Hujan Daun-Daun (Gramedia Pustaka Utama)

10001226_10152259125273057_639966420_o111

Akhir-akhir ini, tidur Tania nyaris tak pernah nyenyak. Malam-malamnya diisi mimpi yang sama, tentang gadis kecil berbaju biru, pohon besar yang kokoh, dan dedaunan yang berguguran. Dan seiring ulang tahunnya yang semakin dekat, mimpi itu semakin sering mengganggu.

Di satu sisi, ia bersemangat menyambut ulang tahun yang hanya bisa dirayakannya empat tahun sekali, tepat pada tanggal 29 Februari. Tapi di sisi lain, mimpi itu juga membuat Tania waswas karena peristiwa besar yang mengejutkan terjadi tiap kali ulang tahunnya dirayakan.

Jadi, tahun ini diam-diam ia bersiap. Apalagi ketika satu per satu rahasia masa lalunya mulai terungkap. Tania harus mencari tahu, apakah mimpi-mimpi itu sekadar bunga tidur ataukah ada arti lain di baliknya?

***

Review Hujan Daun-Daun [1]

Sepintas, Tania tampak seperti remaja cewek kebanyakan. Tidak menonjol, joblo, dan punya penyakit mag yang sering kambuh tiap telat makan. Hanya beberapa orang yang betul-betul mengenal dirinya. Kakek Susilo dan Nenek Arini yang mengasuhnya sejak kecil, dan Stella, sahabatnya di kampus.
Tania lahir pada tanggal yang membuatnya jarang memperingati ulang tahunnya sendiri: 29 Februari. Cewek ini mencintai seni lukis, namun entah mengapa kakeknya tidak menyukai hal itu. Demi sang kakek pula, Tania memilih untuk kuliah di jurusan Administrasi Niaga yang tidak diminatinya. Meski begitu, Tania masih suka menggambar sketsa dan mengunjungi galeri seni, sekedar untuk menyalurkan hobi.
Tidak ada yang diingat Tania tentang ayah dan ibunya, kecuali cerita sepotong-sepotong dari Kakek dan Nenek, bahwa kedua orangtuanya sudah lama meninggal. Itu pun kalau Tania bertanya. Mereka lebih suka tidak membahasnya. Mungkin itu untuk kebaikan Tania sendiri, agar tidak jadi sedih karena mengenang orang-orang yang tak akan kembali lagi.

Tania berusaha mengingat semua hal yang pernah ia alami dengan orangtuanya. Tapi makin ia berusaha mengingat, makin kosong imaji yang hadir. Hanya layar hitam yang muncul di otaknya.

Satu-satunya benda pengobat rindunya pada Ayah dan Ibu hanya selembar foto berpigura.

“Lo pernah kangen sama orang yang lo bahkan nggak inget pernah ketemu? Itu yang gue rasain setiap kali lihat foto ortu gue.”
Di awal, alur saya rasakan berjalan lambat, seputar kehidupan sehari-hari Tania. Cerita mulai seru ketika Stella memaksa Tania ikut dalam sebuah double date, dan memperkenalkan Tania pada Adrian. Adrian ternyata tidak sesombong dan sedingin dugaan Tania. Begitu tahu Adrian lahir di hari yang sama dengan dirinya, cuma beda tahun saja, Tania tak butuh waktu lama untuk merasa klik dengannya.
Saya suka dialog awal mereka di sini. Walau masih saling grogi, tapi obrolannya tetap smart.
“Tanggal lahir kita sama. Jarang lho orang yang ngerayain ulang tahunnya empat tahun sekali.”
 
“Hmmm… kemungkinannya sekitar 1 dari 1.461 kelahiran sih.”
 
“Hah?”
 
Adrian tertawa. “Sori… biasa deh, anak Fasilkom. Gue pernah sengaja bikin program buat ngitung probabilitasnya. Mudah-mudahan nggak salah.”
 
“Oke… Kalau orang yang sama-sama lahir di tahun kabisat dan duduk di satu meja buat makan malem bareng? Probabilitasnya berapa?”
Tania sering bermimpi aneh saat tidurnya. Dalam mimpi-mimpi itu, Tania kembali ke masa kecilnya, mengenakan gaun dengan warna kesukaannya. Dia selalu berada di tempat yang sama, di antara pepohonan rindang dan daun-daun yang berguguran. Di sana ada seorang gadis kecil bergaun biru yang misterius.
Orang bilang, mimpi itu cuma mimpi. Sekadar gelombang listrik dalam otak saat kita berada di alam bawah sadar. Tapi, kenapa datang berulang-ulang? Tania mulai curiga, mimpi itu adalah penglihatan yang berkaitan dengan peristiwa nyata. Apalagi setelah seorang perempuan bernama Meilia datang mencarinya, dan mengaku menyimpan rahasia besar tentang keluarga Tania. Meilia bahkan memberikan sebuah benda milik ayah Tania: lukisan yang akan menjadi salah satu kunci rahasia tentang orangtua Tania.
Dari sini, konflik cerita semakin intens, bikin saya terharu sekaligus penasaran. Ternyata pernikahan kedua orangtua Tania tidak seindah yang dibayangkannya. Ternyata perempuan itu adalah orang yang punya andil dalam tercerai-berainya keluarga mereka. Ternyata kenyataan yang sesungguhnya jauh berbeda, jauh lebih tragis dari apa yang selama ini Kakek dan Nenek ceritakan padanya.
Tokoh favorit saya dalam kisah ini adalah Tania. Di balik penampilan luar yang biasa-biasa saja, Tania ternyata lebih kuat dari yang saya kira. Saya suka aja melihat bagaimana kesedihan dan kepahitan tidak meruntuhkan dirinya, tapi justru membuatnya bertransformasi, dari gadis yang penurut, pasrah, menjadi gadis yang lebih kritis dan berani berpetualang untuk mengungkap kebenaran.
Pelajaran lain yang saya dapat dan harus selalu saya ingat kalau kelak punya anak: orangtua tidak selalu benar. Ada kalanya orangtua salah mengambil keputusan.

Ia dan istrinya merahasiakan masa lalu demi kebaikan sang cucu, tapi mungkin, mungkin saja pertimbangan mereka selama ini keliru. Mereka berusaha melindungi Tania dari masa lalu, tapi akhirnya masa lalu berhasil mengejar mereka.

Satu lagi yang saya suka dari Hujan Daun-Daun adalah keseluruhan cerita yang menyatu meski ditulis oleh tiga orang yang berbeda. Tidak ada detail yang terlupa, atau gaya bertutur yang tiba-tiba berubah lantaran ditulis oleh orang berbeda. Rasanya utuh dari awal sampai akhir, seolah-olah ini karya satu orang saja. Salut untuk trio Lidya Reni, Tsaki Daruchi dan Putra Zaman atas kerjasamanya yang kompak.

***
re_banner_page_picture_23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s