Senyum Tanpa Sekat (Catatan Kuliah bagian 1)

Berbekal pengetahuan dari SMA, saya tidak berekspektasi apa pun bagaimana nantinya saya kuliah. Bagaimana orang-orang di sana. Konon, menurut pengalaman dari Kakak dan Mas saya, dunia perkuliahan lebih individualias. Katanya, masa SMP dan SMA lebih menyenangkan. Ketika maklumat mengenai penerimaan saya di FISIP UI setelah penantian satu tahun tidak melakukan apa-apa, saya pun tidak berekspektasi apa-apa. Saya hanya berniat kuliah, lulus, dan bekerja.

Tapi mungkin manusia hanya mampu menduga. Saya pun begitu. Ternyata di jurusan saya, juga organisasi yang saya ikuti, pun dengan beasiswa yang saya dapat… saya bertemu orang-orang luar biasa. Tidak. Jangan artikan luar biasa dalam arti mereka orang dengan segala macam kelebihan. Eh. Tapi rasanya memang seperti itu definisinya. Mereka adalah orang-orang hebat dengan hati bermental baja yang bahkan tidak melihatmu dari segi luar. Meski alih-alih ada juga orang yang melihatmu dari tampilan luar.

Pertama, merasa kerasan. Iya. Saya kerasan di semester pertama. Meski tidak tahu siapa teman siapa lawan siapa musuh siapa orang yang nantinya akan jadi backstabber, saya nyaman. Atmosfer perkuliahan tercipta menyenangkan. Dengan beberapa orang yang memiliki frekuensi yang lebih banyak bertatap-muka dengan saya. Orang-orang yang kalau ada tugas, dikerjakan berbarengan. Dari spot MBRC, sampai kost teman. Alih-alih, di sana muncul sekelumit harap. Bahwa ada keinginan untuk mencoba dekat dengan mereka. Tapi tentunya saya waktu itu begitu sadar diri. Siapa saya? Cuma mahasiswa dari Slipi yang pulang-pergi dengan uang saku seadanya. Hahaha.

Lalu tatkala liburan semester pertama, ada tercetus ide untuk backpacker dari seseorang. Saya cukup antusias. Karena saya mungkin tidak pernah melakukan hal macam ini dengan orang yang rasanya menerima saya—meski saya tidak tahu bagaimana persepsi mereka tentang saya. Dan liburan itu menyenangkan. Dan sekelumit harap itu membesar, saya menginginkan sebuah penerimaan dari mereka. Meski… ya… sekali lagi. Saya tahu dan harus sadar diri. Tahan. Jangan terbuai oleh suatu hal yang tidak terukur dan tidak dapat dijadikan jaminan. Jadi saya hanya mengikuti arus; tidak berusaha menyangkal kalau saya memiliki harap pada mereka, juga tidak memaksa mereka untuk menerima saya.

Dan yang jelas, dari liburan itu ada sebuah rekat tak kasat mata yang mulai terhubung. Mungkin benar kata beberapa orang. Kita akan tahu sifat seseorang ketika kita berada di satu atap dengan mereka.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s