Kenalin, “Kata Kota Kita”

Whazzup?

Rasanya udah lama nggak bercerita ngalor-ngidul di blog pribadi kesayangan ini. Tampaknya saya harus bebersih. Mungkin nanti (nanti aja terus, tapi nggak pernah diliat), hehe.

So, kali ini gue bakal ceritain soal buku kumpulan cerpen “Kata Kota Kita”, antalogi di mana gue menyumbang satu cerpen di sana. And as always, gue pake nama pena kesayangan gue yaitu Tsaki Daruchi.

Sebenernya, proyek keroyokan ini udah dikasih dari tahun lalu, setelah kami menyelesaikan novel estafet Gramedia Writing Project. Tapi, di sini semua finalis disuruh buat cerpen, termasuk gue.

Gue pun dengan semangat menulis cerpen yang harus berlatarkan kota.

Awalnya, gue memilih Mojokerto dengan gaya menulis gue seperti biasa. Genre-nya pun bisa dibilang young adult yang ngepop. Dan entah kenapa akhirnya gue tertarik untuk bereksperimen dengan mengambil setting tempat Ankara, Turki.

Kenapa Ankara? Entahlah, ide ini tercetus begitu aja, Randomly cuma karena gue abis ngobrol sama Erdem Agabey yang orang Turki, gue pinjem nama dia buat di cerpen ini. Dan gue pun mencoba bereksperimen?

Kenapa bereksperimen?

Karena gue nggak memakai gaya bahasa menulis gue di sini. Yeah, yeah. Kalau kalian baca Wattpad atau blog gue, gue emang ngepop. Dan di sini, gue nggak ngepop. Nggak bisa dibilang sastra juga karena sebenarnya gue agak baku berceritanya. Mungkin karena latar luar negeri kali ya?

Dan beberapa minggu yang lalu, Kumcer ini pun di-launching di Gramedia Central Park.

Dan sampai sekarang, gue masih suka bacain review dari pembaca cerpen ini. Alhamdulillah sih banyak yang suka sama cerpen gue. At least, eksperimen gue nggak jelek-jelek amat. Soalnya pas gue baca lagi… cerpen gue kok rasanya paling jelek di antara yang lain… *tutup muka karena malu*

Apalagi kalau disandingin sama cerpennya Idawati Zhang (my fav short story, meskipun gue nggak dapet setting yang cetar, tapi karena jalinan ceritanya begitu kuat), Emilya Kusnaidi (love her writing style!), Lily Marlyna (jeez, pilihan katanya keren banget di kumcer ini), juga yang lainnya.

Nggak apa-apalah ya. Belajar.

Omong-omong, nulis cerpen “Ankara di Bawah Purnama” itu sampai revisi tiga kali lho! Jadi, editor novel Hujan Daun-Daun kan Mbak Nina, maka dari itu gue kirim ke Mbak Nina. Dan Mbak Nina syok dengan cerita gue yang nggak ada remaja-remajanya sama sekali. Maaf ya, Mbak Nina… padahal keterima di GWP karena genre remaja… Akhirnya, Mbak Nina setor ke Ci Hetih Rusli. And then, dieditlah cerpen gue sama beliau. Bahkan untuk revisi pertama, nyaris ada dua halaman catatan dari Ci Hetih dan Mbak Nina. Emagod. Tapi nggak apa-apa. Proses. Dan gue suka belajar! Lalu direvisi lagi, dan akhirnya revisi terakhir cuma diminta nambahin satu paragraf.

Well, tapi yang harus gue ingat adalah emang nggak semua penulis yang bisa memenuhi semua keinginan pembaca. Gue baca ada yang suka cerpen gue, ada yang bilang mindblowing segala, ada yang bilang my choice of words make her stupid af, suka pengibaratan yang gue pake, dan lain sebagainya. Anyway, lo bisa liat review Kata Kota Kita di https://www.goodreads.com/book/show/25189240-kata-kota-kita!

Tapi tetap senang mengisahkan cerita ini. Karena bagaimanapun juga, gue ngasih sebuah “pesan” yang moga-moga aja bisa diterima. Yeah, meskipun adegan pertama cerpen gue diawali oleh adegan ranjang! Hehehe.

Omong-omong soal novel…

Mana novel solo gue? Mana? Kapan selesainya? Bahkan sekarang udah ada GWP batch 2!!!

Kalau kata Ci Hetih, gue ini banyak maunya. Kebanyakan ide dan akhirnya nggak nulis. Iya, sih. Bener banget. Hiks. You can check my writings here: https://gwp.co.id/author/TsakiDaruchi or https://tsakidaruchi.blogspot.com!

Lagi mau remake naskah Wooing Wu sebenarnya. Tapi ya gitu deh, gue sok sibuk. Hahaha.

Terus lucunya, Putra Zaman, my partner in writing, lagi main ke Jakarta, dan mampir ke kantor GPU. Terus tiba-tiba nongol-lah para editor cantik: Ci Hetih, Mbak Nina, Kak Asty, dan Mbak Didiet. Dan sampai pada kesimpulan… kami—gue dan Putra—harus nulis bareng biar nggak malas. Mereka mau buatin plot buat kami dan lalala, lahirlah proyek menulis agar kami menulis estafet berdua. Tapi meskipun begitu, gue bakal tetap berusaha nulis novel lagi ah! Hahaha…

Udah ah curhatnya. Bye!

Published by

Tsaki Daruchi

I love reading.

6 thoughts on “Kenalin, “Kata Kota Kita””

  1. Aku ngga sadar perbedaan klo km bereksperimen sama cerpen kamu di Kota Kata Kita sih *secara belum baca karya2 Utha yang lain
    Eniwei, setuju, itu cerpen Lily Marlina bagus. Paling intens menurutku.

    *liat postingan ini jadi inget klo blum bayar utang review padahal udah dibuntelin bukunya
    hahaha
    peace ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s