Teruntuk Lan… (Surat Pertama)

Selamat malam, Lan.

Mungkin ini bukan pertama kalinya aku menulis surat, mengkristalkan pikiranku lewat aksara, bukannya menemuimu dan berdeklarasi langsung. Tapi kau tentu tahu, aku tidak pandai memverbalkan apa yang kurasakan lewat tindakan.

Masihkah kau suka akan pendar bintang yang nyalang tatkala malam begitu cerah? Ah, bodohnya aku menanyakan hal itu kepadamu. Kebiasaan itu tidak akan berubah, bukan? Apa kau masih ingat bahwa aku kerap memergokimu bermonolog, lalu kau bilang kau sedang berbicara dengan bintang yang paling bersinar?

Dan saat-saat itulah yang kurindukan, Lan. Saat frekuensi pertemuan kita masih sering. Tatkala melihat senyummu adalah sesuatu yang tak langka. Waktu lampau yang begitu candu, bahkan sampai sekarang, di mana melihat bayangmu tak lagi ada.

Kata orang, I have to move on.

Tapi bagaimana aku bisa bergerak sementara imajinasi tentangmu lekat mengikat kedua kakiku sehingga aku tak bisa lagi melangkah?

Bahkan aku sama sekali tidak pernah sadar saat benakku mulai kausinggahi. Bahwa eksistensimu membuat semua ragaku kaku tak dapat bergerak. Jadi mana mungkin kalau aku bisa move on? Dan mungkin, kau tak pernah sadar, ya, Lan? Kau tak pernah tahu bahwa kau selalu memesona. Pesona mematikan yang selalu membuatku bisu. Membuat lidahku kelu padahal seharusnya aku adalah laki-laki cerewet yang mudah bermain dengan kata-kata.

Lucu, ya. Maksudku, perasaan itu begitu lucu. Apakah kau tak pernah merasa seperti itu, Lan?

Tidak. Jangan tergelak saat kau membaca surat pengakuan ini.

Baiklah, aku akan mengaku bahwa aku seringkali berkata-kata, memikirkan kata-kata manis, menjadikan dirimu sebagai tokoh utama. Sebagai salah satu karakter wanita paling ideal. Tapi mungkin sebenarnya aku tak pernah menjadi tokoh yang selalu kauinginkan di kehidupanmu.

Bolehlah kaukatakan aku ini menyedihkan.

Tapi, kalaupun dengan menjadi menyedihkan begini membuat secuil atensimu tertuju kepadaku, aku rela.

Ah, sudahlah. Aku terlalu melantur ke mana-mana. Kuharap kau tetap membaca surat-suratku nantinya. Mungkin surat pertama ini aku terkesan memujamu. Dan di lain kesempatan, di surat selanjutnya, aku akan mengisahkan bagaimana caranya kau mengusik kalbuku, Lan.

Semoga kau tidak gumoh saat membaca ini.

Salam hangat,

Tsaki.

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s