kamu kan, jurnalnya?” tanya Davin. ”Kayaknya di situ ada kliping untuk badan tetap fit kan, ya? Di Tuscany aku sering letih karena banyak aktivitas.”

Shari mengangguk. ”Makan aja pisang, zat gula yang terkandung kan bisa untuk sumber kekuatan tubuh dan mengurangi rasa capek.”

”Kamu bukannya ambil jurusan kriminologi, ya? Kok bisa tahu hal begitu? Jangan ngasal,” sambar Zara.

”Amanat orangtua untuk tetap iqro[6], Ra. Lagipula aku rutin mengonsumsi pisang karena padatnya aktivitasku di kampus. Ternyata memang cukup ampuh.”

Setelah Shari berkata, suasana menjadi hening. Semua larut akan imajinasinya. Zara yang masih bingung dengan sikap Davin yang berubah-ubah; di mana kadang terlihat bersahabat, kadang tidak menyenangkan. Davin yang masih ragu apakah ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik demi dua sahabatnya ini dan membawanya sampai Tuscany… juga tentang rasa simpatinya terhadap Zara yang mengidap jantung. Juga Shari yang masih malu mengundang Davin dan Zara untuk datang ke acara amalnya, di mana ia menjadi ketua pelaksana dan menyumbang tarian solonya.

Lidah Shari kelu. Maka Zara-lah yang lebih dulu berbicara tentang ajakan main ke butiknya, di mana ia mau memberikan dengan cuma-cuma beberapa isinya kepada Davin dan Shari.

Kali ini aku harus dapat menyampaikannya, meski aku tahu Zara pasti akan menolaknya, batin Shari membulatkan tekadnya.

* * *

Shari bercermin. Di hadapannya adalah penari balet temporer yang akan mengisahkan cerita Jaka Tarub dimana ia menjadi Nawangwulan dan akan bermain solo di banyak bagian. Begitu indah kostum yang ia kenakan, pengadaptasian antara modern dan tradisional. Anggun tapi tak menutupi cita rasa Indonesia. Kostum yang seluruhnya adalah desainnya sendiri.

Apakah ini yang ia inginkan? Tentu. Sudah lama ia nantikan hal ini.

Tapi penolakan dari Zara membuatnya terpukul. Semuanya buram. Persahabatan mereka dibina tahunan, namun hanya dalam sepenggal malam di rumah Davin semuanya hancur. Begitu saja. Hanya karena tawaran Zara ke butiknya, dan hari itu adalah hari dimana ia juga mengajak ikut acara sosial di kampusnya, yang kini sedang ia jalani.

Ia membatin getir, bukankah memang kisah klasik percintaan seperti ini? Akan terselesaikan jika sudah bermusuhan? Ingin rasanya masuk ke dunia Jaka Tarub, tak apa ia jadi Nawangwulan. Takdirnya lebih baik daripada harus bermusuhan dengan sahabatnya sendiri… dan rasanya begitu menyakitkan ketika sahabat yang memusuhimu itu juga tidak punya usia yang jauh lebih panjang ketimbang dirinya sendiri.

* * *

Sudah jam sepuluh dan Davin belum datang. Artinya, Davin memilih Shari.

Zara tahu ia egois. Tentu Zara lebih mengenal dirinya ketimbang orang lain. Tapi hal ini lumrah baginya. Hidupnya tak lama lagi, dan sudah sepatutnya ia mendapat lebih dari yang lain. Mendapat lebih daripada Shari.

Jadi, apa yang harus Zara lakukan sekarang? Ah, Zara tahu. Ia hanya perlu berlari, mencari dua sosok itu.

* * *

Davin bertolak dari Italia tak hanya untuk liburan atau melepas rindu dengan sahabatnya. Ia bertekad untuk mengubah gaya hidupnya di Italia, mengubah rasa kebaratan yang rasanya sudah menutupi dirinya yang dulu masih menjadikan Indonesia sebagai kompas hidupnya.

Juga memberi komitmen yang pasti pada gadis yang dikencaninya di sana, termasuk kepastian pada Shari dan Zara yang sudah lama menunggun lama. Bukannya Davin takut komitmen, tetapi ia belum yakin.

Kali ini, Davin meyakinkan dirinya siapa yang berhak mendapatkan hatinya. Dari awal pun Davin yakin, kisahnya akan terpaut antara Shari dan Zara. Awalnya Zara yang mendominasi, karena kesamaannya. Tapi bukankah menyeramkan jika berpasangan dengan orang yang mirip dengan diri sendiri? Lagipula Zara begitu aneh belakangan, seakan ingin menguasai dirinya.

Untuk Shari, ia tahu gadis itu selalu kaku. Namun ia begitu kaya akan kejutan. Mulai dari batik Bogor sampai acara sosialnya.

Juga tarian baletnya yang indah.

Dengan tatapan kagum Davin memerhatikan Shari yang sedang menari. Shari menjelma menjadi Nawangwulan yang begitu anggun. Entah, karena terbawa suasana atau tidak, ia ingin sekali menggan-tikan orang yang menjadi Jaka Tarub di panggung itu.

* * *

Yang saya tahu mencintai itu sakit. Hanya elegi bukan yang saya dapati? Asa saya melayang, mengepul dan tertelan panas matahari. Cinta saya pada Tuan Tampan sudah menjadi tugu, dan pada akhirnya ranggas karena fondasi yang tersapu angin.

Tuan Tampan datang, setelah saya meyakini diri bahwa roman ini kandas.

”Maaf, Shari. Tapi maukah kamu menerima aku bukan sebagai sahabat melainkan kekasih?”

Begitu katanya. Manik matanya mencumbu seluruh raga saya. Jaka Tarub-kah si Tuan Tampan? Saya bukan Nawangwulan. Tapi saya ingin menjadi Nawangwulan… Manik matanya yang menyihir kaku seluruh nurani. Hati kian berteriak ingin mengatakan kata ’ya’. Tapi, hai Tuan Tampan, tahukah kau bahwa cinta saya sudah tak bernama?

Saya tahu, Tuan Tampan. Gelengan saya mengaduk asa dan mengempaskan seluruhnya. Kau harus tahu, Tuan Tampan, bahwa ada Nona Cantik mengintip. Menanti untaian yang akan kita buang. Ini aneh, Tuan Tampan. Saya membalas pelukan Anda dengan tangisan.

Saya bukan biru, namun saya proyektor lokalitas. Itu pijakan saya, dan sesungguhnya pijakan kau, Tuan Tampan, juga Nona Cantik. Saya tak menjajakan cinta seperti orang Naples.

Kau tahu, Tuan Tampan, bahwa saya menjujung tinggi Indonesia. Saya tidak kolot, tetapi inilah pijakan saya. Betapa nelangsa ketika kau dan Nona Cantik melempar  pandang nanar.

Jangan kau tiduri kebanggaanku ini, Tuan Tampan. Kemewahan telah membudakkan gairah-gairah kalian. Entah roman cinta atau konflik ideologi kini.

Untuk Nona Cantik, saya menghargai Anda bak emas terkilau. Kilaumu mau redup, lalu kau berhak atas cinta yang masih bernama. Kau mengintip seolah tak tahu saya sadar sedari tadi. Sudah tunaikah yang saya lakukan demi Anda, Nona Cantik?

Kau, Tuan Tampan, mulai berulah, gestur melagukan kegelisahan hatimu. Rasa kelu hilang, lantas kau bertanya, ”Mengapa?”

Tidak, jika ingin menjadi Nawangwulan, saya tak boleh jadi gerimis dan buih. Kahyangan akan membayar lunas seluruh peluh saya, maka saya harus tahan. Akhirnya dengan segenap asa saya melawan kemarau di tenggorokan.

”Pertama, mari kita sambut globalisasi tanpa menghindarinya. Namun, mari kita ubah paradigma tentang lokalitas Indonesia yang adalah pijakan kita bersama.”

Saya menahan napas, lalu berucap lagi. ”Kedua dan terakhir, jika memang saya, kamu, berada di satu pijakan, suatu saat, kita pasti bersama.”

Saya mengulum duka, dan kau Tuan Tampan, pergi namun meninggalkan mata, hati dan telinga.


[1] Tarian tradisional Bali, adaptasi cerita rakyat kuno berjudul Menbukung Panbetung

[2] Sambal khas Maluku

[3] Semacam lilin untuk membatik

[4] Alat untuk membatik

[5] (singkatan) Badan Eksekutif Mahasiswa

[6] (bahasa Arab) membaca

Catatan:

 Cerpen ini dimuat di majalah Story edisi Februari 2014 dengan judul yang sama. Merupakan embrio yang mungkin saja dikembangkan oleh penulis untuk menjadi sebuah novel.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s