Wooing Wu 1

Wooing Wu 1
Marriage Proposal

You kid me?

Wajah Wulandari Baskoro terlihat masam. Dia menatap laki-laki di hadapannya dengan begitu sangsi. Sebenarnya, Wu selalu suka menatap sosok ini. Tapi kali ini…. Wu merasa orang itu—Ibrahim Kamajaya—benar-benar sebuah petaka. Petaka kalau Wu mengiyakan ajakannya.

“Ayolah, Wu… Just for a month. Nggak akan ganggu kehidupan luks lo kok.” Ibra giggling, pamer deretan gigi yang berderet rapi hasil memakai behel selama lima tahun belakangan yang sudah dicopot.

“Nggak. Big no, Ibra. Gue menolak dengan tegas!” seru Wu. Dia menggunakan kedua tangannya membuat huruf X.

Ibra tertawa melihat gestur Wu yang terkesan kekanakkan. Di luar penolakan yang diberikan oleh Wu, sebenarnya Ibra selalu suka melihat Wu yang panik seperti ini.

Sedangkan Wu gregetan dengan Ibra yang dari tadi malah cengengesan, padahal mereka sedang berada dalam keadaan yang bisa Wu tafsirkan seperti sebuah malapetaka.

“Gue tentu nggak akan nolak kalau lo ngajak gue untuk have fun di Maldives. Oh, atau ke Istanbul. Atau seenggaknya, Singapur deh. It’ll be fun. Sweet escape from jerk routines is good. But… married? You scare me, Ibra.”

“Lo kayak nggak kenal gue deh, Wu.” Ibra melipat kedua tangannya, bersandar di tembok. Seolah di hadapannya Wu adalah seorang anak kecil yang sedang ngambek. Dan Ibra adalah orangtua Wu yang terbiasa dengan ambekan itu.

Wu menyeringai. Rasanya Ibra perlu dipentung agar otaknya berjalan normal.

So? Lo diam artinya yes?”

Stop this garbage talk. Gue tahu lo itu Don Juan. Tapi yang jelas gue bukan perempuan yang sering lo tidurin terus bisa diajak nikah tanpa harus mikir panjang. I’m Wulandari Baskoro.”

Bukannya tersinggung, Ibra malah tertawa dan tenang menerima penolakan itu. “We can make it as a good thing, ya know. Setelah nikah, kita bisa honeymoon. Tadi lo bilang mau ke Maldives? It sounds good. Kita bisa ke sana. Bahkan setelah itu kita ke Istanbul dan mengakhirinya dengan shopping di Singapura? Gue nggak keberatan. Kita bisa urus itu, Wu.”

Wu mendengus. Ibrahim Kamajaya ini benar-benar super keterlaluan. Kalau saja Ibra tidak punya wajah yang begitu menggoda dengan campuran komposisi Latin-Arab-Jawa… kalau saja Ibra tidak memiliki tubuh atletis bentukan gym—di mana kalau boleh jujur Wu begitu tergoda melihat itu kalau mereka sparring bareng atau lari pagi ketika car free day, dan memiliki sex appeal yang luar biasa… ouch, no, Wu sama sekali bukan groupies Ibra seperti teman-temannya di kantor yang selalu berbisik iri karena Wu bisa dekat dengan Ibra. Atau begini deh if conditional yang lebih tepat: kalau saja Ibra bukan sahabatnya sejak SMP… mungkin Wu sudah menendangnya betulan tepat di selangkangan agar Ibra bisa berteriak dan menyerah untuk membujuk Wu menikah.

“Udah ah! Gue mau pulang. Tawaran lo itu nggak masuk akal.” Wu langsung buru-buru mengambil tasnya untuk keluar dari restoran.

Sebelum Wu sempat melangkahkan kakinya, Ibra sudah lebih dulu mengamit tangan Wu, mencegah perempuan itu beranjak. Kali ini, nampaknya Ibra memang harus menampilkan sosoknya yang serius.

“Wu, listen. Gue serius untuk ajakan gue ini. Just a month, nggak lebih. Dan justru karena gue tahu lo bukan kayak cewek-cewek itu, makanya gue meminta lo untuk hal ini.” Ibra susah payah menahan senyum yang ingin sekali dilihatkan di hadapan Wu.

“Menikah itu sakral. Dan pikiran lo itu konyol!” tolak Wu. Dengan cepat dia melepas cengkraman Ibra dari tangannya. “Lagian gimana kata orang nanti?”

“Ah, elo… sejak kapan lo musingin kata orang? Nggak Wu banget deh.”

Whatsoever deh ya, Ibrahim Kamajaya. Yang jelas gue menolak. Udah ah, gue masih ada urusan yang lebih penting ketimbang percakapan bodoh ini!” katanya final.

Ibra menghela napas. Melihat Wu yang kekeuh menolak lamarannya, membuatnya cukup jengah. Wajah Ibra yang tadinya ingin senyum melihat reaksi Wu yang menurutnya agak berlebihan, akhirnya mangkel juga. Gengsi juga kali, cowok ditolak begini. Di hadapan publik pula. Yeah, meskipun memang ini bukan “lamaran” dalam arti sebenarnya.

I leave. Anyway, thanks for the treatment.” Setelah mengucapkan itu, Wu langsung melenggang pergi keluar restoran, meninggalkan Ibra yang merasa “kalah” dalam penggalan waktu yang singkat.

***

Kalau boleh jujur, Wu sebenarnya cukup lemas ketika Ibra menanyakan keinginan untuk menikah dengan dirinya. For God’s sake, sejak SMA—bukan sejak SMP saat pertama kali kenal dengan Ibra—sebenarnya Wu memang memiliki perasaan yang aneh dengan Ibra. Something like crush. Tapi, Wu cepat-cepat menyangkal perasaannya itu karena baginya Ibra tipikal laki-laki yang gila petualangan. Lagipula, Ibra memiliki keberuntungan dengan wajahnya yang over-good-looking-and-hot-but-cute-in-the-same-time. Jadi, mungkin saja Wu memang “suka” Ibra karena Ibra punya outer yang oke. Cewek sinting mana yang tidak akan melted kalau berjalan bersama Ibra? Dan hal itu yang membuat Ibra keranjingan mengoleksi perempuan-perempuan cantik dari berbagai kalangan. Sialnya, selain beruntung dengan tampilan luar, Ibra juga punya tempelan yang membuat wanita makin bertekuk-lutut: uang.

“Dan gue jadi istrinya selama sebulan? Baru nikah juga bakalan meninggal dalam satu menit!” seru Wu dalam hati. Bagaimana tidak, fans Ibra banyak sekali. Bisa langsung berubah jadi fried-woman nanti setelah pernikahan itu terjadi.

Meski memang tawaran untuk ke Maldives, Istanbul, dan Singapura itu nyaris buat Wu goyah. Tapi yang benar saja, menikah sebulan lalu… bercerai setelahnya. Totally nightmare untuk gadis baik-baik macam Wu. Have fun lantas jadi janda di umurnya yang masih quarter life? It’s a big no!

Tiba-tiba saja terdengar suara berisik yang dihasilkan dari gesekan suara heels dan lantai marmer yang kian lama kian gaduh. Dan itu membuyarkan lamunan Wu.

“Iya deh, gue panggil elo Wulandari aja. Anyway, dari tadi gue perhatiin, kerjaan lo cuma bengooooong aja. Ada apa sih?” Perempuan berkulit pucat dengan gaya busana chic masuk ke dalam ruang kerja Wu. “Kerjaan lo belum beres buat meeting nanti? Gue ngeliatin lo dari luar,” tambahnya. Memang, ruang kerja Wu berdindingkan kaca tembus pandang dan tidak tertutup oleh gorden—itu artinya Wu sedang tidak sibuk.

Stop calling me Wul dong, Jeng Stella. Nggak oke banget didengar,” kata Wu. “Lagian buat meeting ntar udah siap semua dokumennya.Lo tumben banget jam istirahat gini nggak langsung makan siang?”

“Justru gue ke sini mau ngajakin elo lunch. Abis tumben nggak ngeloyor ke meja gue kayak biasanya!” seru Stella dengan dramanya yang berlebihan. “Abis kan paling asyik ngerumpiin anak divisi sebelah kalau bareng lo. Masa gue bareng Mbak Lulu yang udah cocok gue panggil Nanny?”

Wu tergelak membayangkan Mbak Lulu yang memang sudah cukup berumur. Stella ini memang selalu membuatnya tertawa dari awal berada di kantor. Sifatnya memang drama queen, suka sekali menjadi pusat atensi orang dengan suaranya yang ceriwis dan cempreng. Untungnya, Stella memiliki wajah cantik dan memiliki keterampilan ber-make up yang cukup baik sehingga tidak pernah terkesan annoying bagi orang lain. Mereka berdua langsung klop karena kesamaan mereka dengan fashionable things membuat mereka kompak. Seperti dua sahabat yang bertemu setelah sekian lama padahal mereka benar-benar baru saling mengenal saat itu.

“Ah elo malah ketawa! Yuk ah! Anak-anak humas pada makan di buffet. Bosnya nraktir, dan kita kebagian jatah juga. Lumayan banget!” Tanpa kesepakatan, Stella langsung mengamit Wu untuk lekas makan siang.

Mereka berdua pun bergegas turun ke bawah, lalu menuju buffet yang ada di mall dekat kantor. Kawasan kantor mereka memang cukup strategis karena hanya perlu berjalan kaki saja untuk ke mall—jadi mudah untuk cari makan siang. Tapi jadi petaka ketika hendak pulang kantor. Jakarta tanpa macet apa masih bisa disebut Jakarta?

“Kemarin abis pulang ngantor lo ngomongin apa saja sama Ibra?” selidik Stella.

Wu merutuk pada dirinya. Salahnya sendiri kemarin bercerita pada Stella bahwa dia dan Ibra mau dinner bareng. Meski Wu selalu bilang kalau urusannya dengan Ibra ujung-ujungnya adalah curhat. Tapi Wu tidak bisa menyalahkan Stella. Toh memang tiap perempuan yang dia kenal, pasti ingin tahu berita ter-update tentang Ibra.

“Malah bengong. Hello…” Stella menggerak-gerakkan kedua tangannya di hadapan wajah Wu. “Gue nanya serius nih…”

“Lo ngapain nanyain Ibra? Lagian nggak mungkin lo sekarang lagi single karena tiba-tiba diputusin sama Jo, kan, Stell?”

“Ih, elo! Kok nyumpahin gue jadi jomblo?!” seru Stella sewot. “Gue cuma nanyain Ibra doang, apa salahnya? Kali aja ada gosip paling hot. Misalnya Ibra jadian sama Shannaz—penyanyi dangdut yang seksi itu. Nah berita semacam itu deh.”

“Bahkan lebih ngaco dari itu,” gumam Wu diakhiri dengan dengusan.

Stella melirik Wu penasaran. Bahkan dirinya berhenti jalan dan mencegat Wu agar ikut berhenti. “Apa? Apa? Akhirnya petulangannya akan berakhir? Atau… is he going married? Udah mau kepala tiga kan tuh si Ibra!”

Wu tercekat mendengar pertanyaan Stella. Sekali lagi, Wu merasa dirinya bodoh karena keceplosan. “Nanti gue ceritain pas makan deh.”

Mereka berdua pun lanjut berjalan ke luar kantor dan disapa oleh teriknya matahari.

Damn, gue rasa sunblock bakalan laku keras di Indonesia kalau mataharinya kayak begini terus!” gerutu Stella.

Sunblock emang laku, tahu. Sejak perawatan kulit udah cukup bias konotasinya. Sekarang kan cowok juga banyak yang merhatiin penampilan. Si Ibra salah satunya,” celoteh Wu, ingat sekali bahwa perlengkapan perawatan kulit Ibra lebih lengkap daripada miliknya.

“Asal jangan sampai deh si Ibra ini “belok”, kasian groupies-nya. Bisa bunuh diri!” Stella terkikik geli, membuat Wu juga ikutan tertawa ketika membayangkannya.

Smartphone Wu tiba-tiba bersiul dengan ringtone lagu klasik.

Wu mengambil ponselnya itu lalu dilihat siapa yang meneleponnya.

Ibra? Panjang umur!

“Siang, Nyonya Kamajaya!” sapa Ibra.

“Siang, Ib.” Wu menahan keinginannya untuk menyemprot Ibra yang seenaknya memanggil dirinya demikian. Sementara Stella meski ikut sibuk memainkan jempolnya di smartphone miliknya juga, tetap pasang kuping setelah Wu mengucapkan kata ‘Ib’.

Lunch di mana?” todong Ibra.

The Buffet. Kenapa tiba-tiba lo peduli gue makan di mana?” Wu bingung.

“Gue mau bicara sama lo. Urgent.”

Urgent buat lo tapi semacam garbage di otak gue kayak kemarin? Atau jangan-jangan lo mau kita melanjutkan percakapan bodoh itu?”

We’ll see. Sepuluh menit lagi gue bakalan ada di sana.”

“Lo mau nga—” Belum sempat Wu bertanya, Ibra sudah mematikan teleponnya. “Dasar, ini anak mau berulah apa lagi sih? Semalam nggak kapok ya?!”

“Si Ibra mau nyusul ke sini?” todong Stella penasaran.

Wu tidak menjawab. Hanya memasang wajah malas agar Stella lekas diam dan siap mendengar ceritanya nanti ketika makan.

***

“Dia ngajakin lo married?!” Stella memekik heboh ketika Wu bercerita soal kejadian tadi malam.

“Sssst!” Wu panik, diliriknya kanan-kiri. Untung saja teman-teman kantornya sibuk dengan makanan yang sudah dipilih.

Please say yes to him! Tapi kalau lo berani tanggung akibatnya sih…” Stella tertawa. “Lo nggak boleh ke toilet kalau ada pesta—untuk menghindari catfight lo dan para groupies atau mantannya. Lo harus bilang ke Ibra dia menjamin uang bodyguard selama lo shopping bareng gue karena bisa aja ketemu cewek-cewek yang bisa berubah jadi Medusa kalau lihat lo karena iri. Lo juga harus memaksimalkan perawatan lo dari ujung kaki sampai ujung kepala biar orang-orang nggak skeptis ngelihat istri seorang Ibrahim Kamajaya!”

Wu menatap Stella tajam. “Yang lo omongin tuh ya, seakan gue akan benar-benar jadi Wulandari Kamajaya.”

“Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin.”

Wu menekuk wajahnya. Bercerita dengan Stella memang salah besar. Apalagi Wu tidak tahu apakah Stella mau menutup mulutnya atau tidak. Perempuan yang memiliki kulit sawo matang itu pun mulai berstrategi bagaimana caranya agar Stella tidak bergosip soal ini pada teman-teman kantornya.

Tapi rasanya hal itu tidak perlu. Karena dengan santai seorang laki-laki berjalan ke arahnya dengan senyum yang memikat dan dengan aktivitas simpel—berjalan dan tersenyum, beberapa perempuan di sana memberikan atensi yang cukup luar biasa padanya. Mereka penasaran hendak apa seorang pria dengan fisik yang sempurna itu di sini?

“Akhirnya gue menemukan lo juga, Wulan.” Ibra mengatakan itu dengan suara yang dilantangkan. Sengaja untuk mengambil perhatian orang-orang di The Buffet.

Wu dari tadi hanya bisa terbengong-bengong. Sementara Stella di sebelahnya begitu menikmati adegan ini. Perempuan drama queen itu yakin bahwa sebentar lagi akan ada aksi menarik di hadapannya.

Ibra memandang sekitar, mengira-ngira seberapa besar kharisma miliknya dapat berpengaruh. Ketika merasa sudah cukup percaya diri, dia melanjutkan berkata. “Maaf kalau gue ngeganggu waktu makan dan santai kalian.” Ibra berdeham. “Tapi di sini gue sangat memohon sama kalian agar kalian bisa jadi saksi bahwa hari ini gue mau melamar seseorang. Dan orang itu ada di hadapan gue sekarang.”

Seketika restoran The Buffet langsung riuh. Meski beberapa ada yang acuh dan merasa aksi sinetron ini sama sekali tidak penting karena kebanyakan memang orang kantoran—yang mungkin saja akan ada meeting penting setelah lunch, mayoritas langsung heboh ketika mendengar kata “lamaran” dari Ibra.

Bahkan Wu bisa mendengar celotehan di meja sebelahnya, “Kalau gue jadi cewek itu, please deh… gue nggak usah sok jual mahal. Langsung aja bilang iya! Baru liat aja gue udah pengin digendong-gendong ama tuh cowok!”

Dasar cewek mesum. Memangnya semudah itu?! batin Wu kenes.

“Jadi…” Ibra meneruskan perkataannya. “Apakah kamu, Wulandari Baskoro… ingin menjadi perempuan milikku?” Ibra lanjut berlutut di samping kiri Wu. Dan mau tak mau, Wu berdiri karena dorongan para penonton dadakan di restoran tersebut.

Say yes say yes say yes,” bisik Stella pada Wu. Matanya berbinar. Wu sendiri heran kenapa Stella yang jadi excited dengan tindakan konyol Ibra. Kalau saja Stella tahu motif di balik lamaran pernikahan ini yang belum sempat diceritakannya dan bisa mengubah titel Wu jadi “janda kembang” setelah sebulan mengiyakan ajakan ini.

Kenapa Ibra ngelakuin hal stupid macam begini sih?! Kemarin kan gue udah bilang kalau gue menolak! Wu benar-benar gemas ingin menyembur Ibra dengan kalimat itu. Tapi di area publik, di antara teman-teman kantor dan orang yang tidak dikenalnya… Come on, ini jadi lebih sulit daripada apa yang dibayangkan Wu sebelumnya.

Jauh di lubuk hatinya, Wu tahu bahwa ini yang selalu diimpikannya sejak menonton film-film romance. Aksi bodoh tapi cute dari calon suaminya tatkala melamar dirinya. Tapi… dengan Ibra… adalah pengecualian.

Tiba-tiba saja Wu limbung. Kepalanya terasa begitu nyeri, ditambah dengan sorak-sorai yang tiba-tiba berdengung. Holy shit, dia baru ingat kalau belum sarapan. Dan dari tadi Stella sibuk merecokinya dengan cerita soal Ibra.

Dan ketika semuanya sudah menggelap, Wu hanya bisa merasakan sebuah peluk yang begitu nyaman dan aroma musk yang begitu menenangkan.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

2 thoughts on “Wooing Wu 1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s